Aku Lahir dari Dua Orang Hebat
Oleh: Nabilah Asna
Ayahku anak ke lima dari tujuh bersaudara. Ayahku berlatar belakang dari keluarga sederhana. Kakekku seorang petani garam dan nenenkku penjual terasi. Pada zaman dulu ekonomi masih sempit dan serba keterbatasan. Oleh karena itu, kakak adik ayahku banyak yang berhenti untuk sekolah karena ingin bekerja dan nikah muda. Sementara ayahku tidak ingin menjadikan nasib keluarganya di bawah terus-terusan. Ayahku sangat tekun ketika di sekolah dan suka membaca buku. Ayahku lebih suka berkegiatan di dalam rumah daripada harus keluar namun masih tetap berkumpul dengan teman sebayanya. Ayahku saat kelas dua SD pernah mengalami kegagalan karena tinggal kelas. Sedih pasti, tetapi ayahku tetap berusaha keras untuk mencapai cita-cita yang lebih baik.
Setelah lulus SD ayahku melanjutkan pendidikannya di pesantren dan menjadi abdi ndalem (pengikut Kyai). Semangat itu terus bergelora meskipun dengan cobaan yang berat. Ayahku selalu berusaha sebaik mungkin dan sering menjadi tangan kanan Kyainya. Kegiatan sehari-harinya yaitu membantu Kyai, memasak di dapur itulah keberuntungan bagi ayahku bisa dekat dengan Kyainya agar dimudahkan segala prosesnya. Saat di pondok pun ayahku sangat terkenal di kalangan santri putri karena sering membenahi kerusakan di pondok putri serta sebagai anak dekorasi ketika ada acara akhir tahun pondok maupun sekolah.
Memasuki fase kelas akhir, ayahku berkeinginan untuk kuliah di luar negeri akan tetapi masih ragu akan dana pendidikan karena kondisi ekonomi keluarga serba keterbatasan. Saat di bangku sekolah ayahku adalah orang yang sering tidur di kelas akan tetapi ayahku selalu mengunjungi perpustakaan dan membaca majalah dinding setiap jam istirahat sekolah. Hobi membaca itu bukan sekadar membaca namun mencatat kosa kata di buku jurnalnya. Berisiknya pikiran negatif itu segera dibuang jauh-jauh ayahku harus fokus dengan tujuannya. Ayahku selalu belajar tanpa henti untuk bisa mengikuti tes beasiswa ke luar negeri. Ayahku mengambil jurusan filsafat di Universitas Al-Azhar Cairo. Ajang tes masuk kuliah di luar negeri itu sudah dibuka, ayahku mencoba daftar tes tersebut dan selalu ikhtiar dengan segala proses dan menerima hasil akhirnya.
Sebulan kemudian Pak Kyai menghampiri ayahku bahwasannya ayahku lolos tes ujian masuk Unversitas Al-Azhar Cairo. Pak Kyai juga menyampaikan untuk dana kuliah nanti akan dibantu jadi, tugas ayahku harus tekun di perantauan. Ayahku sangat bersyukur atas rezeki yang diterima dan tak hentinya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu. Saat pelepasan siswa yang akan melanjutkan kuliah di luar negeri ayahku dan teman-temannya berpamitan dengan pihak sekolah terlebih dahulu untuk memohon restu agar senantiasa dieberi kemudahan selama kuliah. Segala persiapan telah ditata dengan rapi lalu, ayahku dan teman-temannya berangkat menuju ke Cairo. Betapa bahagianya cita-cita yang diimpikan menjadi kenyataan. Selain menjadi mahasiswa ayahku juga menyambi kesibukan yang lain salah satunya jualan jajan bersama teman-temannya. Perjuangan yang terjal pasti akan membuahkan hasil yang manis.
Tiga tahun kemudian, ayahku memasuki semester akhir. Kuliah di Cairo tidak ada skripsi seperti di Indonesia, melainkan ujian lisan, menghafal sehingga harus mempersiapkan materi sejak lama dengan diskusi kitab atau disebut muqarrar. Mempelajari kitab-kitab yang tebal itu membuat kalut dan suntuk namun sebagai mahasiswa memang sudah menjadi kewajiban pada umumnya. Saat pulang dari kuliah ayahku mendapatkan kabar dari rumah bahwa kakekku telah meninggal dunia. Kesesakan hati ayah begitu perih karena sedang di posisi ujian kelulusan. Ayah ingin pulang tetapi ongkos pulang mahal akhirnya kakak tingkat ayah membantu untuk tahlilan bersama di kontrakan.
Ibuku terlahir dari keluarga yang agamis. Ibuku anak Perempuan pertama. Semasa kecilnya dihabiskan dengan haus ilmu agama. Saat belajar mengaji kepada buyutku seringkali mengulang-ulang karena kurang tepat, jika dibanding zaman sekarang sangat berbeda. Sewajarnya anak kecil, ibuku tetap senang bermain di sungai, di sawah mencari caing atau main laying-layang. Sayangnya ibuku saat SD mengalami broken home karena kakekku memilih perempuan lain dan meninggalkan nenekku seorang diri. Hancurnya anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang figur ayah akan tetapi takdir tidak dapat diubah. Ibuku merasa terpukul dan sedih akan kejadian tersebut. Nenekku seorang diri mengasuh ibuku, wajar saja jika watak ibuku keras karena keadaan yang mengecamnya.
Singkatnya nenekku menikah kembali dengan laki-laki desa seberang dan melahirkan bayi laki-laki. Ibuku harus menerima dengan pahit akan pernikahan nenek yang kedua. Ibuku tidak boleh dendam dan tetap merangkul adik tirinya. Pernikahan yang masih dibilang berumur jagung itu kandas kembali. Nenekku gagal menikah yang kedua kalinya. Sakit hati yang bertubi-tubi menimpa kembali, nenekku pribadi yang pendiam dan penurut tetapi nasib rumah tangganya berantakan. Akhirnya mengurus dua anak tanpa ada figur seorang ayah bagi anak-anaknya. Nenekku mencari nafkah seorang diri dengan bertani dan menjahit. Hal tersebut ditekuni demi anak-anaknya bisa hidup layak.
Ibuku sangat iba jika melihat teman sebayanya memiliki keluarga cemara. Ibuku hanya tersenyum kecut melihat keadaan seperti itu, ibuku juga tidak mau berlarut-larut dengan pahitnya keadaan. Setelah lulus SD ibuku masuk di salah satu pondok pesantren Arjawinangun Cirebon. Pengasuh pondok pesantren tersebut masih bersaudara dengan ibuku sehingga setiap ada acara keluarga selalu ikut nimbrung. Masa-masa di pesantren ibuku awalnya tidak betah akan tetapi harus menikmati segala rintangannya. Saat jam istirahat sekolah ibuku selalu bermain di rumah temannya yang kebetulan dekat dengan sekolah sembari makan jajanan kaki lima.
Keluarga besar ibuku mengadakan haul sesepuh di pondok pesantren Arjawinangun sehingga banyak pertemuan antara saudara. Nenekku menyambangi ibuku sekalian ikut membantu acara tersebut. Setiap acara keluarga besar pasti hidangan lezat, nenekku memberikan sate pada ibuku. Ibuku makan sate dengan lahap karena umumnya di pondok pesantren makan lauk seadanya. Di kalangan keluarga ibuku memakan sate tidak boleh bebarengan dengan tusuknya karena tidak sopan sehingga ibuku makan sate secara diam-diam agar tidak ditegur orang sepuh. Sedikit bandel memang, tapi begitulah anak muda.
Setelah lulus dari madrasah tsanawiyah ibuku disuruh nenekku untuk melanjutkan di pondok pesantren lagi akan tetapi di daerah Jawa Tengah. Ibuku dengan berat hati menuruti perintahnya. Pondok pesantren tersebut berada di Pati Jawa Tengah bernama Pesantren Putri Al-Badi’iyyah yang diasuh oleh KH. Ahmad Sahal Mahfud saat itu. Menjadi anak perantauan memanglah tidak mudah masih banyak tangisan yang membendung. Keadaan rumah masih terbayang-bayang dalam benak ibuku. Selama di pesantren ibuku sering menangis karena tidak betah di lingkungan baru. Suatu ketika ibuku berusaha melarikan diri karena suntuk di dalam pondok, ibuku kabur bersama temannya untuk sekadar cari ingin di sekitar area pondok. Ibuku selalu pandai dalam urusan kabur sampai balik pondok pun tidak pernah ditegur pengurus.
Selama di Pati ibuku baru menyadari jika memiliki saudara namun berbeda pondok. Saudara ibuku ini laki-laki dan senior di pondok pesantren. Tiba-tiba saudara ibuku menyambangi. Ibuku kegirangan karena bisa keluar, lalu meminta izin pengurus. Ibuku tidak pernah menyangka bakal diajak silaturahmi di saudara yang rumahnya Lasem, Rembang. Kalimat rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan karena masih ada saudara yang peduli dengan keadaan ibuku. Menuju ke Lasem menunggang bus dengan waktu tempuh 1 jam 8 menit. Kebahagiaan seorang santri yaitu ketika waktu sambangan karena waktu di pondok terbatas walaupun hanya sebatas keluar.
Setelah turun dari bus ibuku dan saudaranya jalan kaki untuk menuju rumah bude. Bude menyambut hangat kedatangan ibu dan saudaranya dan dipersilakan masuk sembari menikmati teh hangat. Bude menanyakan kabar keponakannya yang masih anak baru di pondok serta diberikan wejangan agar terus semangat mencari ilmu. Cuaca panas sudah mereda saatnya kembali. Beribu ucapan terima kasih sudah diberikan singgah di rumah bude, ibu dan suadaranya berpamitan.
Pertemuan ayah dan ibuku begitu menggelitik, berawal dari teman satu sekolah. Pertemuan itu ketika ibuku di warung makan dan ayahku dengan segerombolan temannya. Ibuku orang yang jutek, tak pernah memperdulikan hal tidak penting, sementara ayahku orang pendiam namun juga humoris. Teman-teman ayahku lah yang menyoraki ibuku untuk disandingkan dengan ayahku. Suasana warung makan pun menjadi menggelegar akibat tingkah teman ayahku. Setelah itu, ibuku keluar dari warung makan dan kembali ke pondok bersama temannya tanpa mempedulikan segerombolan ayahku.
Setelah lulus dari sekolah ibuku melanjutkan di pondok pesantren lagi selama lima tahun sedangkan ayahku kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo. Saat itu ibuku sudah menyelesaikan di pesantren ibuku dijodohkan Kyainya. Sementara itu, ayahku belum selesai mengenyam pendidikannya di Cairo. Perjodohan itu begitu lucu hanya mengetahui dari sebuah foto jadul dan saling menerima. Akhirnya, pernikahan beda negara itu diberlangsungkan dengan konsep sederhana. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh para Kyai dan saudara terdekat begitu khidmat. Selang beberapa minggu ibuku menyusul ke Cairo untuk menemui ayah. Kebahagiaan itu begitu terpancar sebagai pengantin baru di tambah bulan madu di luar negeri.
Tepat di tahun 2001 bulan Juli kehadiranku membuat mereka tersenyum merekah. Aku lahir di Cairo, keberuntungan yang tak ternilai bisa dilahirkan di kota Piramida. Mereka begitu menyayangiku dan bersyukur sudah diberikan kado terindah dalam pernikahannya. Saat itu ayahku memasuki semester akhir, layaknya seorang laki-laki juga ayah pundaknya menopang tanggungjawab yang besar berbagai cara dilakukan untuk kebahagian keluarga kecilnya. Ayah mengajak liburan di Piramida, makam Imam Syafi’i dan tokoh berpengaruh lainnya. Aku selalu digendong ayah, layaknya pepatah mengatakan “Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya”. Aku merasakan indahnya Cairo tidak lama karena masa studi ayah sudah selesai dan harus kembali ke tanah air untuk mengabdi.
Menjadi anak perempuan pertama saat itu adalah kebanggan tersendiri bagiku. Semua orang bahagia akan kehadiranku dan senang untuk mentimangku. Benda-benda yang ada di rumah memakai namaku. Orang-orang terdekat selalu memberikan hadiah lucu untukku. Ayah mengabdi di sekolahnya dulu dan mengontrak di dekat sekolah sementara ibu mengurus rumah. Aku yang masih hiperaktif membuatnya kelelahan. Kesabaran seorang ibu tidak tertandingi dari apapun. Teringat aku diajak ayah habis isya untuk mengajar di pondok pesantren menaiki sepeda onthel. Angin malam yang syahdu menyeringai dipelukan ayahku dan amat begitu indah. Aku begitu mungil sehingga murid-murid ayah gemas dengan tingkahku. Ketika hendak berangkat sekolah TK pun ayah sering mengantarku sekalian mengajar, tapi setibanya di TK aku menangis karena tidak ingin ditinggal, lalu guruku menghampiri menenangkan dan mengajakku untuk masuk di kelas.
Usiaku yang masih kecil itu, aku memiliki adik yang hanya terpaut dua tahun. Kasih sayangku secara tidak langsung harus terbagi padahal aku masih ingin merasakan menjadi anak satu-satunya. Lingkungan kontrakan banyak teman-teman sebayaku sehingga aku suka bermain di luar rumah. Biasanya bermain di lapangan atau masak-masakan dari siang sampai sore. Kedua orang tuaku tidak pernah mengekangku jadi, aku bersyukur bisa bereksplorasi dengan duniaku. Akan tetapi, aku terkadang merasa terkucilkan diantara teman-temanku sehingga membuatku ingin menangis. Kekesalan itu membuatku marah padahal aku sering berbuat baik pada teman-temanku, memang benar kita memperlakukan baik kepada orang belum tentu orang tersebut dapat membalas dengan baik.
Ketika aku menginjak bangku madrasah ibtidaiyyah seringkali dapat perlakuan yang kurang mengenakkan karena fisikku yang kecil, tinggi, berkulit sawo matang. Pembulian memang mematikan dan menyakitkan namun aku tetap menerima apa yang Tuhan berikan. Aku di sekolah memang bukan orang yang menonjol di kelas karena aku merasa minder dan merasa tidak bisa mencapainya. Sistem sekolah dulu pakainya rangking jadi, aku tidak pernah berekspektasi tinggi masalah akademik meskipun dalam benak juga menginginkan hal tersebut. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin hasilnya masih sama jadi, aku biasa saja. Aku tidak pernah tinggal kelas rasanya sudah sangat bersyukur setidaknya tidak mengecewakan orang tua. Aku sebagai kakak perempuan pun merasakan kalah saing pada adikku karena adikku sering mendapatkan rangking. Orang tua pasti sangat bangga terkadang saudara-saudaraku sering membandingkanku dengan adikku. Aku tidak pernah ambil pusing karena kemampuan setiap orang berbeda.
Asumsi yang buruk sangat berpengaruh terhadap alam bawah sadarku sehingga dapat menimbulkan keadaan yang tidak mengenakkan begitu pun sebaliknya. Aku selalu berusaha untuk mencari apa yang kuinginkan, ketika aku kelas enam SD sudah lumayan mendadapatkan pencapaian seperti mengikuti acara pentas seni, lomba lari, dan sebagai peserta khataman Al-Qur’an untuk pesantren kilat. Terlihat sederhana namun hal tersebut membuatku terkesan dan membanggakan. Keinginan yang bagus harus dimulai dari porsi yang kecil dulu agar dapat menghargai proses dan setiap proses yang dijalani akan mendapatkan hasil yang memuaskan nantinya. Masa menginjak bangku SD aku juga masih sering dikucilkan akan tetapi dalam keluarga aku selalu menjadi kebanggan karena sebagai anak perempuan pertama sekaligus cucu pertama perempuan.
Ketika beranjak remaja, aku di sekolah semakin menonjol karena anaknya guru sehingga teman-teman dan para guru hafal denganku. Soal akademik aku sedikit kurang akan tetapi potensi bermain drama dan menulis begitu menguasai. Hal tersebut bagian dari kebangganku dan aku mensyukurinya. Aku pernah terpilih sebagai pemain drama di acara akhir tahun sekolah dan bapakku ikut menyaksikan, terlihat wajah sumringahnya aku pun turut bahagia telah membanggakan nama bapak di sekolah. Ibu juga sering membanggakanku di saudaraku atau sahabatnya. Aku sering mengunjungi perpustakaan saat istirahat ketika uang sakuku menipis. Selain itu, aku sering mengumpulkan karyaku di majalah dinding sekolah atau menempelkan di pojok baca perpustakaan agar manfaat bagi orang lain. Aku juga sering merasa rendah diri karena tidak seperti teman-temanku yang berprestasi sering memborong kejuaraan. Meski pun begitu, aku juga masih kurang percaya diri akan setiap kemampuanku karena takut salah dan dinilai buruk.
Pendidikan di Madrasah Aliyah telah usai, aku memutuskan untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi. Aku pernah berkeinginan kuliah di Universitas Al-Azhar Cairo namun ada pertimbangan di pikiranku sehingga membuatku pesimis. Aku merasa masih kurang menguasai bahasa Arab meskipun berlatar belakang dari pesantren aku merasa lebih condong pada bahasa Indonesia. Oleh karena itu, aku bertekad untuk mengambil jurusan bahasa Indonesia. Aku menyibukkan diri mencari informasi mengenai perguruan tinggi di Indonesia. Awalnya aku mengincar salah satu pertuguran tinggi di Semarang akan tetapi orang tua merasa berat hati soal uang gedung, maka aku putuskan mendaftar di Perguruan Tinggi Islam Negeri di Surakarta. Syukurnya, aku lolos ujian UMPTKIN dan resmi menjadi mahasiswa baru. Kedua orang tuaku turut bahagia atas pencapaianku, aku akan merantau di Surakarta.
Kedua orang tuaku mengizinkanku kuliah tapi bertempat tinggal di pesantren. Sejujurnya aku bosan karena sudah lama hidup di pesantren tapi, tetap ku turuti kemauannya. Hatiku riang gembira bisa menjadi mahasiswa sekaligus santri. Awal kuliah memang masih menyenangkan tetapi lama-lama tugas berjibun. Aku sedikit kaget sering dikasih tugas banyak karena dulu waktu sekolah jarang namanya PR. Oleh karena itu, aku harus bisa beradaptasi dan keluar dari zona nyaman bagaimana pun itulah tugas mahasiswa. Awal semester kuliah masih diadakan daring karena Covid-19. Saat memasuki semester 4 kuliah sudah diperbolehkan luring. Aku sangat senang bisa bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai daerah.
Aku mahasiswa kupu-kupu dan belum berminat dengan organisasi. Saat itu aku merasa berorganisasi membuatku sangat lelah dan menguras energi dan lebih suka kegiatan di pondok saja. Rasanya kuliah dan mondok begitu berarti dituntut harus bisa mengatur waktu yang terbatas karena tidak boleh keluar malam dan kegiatan yang padat. Ketika pagi sampai sore aktivitasku kuliah. Ketika malam dan subuh aktivitasku mengaji di pondok. Aku sering mencuri-curi waktu untuk mengerjakan tugas kuliah, lelah tapi membuatku tahu betapa berharganya waktu. Aku sering merasa stres karena tugas yang berjibun ditambah batas waktu yang bersamaan jadi, aku harus bisa membagi dengan baik. Saat aku merasa stres aku keluar di kota Surakarta untuk menyegarkan otak atau sekadar beli jajan di depan kampus. Aku pernah sampai menangis karena tugasnya sulit, dengan usaha kerasku akhirnya bisa selesai mengerjakan. Betapa terharu karena bisa menuntaskan tugas yang sulit.
Memasuki semester lima aku sudah mulai tertarik dengan kegiatan di kampus. Aku mendaftar di organisasi sesuai latar belakangku, meskipun dibilang sudah terlambat namun aku tidak peduli yang terpenting adalah mau bergerak untuk lebih baik dari sebelumnya. Aku bertemu dengan orang-orang hebat dan menambah relasi pertemanan. Ketika ada kepanitiaan aku pernah menduduki sebagai sie. dokumentasi, sie. konsumsi, dan presidium sidang. Hal tersebut sebuah pengalaman yang berharga dari situ aku mendapatkan ilmu baru yang dapat ku manfaatkan di masa depan. aku merasa terarah dan hidup dapat bergabung organisasi. Selain itu, aku juga sering mengikuti kelas seminar dari berbagai fakultas dan kampus lain. Tujuanku adalah untuk menambah pengalaman baru karena sudah jauh merantau jika tidak menggunakan kesempatan emas sangatlah sia-sia.
Berlatar belakang anak jurusan bahasa Indonesia, aku sangat menyukai mata kuliah penyutradaraan. Mata kuliah penyutradaraan bukan hanya sekadar menjelaskan materi melainkan belajar praktik sebagai pemain dan anggota di balik layar. Tahapan-tahapan harus tersusun dan saling kerja sama. Waktu pemilihan pemain aku pernah mengajukan diri akan tetapi gagal masuk dan akhirnya aku dialihkan sebagai penata musik. Hal tersebut merupakan pertama kali ku geluti, merasa tidak cocok namun aku terpaksa untuk belajar hal baru. Hatiku gembira sekali bisa terjun langsung di dunia teater yang sesungguhnya.
Aku tidak pernah menyesal mengambil jurusan yang aku sukai justru aku bangga atas proses yang aku lalui. Setelah itu, fase memasuki semester akhir aku masih begitu takut tentang skripsi. Isu-isu negatif yang beredar membuat alam bawah sadarku tidak jernih. Aku berusaha melupakan hal buruk lalu, ku persiapkan mental, keuangan dan pikiranku. Aku sempat tidak percaya diri atas skripsiku sendiri karena sering revisi. Revisi terus-menerus membuatku malas untuk mengerjakan karena menguras energi namun aku harus tetap mengerjakan agar selesai. Penelitianku sangat membutuhkan kerja keras dan bercucuran keringat dan sempat ditolak oleh narasumber. Aku tidak patah semangat aku mencari narasumber lain untuk penelitianku.
Setelah bolak-balik di lokasi penelitian aku menyetorkan hasil penelitian pada dosen pembimbingku. Seperti biasa, banyak coretan pada setiap halaman skripsiku. Setelah keluar dari ruang dosen rasanya lemas karena belum juga disetujui. Aku terus bersusah payah membenahi skripsiku agar bisa maju sidang. Setelah menunggu lama skripsiku disetujui untuk maju sidang akhir. Sidang akhirku sangat apes karena sudah terkuras dengan pertanyaan-pertanyaan menjebak yang membuatku lemah, pikiranku sudah tidak sinkron. Aku menangis tersedu-sedu karena merasa gagal saat ujian sidang akhir, dosen pembimbing dan temanku menenangkanku agar kembali pulih. Aku sampai tidak ingin bimbingan selama dua hari karena masih merasa terjatuh. Untungnya temanku memberi dukungan agar aku segera selesai dan dapat lulus tepat waktu.
Prodiku selain mengerjakan skripsi ada tambahan lagi untuk mempublikasikan jurnal. Siapa sangka jurnal yang aku kerjakan mampu lolos publikasi. Ungkapan rasa syukur tak terhingga dan berterima kasih kepada dosen pembimbing sudah membantu dengan sabar dan baik. Perjuangan yang tidak sia-sia tumbuh ribuan keberhasilan yang lama dinantikan. Selain itu, aku mendapatkan rezeki yang berlimpah. Aku bisa lulus tepat waktu dan meraih predikat cumlaude, mengajar di Madrasah Ibtidaiyyah, mengajar di pondok pesantren, tulisanku di muat di akun prodi dan bisnis kecil-kecilan. Aku merefleksikan diri setelah melewati cobaan yang bertubi-tubi ternyata Tuhan punya rencana baik di luar kendaliku.
Aku tidak pernah malu untuk melakukan hal-hal kecil, meskipun tampaknya sepele di mata orang akan tetapi aku merasa senang dan bersyukur atas segala pencapaianku. Selama orang tua mendukung aku jalani dengan ikhlas. Peran sebagai anak perempuan pertama memanglah tidak mudah tetapi Tuhan memberikan hal tersebut sebagai bentuk kekuatan karena dalam hidup memang penuh tantangan dan tujuan. Pundakku penuh tampungan dari keluarga dan juga diriku sendiri, aku terkadang juga merasa lelah dan ingin menyerah namun aku teringat lebih lelah orang tua yang telah berjuang keras demi aku. Aku selalu mengusahakan yang terbaik untuk masa depanku dan orang tuaku.
***
Profil Memoaris
Bernama asli Nabilah yang lahir di Cairo. Nabilah merupakan anak pertama perempuan dari lima bersaudara. Nabilah menyukai dunia tulis menulis sejak MTs. Menulis merupakan refleksi diri yang mampu mengubah pola pikir manusia menjadi luas dan bermakna. Selain itu Nabilah menyukai dunia seni dan travelling. Berlatar belakang dari pesantren tidak membuatnya menyerah untuk terus beraksi dan berkarya. Nabilah merupakan alumni prodi Tadris Bahasa Indonesia, UIN Raden Mas Said Surakarta. Nabilah juga pernah mengikuti kelas menulis bareng online dari penerbit JSI, Ellunar Publisser dan mendapatkan penghargaan sebagai penulis terpilih. Saat ini masih sibuk mengembangkan hobinya menulis di platfrom intstagram dan kompasiana.