Memoar

Aku Insecure Maka Aku Menulis

Okti Setiyani

 

“Aku mencoba keluar dari rasa rendah diri dan menemukan kepercayaan diri dengan berkarya

 Lihatlah kedua foto ini. Diriku di tahun 2017 dan tahun 2024.

Aku pikir perbedaan besarnya adalah pada kepercayaan diri. Foto pertama terlihat begitu rendah diri dan malu-malu, sedangkan foto kedua mungkin bisa aku sebut penuh dengan self love.

Ada banyak alasan untuk menulis, seperti kutipan dari Imam Al Ghazali bahwa jika bukan anak raja atau anak ulama besar maka menulislah. Sedangkan dalam versiku, aku menulis karena ingin keluar dari rasa rendah diri yang menyelimuti hidupku. Bagaimana bisa? Simak kisahku…

Ini adalah kisah yang menurutku cukup umum, berkisah mengenai seorang manusia yang merasa insecure dengan dirinya sendiri. Aku yakin, semua orang merasakan insecure, entah karena sebab apa tapi sebenarnya insecure adalah hal normal karena kita hanyalah manusia. Nah, dalam kasusku ini ternyata insecure bisa diatasi dengan menulis.

Aku tidak tahu pasti bagaimana insecure bisa tumbuh dalam diriku sejak kecil. Entah bagaimana mekanismenya. Mungkin karena aku sering mendengarkan komentar orang lain di sekelilingku yang akhirnya membuatku merasa rendah diri dan tidak percaya diri. Menurutku insecure artinya tidak mencintai diri sendiri.

Sejak kecil aku adalah pendiam jika berada di lingkungan sekolah atau masyarakat, sedangkan jika aku berada dalam lingkungan keluarga aku akan dikenal sebagai anak jail dan cerewet. Bagaimana bisa begitu bertentangan? Ya, aku pikir semua orang punya sisi seperti itu, dua sisi yang akan ditunjukkan berdasarkan orang yang ditemuinya untuk menyesuaikan diri.

Namun, aku pikir sisi pendiamku ini sungguh menyulitkanku. Di mana aku adalah anak pendiam di sekolah. Aku pikir aku tidak bisa berpikir jernih, bahkan untuk mengatakan maaf, tolong dan terima kasih rasanya sangat sulit untuk kuucapkan. Aku juga tidak pandai dalam hal akademik. Hal yang paling aku benci adalah tugas kelompok. Di mana aku selalu menjadi beban kelompok, aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa berkata atau berpikir apapun. Kenapa aku tidak bisa membantu menyelesaikan tugas kelompok yang kami kerjakan bersama. Kenapa aku merasa begitu asing dalam kelompok, hingga akhirnya aku pun menjadi orang yang tidak dipilih jika ada tugas kelompok. Mengingat memori itu benar-benar menyayat hatiku. Tapi aku juga tertawa, bisa-biasanya aku seperti itu.

Aku semakin dewasa. Sekolah menengah pertama pun aku jalani. Aku pikir aku akan berubah menjadi seseorang yang berbeda di lingkungan baru. Oh, ternyata tidak. Aku masih saja menjadi gadis pendiam dan tidak disukai kelompok. Bedanya aku cukup rajin belajar, mungkin karena aku tidak memiliki hobi atau minat di bidang lainnya, akhirnya aku hanya bisa belajar saja.

SMP menjadi masa di mana romansa anak sekolah berkembang. Sahabatku punya pacar. Aku tidak heran karena dia memang populer sejak dulu, dia cantik dan mudah bergaul. Dia ramah dan baik. Aku mengatakan dengan jujur bahwa aku iri padanya. Bisa dikatakan bahwa aku culun, tidak mudah bergaul dan pendiam.

Hal yang paling aku ingat adalah ketika sahabatku bersama pacarnya pulang bersama. Mereka berjalan berdampingan, sedangkan aku ada di belakang mereka, berjalan lambat menatap dengan sendu. Bagaimana perasaanku? Tentu saja berharap agar waktu cepat berlalu, tapi anehnya waktu seperti mengejariku, lambat sekali berlalu. Sangat lambat seolah menikmati saat-saat menyayat hatiku. Aku hanya bisa menghela nafas. Aku pasrah. Sekaligus ada percikan rasa marah di sana. Bagaimana bisa sahabatku memperlakukan aku begitu, tapi mau apa, aku adalah manusia cupu yang tidak dilirik siapapun.

Maka aku mencoba membalas dendam, bukan dengan menyakitinya, melainkan dengan berusaha keras melakukan apa yang aku bisa. Ya, aku tidak tahu apa hobiku. Aku tidak tahu apa cita-citaku. Maka dari itu aku hanya bisa fokus melakukan apa yang bisa aku lakukan. Aku seorang pelajar sekolah menengah, maka tugasku hanyalah belajar bukan? Ya, baiklah aku pun fokus belajar.

Aku yang biasanya malas-malasan, akhirnya mencoba untuk belajar. Tidak mudah. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Ada saja jalan yang akan Allah berikan kepada hambanya yang bersungguh-sungguh. Maka aku pun berusaha untuk belajar setiap harinya. Entah mengulangi pelajaran atau paling tidak mengerjakan PR sendiri, sehingga tidak harus mencontek teman. Memang tidak seambisius yang dibayangkan. Tapi hasilnya cukup membuatku tercengang. Aku mulai menyukai beberapa mata pelajaran yang akhirnya membuat nilaiku naik. Mungkin urutannya begini, ringking 27 menjadi 10 dan akhirnya menjadi ringking 3. Juga mengenai UN sekolah yang nilainya lumayan baik, hingga akhirnya aku diterima di jurusan favorit sekolah menengah atas.

Bagaimana dengan dia? Ah, ya begitulah, dia masih fokus dengan dunia romansanya. Aku tidak mau menulis bahwa aku telah membalas dendam padanya. Aku hanya akan menulis, bahwa semua perjuangan ini untuk kebaikan diriku sendiri.

Eit, jangan kira aku berubah saat sekolah menengah atas. Aku masih menjadi gadis cupu, tapi bedanya aku rajin belajar. Aku juga punya circle pertemanan yang sangat seru, 3 sahabat satu tujuan. Kami sama-sama suka belajar dan setara dalam berbagai hal. Itu sangat menyenangkan. Di mana kami bisa tumbuh dan saling menyemangati.

Kisah romansa kami bertiga sama, sama-sama payah hahah. Di mana kami menjadi pengagum rahasia di masa-masa SMK. Kemudian, di masa-masa akhir sekolah, aku merasa berbeda. Aku tidak tahu apa yang berubah dariku, mungkin mindset, ya, mungkin karena aku banyak membaca buku atau quote di media sosial yang membuatku jadi lebih tercerahkan. Di mana aku mulai memperbaiki diri dalam hal ibadah. Hingga kami menjadi 3 sahabat yang suka tahajud dan duha.

Kisah berlanjut menjadi masa kuliah, kami bertiga berpencar mengejar cita masing-masing. Aku di UIN Sunan Kalijaga yang harus aku rengkuh dengan sekuat tenaga dan air mata. Ya, mungkin bisa dikatakan cukup sulit karena aku lulus dari jurusan Farmasi dan beralih ke Bimbingan dan Konseling Islam. Namun karena Allah sudah meridai, maka apa yang mustahil?

Aku mulai berubah. Ini menarik. Aku jadi manusia yang optimis, ceria, cerewet dan suka bersosialisasi. Aku juga menemukan sahabat yang satu frekuensi di kampus. Namun, rasa insecure itu tentu saja masih ada. Tidak lama, aku dan sahabatku menjadikan perpustakaan UIN SUKA sebagai basecamp. Perpustakaan berlantai empat yang nyaman itu mengubah kami jadi kutu buku. Kami melahap novel dan buku self improvement, tidak ketinggalan buku-buku mata kuliah juga wajib ditelan bulat-bulat.

Di semester satu perkuliahan, aku mulai sadar bahwa aku tidak memiliki prestasi apapun selama ini. Pantas saja aku merasa insecure karena tidak memiliki sesuatu yang pantas dibanggakan. Aku mulai mencoba menggali keinginanku. Aku mulai mengenali diriku melalui buku-buku self improvement karya Brian Tracy yang kebanyakan membahas mengenai self discipline, yang membuatku jadi cukup ambisius.

Suatu hari, kami mendapatkan tugas UAS menulis esai oleh dosen yang aku idolakan. Dosen itu membuatku terinspirasi, di mana beliau merupakan seorang penulis dan pegiat literasi Cakruk Pintar, beliau memiliki sebuah perpustakaan pribadi di rumah di mana semua orang bebas mengaksesnya. Saat mendengarkan tutur kisahnya di sela waktu kuliah, aku langsung ingin jadi seperti dirinya. Aku bisa menggambarkan ketika seseorang sudah menemukan apa yang mereka sukai, mereka akan memiliki identitas itu dan mulai mempercayai dirinya sendiri. Mereka pun terlihat keren di mata orang lain karena kepercayaan diri itu. Ya, aku sadar, hal itulah yang selama ini belum aku temukan, passion.

Oiya, kembali pada tugas menulis esai tadi, jadi angkatan kami yang berjumlah 81 orang menulis esai dan akhirnya diterbitkan jadi satu buku berjudul “Kuliahku Atas Restu Ibu”. Itulah antologi pertamaku yang akhirnya membuat jiwa ambisiusku terpantik.

Pada tahun 2019, aku mulai mengikuti lomba-lomba cerpen di Instagram. Gagal dan menang menjadi makanan sehari-hari. Walaupun memang benar awalnya terasa sakit karena gagal, tapi lama-kelamaan kekalahan rasanya biasa saja. Ketika aku melalui proses gagal dan berhasil itu, terasa ada sesuatu yang tumbuh dalam diriku, entah mental yang jadi lebih kuat atau rasa percaya diriku yang ikut meningkat. Aku merasa seolah menghabiskan satu per satu jatah gagal dalam hidup. Apalagi ketika namaku terpampang dalam sampul sebuah buku. Aku merasa kepercayaan diriku naik dan perlahan mengikis rasa insecure yang selama ini masih terpendam.

Suatu saat, di tahun 2020, dengan dorongan temanku yang merupakan seorang penulis, aku akhirnya memberanikan diri menerbitkan novel pertamaku berjudul “Touch The Sky”. Rasanya luar biasa. Apalagi ketika ada teman yang mau membeli dan dengan senang hati mempromosikannya. Hingga suatu saat aku bergabung dengan komunitas sastra di Kulon Progo yang mau membedah novelku di perpustakaan daerah Kulon Progo. Rasanya bangga sekali. Aku sungguh terharu.

Satu, dua, tiga, empat, lima, ya, totalnya lima buku yang sudah aku terbitkan. Dan entah tak terhitung berapa antologi cerpen atau esai yang aku ikuti. Juga berapa ratus lomba yang aku coba. Semuanya begitu berharga hingga membuatku menjadi Okti Setiyani yang sekarang. Jika dilihat dari foto yang sebelumnya aku tunjukkan, di mana aku merasa melihat diriku secara berbeda di tahun 2017 dan 2024. Di mana tahun 2019 aku mulai memasuki dunia kepenulisan dan akhirnya membuatku lebih percaya diri. Walaupun sebenarnya aku masih merasa amatiran dalam menulis hehe.

Aku dengan bangga mengatakan bahwa aku adalah Okti yang berani bicara di depan umum. Okti yang mampu bersosialisasi dengan baik. Bahkan banyak yang mengatakan bahwa aku punya vibes positif. Ya, bahkan aku berani-beraninya mencoba dan akhirnya menjadi Duta Nasional Mahasiswa Inspiratif DIY Kelas Ragam. Hingga aku berani menerima tawaran-tawaran lainnya, ya, kadang kesempatan itu datang tanpa diduga kemudian kita tidak yakin dan akhirnya melewatkannya. Namun, ketika kita percaya pada diri kita dan mengatakan coba sajalah, nyatanya hal itu akan menjadi jalan yang akan membuka kesempatan-kesempatan lainnya.

Ya, aku adalah Okti yang mencintai diri sendiri dan lebih percaya diri karena merasa ada sesuatu yang bisa dibanggakan dalam diri ini. Bahwa nyatanya kita memang harus mengikis insecure dengan membuktikan kepada diri sendiri bahwa kita bisa pada suatu hal. Bahwa kita punya kemampuan dalam suatu hal, dalam kasusku adalah menulis.

Mungkin begini, ketika kita memutuskan mengemban suatu identitas, maka kita akan mencoba untuk membuktikannya kepada dunia. Seperti yang ditulis oleh James Clear dalam karyanya Atomic Habits, bahwa bentuk akhir yang muncul secara alami adalah ketika kebiasaan menjadi bagian dari identitas Anda.

Aku sekarang adalah seorang penulis, pengusaha sekaligus staff perusahaan. Ini identitasku yang akan aku buktikan kepada diriku sendiri bahwa aku mampu dan bahagia dengannya. Entah bagaimana orang lain memandangku, tetapi inilah diriku yang aku cintai.

Mungkin, jangan coba membuktikan kepada orang lain, lebih baik buktikanlah pada diri kita sendiri. Oiya, mengenai sahabatku ketika sekolah menengah pertama, pasti banyak yang penasaran bagaimana kabarnya. Em, aku sepertinya terlalu percaya diri hingga jadi cukup egois dan tidak memikirkannya lagi, hingga tulisanku sekarang fokus padaku sendiri, bukan padanya haha.

Memang benar bahwa rasa insecure itu mudah hilang dan timbul sepanjang perjalanan hidup. Maka, ketika aku merasa insecure, aku mencoba untuk menulis kemudian menerbitkannya. Hal ini membuatku menyimpulkan bahwa menulis adalah obat bagiku.

“Sobat, jika kamu merasa insecure, cobalah untuk menulis…” – Okti

 

PROFIL PENULIS:

Okti Setiyani, penulis novel Touch The Sky (2021), Campus Puzzle (2022), Chandra Kirana (2022), buku pengembangan diri Titik 24: Ke Mana Perginya Mimpiku (2024) dan novel Tanpa Gravitasi (2024), ini menyukai menendang, memukul, menulis, membaca dan mengkhayal sejak semester satu perkuliahannya.

Masih kepo dengan makhluk yang satu ini? Penulis dapat dihubungi melalui Email [email protected] dan Instagram @okti_setiyani08.