Memoar

Mengorganisir Ide dan Manusia: Memoar Kepala sekolah cum Penulis

Oleh Arif Yudistira

Bagiku, tidak ada karir tertinggi sebagai manusia selain mati. Apa yang kita usahakan sebanyak mungkin pada akhirnya akan bermuara pada mati. Saya tercengang dan begitu tersentuh saat membaca renungan yang dikemas dalam novel Mati Bertahun Yang Lalu. Tak ada yang lebih sia-sia dari upaya apapun manusia saat mereka tiba pada satu perhentian yang misterius: mati.

Pencapaian kita, sekecil apapun amatlah berharga. Dalam karir kita sebagai manusia menuju ketiadaan, apa yang telah kita usahakan, apa yang telah kita upayakan sekecil apa pun layak mendapat tempat. Menulis memoar menjadi jalan untuk kita mencatat, mengekalkan pencapaian kita yang kecil itu.

Mewisuda Siswa pertama kali di tahun 2019

Dari menulis itulah, kita jadi tahu betapa berat upaya yang sudah kita lakukan. Betapa berat langkah yang kita usahakan. Hidup betapapun singkatnya layak mendapatkan tempat. Dengan menuliskannya, kita berharap ada upaya merawat dari yang sudah lewat. Ada upaya untuk mengingat, dari peristiwa yang telah kita catat.

Merenungkan tentang mati dan pencapaian hidup saya jadi ingat peristiwa yang tidak bisa saya lupakan dalam hidup saya. Waktu itu, di tahun 2019 tepatnya di bulan Mei saya diangkat menjadi Kepala sekolah di sebuah SMK Kesehatan ternama di Sukoharjo kala itu. Waktu itu, usia saya sudah mencapai 31 tahun. Karir menjadi Kepala sekolah di usia 31 tahun dianggap sebagai karir yang terlampau cepat.

Sebelum menjadi Kepala sekolah di SMK Citra Medika Sukoharjo, saya menjadi pendidik di MI Muhammadiyah Program Khusus Kartasura. Setelah lulus, saya bersyukur langsung mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang tidak pernah saya cita-citakan sebelumnya yaitu menjadi guru. Saya mengajar di madrasah yang memiliki kekhasan yakni menggunakan metode “Multiple Intellegence”. Sekolah dengan karakter khusus, menggunakan metode/model sekolah berbasis kecerdasan jamak. Dengan menggunakan brand “Multiple Intellegence” itulah, banyak wali murid tertarik menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut.

Menerima tumpeng dalam acara Ulang tahun sekolah 2019

Saya mengajar di MIM PK Kartasura selama lima tahun, sebelum berpindah menjadi Kepala Sekolah SMK Citra Medika Sukoharjo. Selama di MIM PK Kartasura itulah saya mampu menuangkan dan berkarya bersama rekan sekaligus kepala sekolah saya Ustaz Nasrul Harahab. Bersama kepala sekolah yang humble, dan energik itulah saya belajar banyak hal. Banyak peristiwa yang kami alami bersama saat bekerja sebagai guru di MIM PK Kartasura. Pengalaman itulah yang menjadikan saya dianggap memiliki kemampuan cukup sehingga saya dipercaya menjadi Wakil Kepala Bidang Humas kala itu. Bekal dan pengalaman saya di MIM PK Kartasura itulah yang cukup menjadi modal saya menjadi Kepala Sekolah SMK Citra Medika Sukoharjo meski berbeda jenjang.

Menjadi pendidik awalnya bukanlah cita-cita saya. Mulanya, saya ingin sekali menjadi wartawan. Menjadi wartawan itu penuh tantangan, menemukan sesuatu yang baru dan juga bertemu tempat dan peristiwa yang beraneka rupa. Banyak pelajaran yang bisa didapat ketika menjadi wartawan. Aku mengutarakan keinginanku kepada ibuku bahwa aku ingin jadi pewarta berita, aku ingin menjadi jurnalis. Cita-citaku ini kusampaikan kepada ibu sesaat setelah lulus dari Universitas Muhammadiyah Surakarta. Setelah lulus, aku memang fokus di rumah, ingin bersama orangtua, menikmati hari-hari bekerja dan membantu orangtua. Aku sebenarnya tertarik belajar bagaimana bertani. Kelak pengalaman ini akan berguna bagiku suatu waktu setelah diberi amanah mengurusi sawah. Tapi pemikiranku dianggap keliru, ayah maupun ibuku berkeinginan aku menjadi guru.

Mereka ingin ilmu yang aku dapat saat kuliah di jurusan Bahasa Inggris berguna. Ilmu itu kelak jadi ilmu bermanfat yang membawa pada kebahagiaan dan modal hidupku.

Berfoto-bersama-saat-lomba-PERSEMKI-Sekolah-kami-mendapatkan-juara-dalam-kompetisi-SMK-Kesehatan-Se-Indonesia-2019.

Waktu itu, dan selama hampir 6 tahun lebih, aku hampir tak pernah menggunakan ilmu Bahasa inggris untuk membuka les-lesan atau privat untuk mendidik anak sekaligus usaha mencukupi kebutuhan. Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk seminar, perkumpulan kecil, diskusi sastra, atau membaca dan berburu buku bekas. Motivasi berbagi ilmu karena uang menjadi salah satu yang kuhindari kala itu. Sok Idealis mungkin begitu. Kini baru kusadar, hidup tidaklah seidealis dan seindah yang kita bayangkan. Hidup tak selalu seperti yang kita impikan, lurus-lurus saja.

Menjadi Guru

Keinginanku menjadi jurnalis bermula saat menjadi mahasiswa di Universitas Muhamadiyah Surakarta, saat itu aku aktif di lembaga pers mahasiswa. Di lembaga pers mahasiswa itulah aku mendapati kesempatan mengikuti workshop jurnalistik dengan harian Media Indonesia. Saat itu, jajaran redaksi dan juga tim Media Indonesia memberi workshop dan memberikan tugas kepada LPM yang berhasil menyajikan liputan sederhana tentang cerita pers dan sejarah persnya akan dimuat di halaman Media Indonesia satu halaman penuh.

Tak dinyana tak disangka, tulisan beserta liputan sederhanaku dimuat di koran Media Indonesia. Saat itu koran ini sudah memiliki oplah nasional. Saya senang sekali, satu halaman penuh berisi liputan saya dan teman-teman LPM. Namaku tertulis di koran itu. Saya gak pernah membayangkan itu terjadi. Dan saat itu terjadi, diam-diam dalam hatiku terpatri keinginan kuat untuk menjadi jurnalis.

Menjadi jurnalis itu menjadi penulis juga. Dengan menulis, menyuguhkan sesuatu yang berbeda ke pembaca, memberi wawasan baru, dan menginspirasi banyak orang. Sungguh betapa membahagiakannya menjadi seorang jurnalis dalam bayangan anak muda yang sedang menggebu-gebu kala itu.

Saat-melantik-Taruna-Sekolah-di-tahun-2019.

Diam-diam aku pun memupuk cita-citaku itu dengan terus belajar menulis dan mengirimkan tulisan ke kolom di koran-koran. Aku tidak berhenti juga membaca koran gratis yang disediakan oleh kampus di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kala itu. Mendapat koran gratis bagiku waktu itu adalah keberkahan tersendiri. Mengamati isu yang berkembang terkini, mengikuti roda zaman dan juga dinamika peristiwa politik, ekonomi dan pendidikan dan isu lainnya. Gratis itu yang penting. Bayangkan langganan tiga koran sekaligus bagi saya mahasiswa kere saat itu tentu amat berat.

Dulu, aku suka membaca Koran tempo, Kompas dan juga Republika. Membanding-bandingkan mengapa tiga koran itu mengangkat satu angle berbeda di tiap harinya adalah sesuatu yang seru. Mengapa headlinenya beda, judul beritanya beda, sudut pandangnya berbeda dan lain sebagainya.

Singkat cerita, setelah lulus dari kuliah, rasanya ada sesuatu yang hilang. Kebiasaan membaca koran pelan-pelan berganti dengan kebiasaan lain seperti membantu ibuku di sawah. Kegiatan membaca buku berganti dengan mengurus dan membantu ayah mengurusi ternak. Ada yang hilang dengan kegiatan berliterasiku kala itu. Ada yang bergeser dengan aktifitasku.

Berganti Mimbar

Saat aku kuliah, mimbar akademik di kampus dan juga di koran adalah ruang yang mengasyikkan. Saat keluar dari kampus, aku tiba-tiba seperti dituntut untuk membuktikan kata-kataku. “Oke, boleh kamu menjadi siapapun di kampus, tetapi saat keluar dari kampus, kamu bisa apa?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu selalu menggelayuti pikiranku.

Orangtua juga diam-diam menuntut bukti setelah lulus hendak kerja dan jadi apa. Menjadi manusia yang menganggur ternyata tidak enak. Akhirnya aku pun bertekad untuk meneruskan langkahku.

Aku seorang lulusan sarjana pendidikan kala itu akhirnya mengawali niat untuk menjadi guru, tentu saja setelah mendapat wejangan atau nasihat dari ibuku. Aku bulat memutuskan untuk menjadi guru. Aku mendaftar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah di kartasura di tahun 2013, setelah lulus. Saat tes lima kali, aku khawatir kalau tidak diterima mengajar di sekolah pilihanku. Alhasil, aku diterima, dan saat itu aku berkesempatan bertemu dengan dunia kerja, sebagai guru.

Mengajar anak SD itu ternyata menyenangkan. Menyenangkan bukan hanya karena mereka adalah anak-anak yang masih polos. Mereka adalah anak-anak yang memerlukan perhatian, bimbingan dan juga pendidikan yang kelak akan membekas dan diingat sampai kapanpun.

Berlari-larian, mendongeng, dan melakukan aneka permainan menjadi sangat mengasyikkan. Kegiatan berliterasiku di sekolah akhirnya menemukan ruangnya kembali.

Di sekolah, aku bersyukur menikmati koran Solopos yang menjadi media untuk berkarya dan membaca aneka peristiwa. Di media Solopos itu, aku membaca dan menulis di rubrik yang disediakan untuk guru. Pengalaman-pengalaman mendidik dan menemani anak-anak di madrasah itu membuatku menjadi penulis yang memfokuskan diri pada bidang pendidikan dan anak. Sejak saat itulah, aku membubuhkan penanda di belakang namaku dengan sebutan “Peminat Dunia Pendidikan dan Anak”.

Pertemuanku dengan teman-teman komunitas literasi setelah kuliah memang menjadi berbeda. Beberapa teman yang akrab berliterasi sesekali saja bertemu dan berbincang. Sampai akhirnya saya bertemu dengan kawan yang dulu pernah bergiat di komunitas literasi yang sama yaitu Kang Dio. Nama lengkapnya Ngadiyo.

Waktu itu, Ngadiyo sempat berbincang-bincang denganku mengenai buku, mengenai tulisan dan juga berbincang tentang buku apa yang mesti diterbitkan untuk penerbitnya yang baru naik daun. Ia waktu itu fokus dan berkonsentrasi pada memoar. Sebelum itu, di tahun 2014 tepatnya setahun setelah aku mengajar, di sebuah kamar kosnya aku berbicang mengenai ideku menerbitkan buku kumpulan esai.

Kumpulan esaiku waktu itu bertema pendidikan dan bertema feminisme. Buku esaiku bertema pendidikan adalah hasil renungan, refleksi dan juga amatan-amatan sederhana saat menjadi guru. Buku kumpulan esaiku pun akhirnya diterbitkan dan di lay out Ngadiyo secara sederhana dan berhasil kuterbitkan di penerbit baru di Yogya yang sedang merintis usaha kala itu. Buku itu terbit dengan judul Mendidik Anak-Anak Berbahaya (2014).

Memimpin Sekolah

            Merasakan perkembangan di lingkungan kerjaku dan semangatku berkarya sebagai guru dan juga sebagai penulis, aku tertantang untuk mencoba sesuatu yang baru. Waktu itu, ada lowongan di koran Solopos. Lowongan menjadi kepala sekolah. Lowongan menjadi kepala sekolah menjadi peluang untuk berubah. Berubah dari berbagai hal. Aku ingin kesempatan menjadi kepala sekolah menjadi kesempatan baru untuk belajar kepemimpinan, manajemen sekolah, memimpin manusia dan juga belajar banyak hal tentang kepemimpinan. Aku ingat kata Bapak yang masih terngiang di kepala, “Kamu besok itu akan menjadi pemimpin. Jadi harus disiapkan dari sekarang.”

Mungkin, kata-kata itu menjadi pelecut dan penyemangat untuk mendaftar menjadi kepala sekolah. Mula-mula aku ragu, tapi akhinya aku mencoba memasukkan lowongan ke SMK Kesehatan yang tertera di koran Solopos kala itu. Aku tak menyangka, aku berhasil diterima.

Sebelum diterima, aku mengikuti beragam seleksi. Salah satunya adalah tes psikologi. Dengan tes psikologi itu aku jadi tahu secara mendetail karakter pribadiku, kelemahanku, sampai dengan potensi-potensiku. Meski saat mengerjakan dalam posisi tergesa-gesa, aku yakin hasil dari tes psikologi itu cukup valid. Konon hasil tes psikologi itu pula yang menjadi pertimbangan akhirnya aku diterima menjadi kepala sekolah di SMK Citra Medika Sukoharjo.

Saat wawancara, aku diberitahu tugas dan kewajibanku menjadi kepala sekolah. Dalam hati, saya hanya pasrah sama Allah saja. Tidak mudah memang, berat tugas yang diberikan Yayasan kepada saya, saya hanya yakin pertolongan Allah. Selepas tanda tangan kontrak, saya hanya diberi waktu selama empat hari untuk menjalankan training didamping kepala SMK Citra Medika Magelang, Pak Hendro.

Bersama Pak Hendro inilah saya belajar bagaimana menjadi guru sekaligus leader yang memotivasi, menginspirasi. Pak Hendro cukup berhasil membuat situasi tegang menjadi pecah. Selama empat hari itulah, saya dikenalkan di semua bagian dari kurikulum, sarana dan prasarana, humas, dan juga tata usaha yang ada di sekolah. Ini training super cepat. Tapi saya yakin saja ini tugas dan kewajiban saya, harus saya selesaikan. Sekolah yang kumasuki ternyata cukup bagus. Dari sisi murid, guru dan juga lingkungan yang ada di dalamnya. Aku mendapati tugas dari yayasan untuk merapikan dan memantapkan barisan singkatnya begitu.

Lingkungan baru, situasi baru, dan juga kondisi psikologi baru menuntut dan menguras banyak energi. Pada kali pertama di bulan Mei tahun 2019 kala itu, jujur saja kepalaku agak pecah, aku merasa stress ringan kala itu. Maklumlah, di lingkungan yang baru, situasi dan tempat kerja baru, tidak semua orang kala itu mendukungku sepenuhnya. Dengan bekal kemampuan belajar di organisasi kala itu, ilmu kepemimpinan semasa kuliah kuterapkan. Aku mengajak dialog, berdiskusi dan mulai mencari apa saja peluang dan tantangan yang bisa kulakukan bersama teman-teman untuk maju. Aku bersyukur dengan tim dan teman-teman yang hebat dari SMK Citra Medika Sukoharjo waktu itu.

Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, dengan target pendaftar 210 anak, tercapai 200 pendaftar. Dengan keberhasilan saya dan tim waktu itu, aku mendapatkan kesempatan belajar bersama di SMK ini. SMK ini memiliki dua jurusan, Farmasi dan Keperawatan. Siswa di sekolah ini cukup banyak, guru-gurunya pun luar biasa. Sebagai sekolah baru, berusia 7 tahun kala itu dengan murid sekitar 650-an, sudah menjadi modal cukup untuk maju.

Mulailah saya dan teman-teman membranding SMK ini sebagai sekolah unggulan. Dunia Industri sebagai pilar dari SMK pun kita ajak untuk diskusi dan kerjasama. Saya ingat betul waktu itu, ada perusahaan Mom & Jo yang memberangkatkan siswa kita bekerja di sana. Ada juga dari pimpinan apotek K-24 yang cukup lama bermitra dengan SMK kita. Banyak murid-murid yang sukses dan berkiprah bekerja di sana. Mereka banyak yang sudah kuliah sembari kerja. Melihat anak-anak muda, energik dan semangat itu membuat hatiku trenyuh.

            Banyak pengalaman bersama guru-guru hebat di SMK ini. Salah satu pengalaman berkesan lainnya adalah saat menghadapi anak-anak yang SPP-nya tertunda pembayarannya. Ada orangtua yang bekerja sebagai pengusaha mebel. Ada yang bekerja sebagai penjual buah-buahan musiman, ada yang bekerja sebagai juragan pasir. Ada juga orangtua yang bekerja sebagai driver taksi online. Mendengar, menyimak mereka orangtua dan usaha mereka menyekolahkan anak mereka membuatku belajar untuk berempati, dan merasakan perjuangan mereka memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak mereka.

Sebagai kepala sekolah saya ditarget untuk meminimalisir tunggakan, tetapi di sisi lain saya juga merasakan empati dan perjuangan orangtua menyekolahkan anaknya. Alhamdulillah, dengan bersikap seimbang, target yayasan kala itu dapat dicapai tidak kurang dari 3%.

Pengalaman lain adalah mendongkrak prestasi siswa bersama wakil kepala bidang kesiswaan, Pak Purbo. Bersama Pak Purbo yang juga guru Matematika kala itu kami berpikir bagaimana memberikan fasilitas kepada anak untuk berprestasi. Apa kendala di lapangan, dan bagaimana Cimed atau Citra Medika sebutan sekolah kami bisa menjadi juara. Sebagai guru Matematika yang juga jago olahraga, Pak Purbo mulai menginventarisir bakat dan ekstrakurikuler anak-anak kita yang potensial diajukan lomba. Berkat kerja keras Pak Purbo itulah, akhirnya sekolah kami mendapatkan juara di level kabupaten maupun provinsi hingga nasional. Saya bersyukur akhirnya target dalam prestasi bisa digapai berkat kerjasama tim yang solid.

Pengalaman lain yang cukup berharga adalah di bidang kurikulum. Bersama Bu Yulia kala itu saya belajar banyak tentang bagaimana mendesain kurikulum di SMK dan juga tata kelola mengatur jam yang padat dengan dunia industri yang dituntut maksimal. SMK harus mampu menyeimbangkan kurikulum yang berkaitan dengan mata pelajaran pokok dan juga skill.

Saat menjadi kepala sekolah, saya juga mendapati ilmu manajemen sekolah unggul yang saya dapat dari Pak Singgih pemilik yayasan internusa. Yayasan Internusa kini sudah memiliki kampus bernama Universitas Duta Bangsa yang memiliki fokus mendidik mahasiswa jurusan Kesehatan salah satunya.

Kisah perjalanan Pak Singgih dari nol hingga menjadi Rektor Universitas Duta Bangsa ini menginspirasi saya menjadi pejuang yang tidak boleh mudah menyerah. Bersama Pak Singgih pula saya belajar membangun institusi, mempertahankan reputasi dan juga belajar tentang kecepatan.

Menjadi pemimpin ternyata tidak mudah, kita dituntut untuk banyak mendengar, bekerja dalam sepi, serta dituntut untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita lakukan dengan penuh dedikasi. Setiap pemimpin tentu dimintai pertanggungjawaban.

Manusia dimanapun itu akhirnya dituntut untuk beradaptasi dan terus belajar. Aku senang sekali bisa belajar memimpin dan mengorganisir manusia. Menjadi kepala sekolah bukanlah menjadi seorang yang berkuasa dan memiliki kehendak. Tetapi menjadi kepala sekolah adalah mengajak, dan juga seni mempengaruhi orang. Saat itulah, ada kesamaan antara menulis yaitu sama-sama mengorganisir dan merapikan bahkan mengedit yang perlu diperbaiki.

Takut aktifitas literasiku terganggu, aku pun memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menulis dan membaca. Aku bersyukur masih bisa menulis dan membaca di sela-sela kesibukan memimpin sekolah. Dan bahagianya aku saat melihat tulisanku diterima di Koran Tempo dengan embel-embel “Penulis adalah Kepala sekolah SMK Kesehatan bla bla bla”.

Menulis dan bekerja di instansi pendidikan sebenarnya bukanlah hal yang saling berseberangan. Bekerja di instansi pendidikan dan memanfaatkan waktu untuk tetap berliterasi pada akhirnya tergantung dari masing-masing kita untuk mengatur waktu kita sebaik-baiknya. Kini, setelah purna tugas menjadi Kepala sekolah, aku kembali menjadi guru dan masih saja tetap menulis. Itulah secuil pengalamanku yang memimpin sekolah juga memandu ide agar ditata menjadi tulisan yang berkualitas. Saya membayangkan andaikan semua kepala sekolah di seluruh Indonesia juga tidak malas menulis, tentu sekolah kita akan semakin maju.

 

Arif Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo, giat di Sarekat Taman Pustaka Muhammadiyah, Pendidik di PPM MBS Yogya