Pencapaian
Farah Aliyah Syahidah
Kamu ambisius ya?
Kamu rajin banget ya?
Kayaknya kamu belum pernah ya berada di posisi tertinggi dalam akademikmu?
Mataku berkaca-kaca saat namaku dan nama ayahku disebut. Ibu, ayah, hari ini anak perempuanmu menjadi wisudawan terbaik. Dadaku begitu sesak, kupandangi wajah ibuku yang duduk di lantai dua gedung bertingkat, meski aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi aku sungguh lega. Ketika rektor dan jajarannya memberikan apresiasi berupa selempang, sertifikat wisudawan terbaik dan beasiswa pendidikan, air mataku menggumpal di kelopak mata yang tak kunjung mengalir bebas, I am done. Ya Allah, I am done.
Di balik pintu kelas remidi, aku hanyalah satu dari deretan anak-anak yang dianggap tertinggal. Setiap pagi, suara cemoohan seolah menggema, mengelilingiku dengan ejekan dan tatapan kasihan. Angka merah di rapor bukan sekadar tinta, ia bagai belenggu yang memenjarakan langkah-langkah kecilku. Ejekan-ejekan itu terus menggema, apalagi ketika bibirku kelu tak dapat menyebut dengan jelas 29 huruf hijaiyah dalam Bahasa Arab, padahal usiaku sudah menginjak 11 tahun, perkalian pun sangat susah untuk diingat. Sungguh teriris hati ketika guru yang menyebut kebesaran nama ayahku dan membandingkan keadaanku saat itu, aku benar-benar hanya terperangah dan memendam rasa tidak berdaya. Namun, di dalam hati, harapan itu mulai merayap, menolak larut dalam warna suram yang diberikan oleh angka-angka.
Setiap semester, peringkatku bertengger di urutan tiga atau empat dari bawah. Kelas serasa panggung ironi, sementara teman-teman melesat maju, aku tetap bertahan di ujung belakang. Setiap kali raport dibagikan, ada beban di pundakku yang semakin berat, menyadarkanku bahwa jalan menuju mimpi masih panjang dan penuh rintangan. Sahabatku, mendapat bantuan dari ibunya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, menyiapkan buku pelajaran, sementara aku seringkali harus menyiapkannya sendiri, ketika aku tidak mengerjakan pekerjaan rumah pun, aku harus menanggung risikonya seorang diri, ketika mendapat nilai jelek pun, aku tetap mendapat tekanan dari orang tua, aku sungguh bingung tak berdaya. Dalam dinamika kelas, terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil, kelompok siswa pintar yang selalu memperoleh peringkat lima besar, kelompok anak-anak populer dengan pakaian super modis, kekinian dan wajah bersinar, serta kelompok medioker sepertiku yang nilai akademiknya tidak menonjol dan tidak populer. Dalam perjalanan ini pun, aku pernah di fase tidak bisa mengikuti event kemah karena tidak ada kelompok yang mau menerimaku sebagai anggota. Namun, keteguhan hati mulai berakar, diam-diam berjanji bahwa suatu hari, aku akan berdiri di puncak.
Suara ibu pun masih terngiang, suaranya membandingkan diriku dengan sahabatku yang peringkatnya dua kali lipat di atasku, masih terdengar begitu jelas saat aku menulis cerita ini. Mendekati ujian nasional, bahkan ibuku pun meragukanku. Kata-kata beliau, seperti cambuk yang menggoreskan luka di hati. “Bisa nggak ya kamu?” tanya beliau, seolah-olah masa depanku sudah terlukis buram dalam benak beliau. Tapi, aku tak ingin terjerembab. Paksaan itu pun datang dari ayahku, seorang guru fisika. Setiap akhir pekan beliau mendampingiku belajar dan tentu saja aku sangat kesulitan pada awalnya, bagaimana bisa aku menghitung luas lingkaran sementara aku tidak hafal perkalian? Jadi, aku justru menanyakan tugas-tugas dari ayahku pada guruku di sekolah. Setiap akhir pekan, aku menghukum diriku sendiri dengan lembaran-lembaran soal matematika. Meskipun lambat, aku mulai bangkit di kelas 5. Ayah mulai meletakkan buku-buku yang dibelinya di kasurku, dan aku hampir selalu melihat buku baru saat pulang sekolah, mulai dari novel, buku cerita, buku nasehat sampai buku saku dan praktis beberapa mata pelajaran.
Sejak saat itu aku menyusul angka demi angka, merangkak ke posisi yang lebih baik, tentu saja tidak mudah. Semua butuh perjuangan, konsistensi, disiplin dan doa yang tak kunjung lelah. Setiap malam aku selalu membaca, menghafal, belajar, memahami banyak Pelajaran yang hendak diujikan nanti saat ujian nasional karena kelas 5 SD kami sudah dilatih untuk mengerjakan soal-soal ujian nasional dan diuji pada try out di sekolah. Dalam prosesnya aku harus bertahap, satu demi satu anak tangga kulalui, sampai nilai tertinggiku hanya mencapai 1/3 dari peringkat kelas. Perjuangan panjang it uterus melaju, sampai pada akhirnya, nilai sahabatku menurun drastis dan nilaiku meningkat, bahkan nilai ujian nasionalku bisa digunakan untuk masuk ke SMP nomor satu di Kota. Meski namaku dan orang tuaku tidak dipanggil ke panggung karena memperoleh skor tertinggi, aku sudah sangat bersyukur karena memperoleh skor yang sangat memuaskan.
Namun, aku memutuskan memilih MTs negeri terbaik kedua di kota, memilih tantangan baru dengan tes tulis yang tak pernah kulihat sebelumnya. Kuputuskan untuk memilih madrasah terdekat dengan rumah dan sekolah yang sesuai dengan kemampuanku. Aku menyadari meskipun telah bangkit, kemampuanku masih di taraf dua terbaik, bukan terbaik, oleh karena itu kucoba tes untuk kelas super class di madrasah terbaik kedua di kota. Tes yang sulit, aku hanya mengandalkan doa dan husnudzon akan takdir terbaik-Nya.
Hari pengumuman pun tiba, dimana guru kami mengumumkan nama-nama siswa yang lolos dengan menuliskannya di papan tulis, aku sangat ingat, namaku tersebut di nomor delapan, aku sungguh tidak percaya. Aku menangis dan bersujud syukur di tengah riuhnya teman-teman yang bersorak riang dan memberi selamat. Tentu saja, banyak hal butuh proses, dan aku sangat bersyukur, orang tuaku memberiku peluang untuk merasakan emosi negatif ketika gagal, merasakan cemooh, tatapan sinis orang lain dan membantuku bangkit secara perlahan.
Ketika pertama kali bergabung dengan “super class,” seharusnya ada rasa bangga. Namun, yang kuterima justru tawa sumbang dan sinis dari teman-teman orang tua, seakan-akan mereka ingin menyudutkanku kembali ke tempat semula. Mereka menganggap aku hanya numpang lewat. Kedudukan karier ayahku yang terus melejit membuat mereka mengira bahwa aku masuk ke kelas khusus itu karena bantuan ayahku atau bahkan uang. Aku tahu, dalam mata mereka, aku hanyalah kesalahan dalam daftar kelas. Namun, di balik setiap pandangan merendahkan, aku semakin kuat menahan langkah, bersumpah untuk mematahkan asumsi mereka.
Perjalananku selama tergabung dalam kelas super sangatlah tidak mudah, bagaimana bisa aku bertarung sekaligus berteman dengan anak-anak yang bahkan memiliki IQ terdefinisi sebagai superior dan jenius, sementara aku hanya rata-rata? Kelas super ini juga memiliki desain ujian dengan dua model yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sementara aku sangat kurang dalam Bahasa Inggris. Tentu saja aku merasa sangat tertekan karena kemampuanku yang rata-rata ini harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras dibanding teman-temanku yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Mayoritas dari mereka memahami pelajaran ketika di kelas sehingga tidak perlu menunjang banyak belajar di luar kelas, sementara aku harus belajar di luar kelas, mengikuti berbagai pelajaran tambahan dan masih merasa kesulitan.
Perjalananku terus tersandung selama kelas tujuh, meski kami menerima rapot tiga bulan sekali, aku tetap kesulitan mengejar ketertinggalan. Aku benar-benar frustrasi karena setelah selesai ujian akhir semester, namaku hampir selalu ada di semua mata pelajaran untuk melaksanakan remidi.hanya saja, semua rasa frustrasiku membawa pada sebuah pola, bahwa ujian tengah semester artinya aku harus membaca dan mempelajari buku setengah pada tiap-tiap mata pelajaran, sementara pada ujian akhir aku harus membaca, mempelajari sampai menghafal keseluruhan buku. Sejak itu aku mulai memiliki kemampuan self-reflection untuk mengevaluasi hasil akademikku. Aku juga menerapkan pola itu dan membawa hasil saat kelas delapan.
Setelah berjuang mati-matian selama satu semester, aku memasrahkan semuanya pada Allah dan bersantai dengan bermain game komputer di rumah. Beberapa saat kemudian, ayahku datang dan berkata bahwa ayahku sangat kecewa dengan hasil rapotku, aku segera mengalihkan perhatianku dari game kepada ayahku dengan mata berbinar-binar. Aku sungguh sakit hati karena aku telah mengerahkan semuanya, hanya saja tidak segera membuahkan hasil.
Beberapa menit kemudian, ayahku menjulurkan tangannya yang membawa sekantong plastik dan mengatakan bahwa aku peringkat dua, aku lemas dan menangis. Ayah memelukku erat. Aku tidak percaya ayahku mengerjaiku. Sekali lagi, rasa tidak berdaya itu terkalahkan. Setelah diriku mulai tenang, aku mulai membuka kantong plastik ayahku, di sana aku menemukan tumpukan ice cream untuk merayakan keberhasilan kecilku.
Di kelas sembilan, perjalananku tidak mulus lagi. Di sana persaingan kelas super semakin ketat, dimana kami akan selalu dipindah kelas sesuai dengan hasil try out terakhir, benar-benar membuat tertekan, tapi aku lebih rileks menghadapinya. Di sini aku menemukan teman-teman yang tulus, saling membantu dan bisa menyesuaikan waktu untuk bermain dan belajar. Kami selalu berhenti menggunakan gadget satu minggu sebelum ujian sampai selesai ujian untuk menghindari distraksi, selama itu pula kami belajar, saling bertanya dan saling membantu.
Masa-masa kelas sembilan adalah masa-masa paling berat di jenjang menengah pertama sekaligus menjadi masa-masa paling membahagaiakan karena mendapatkan teman-teman paling mendukung. Hari-hari menjelang ujian nasional kuhabiskan untuk belajar, terus menerus membaca, menghafal dan memahami, sampai hari penting itu tiba. Ujian nasional kami berjalan selama empat hari, pada hari pertama kami mendapat mata pelajaran Bahasa Indonesia, aku bisa mengerjakan dengan lancar, hanya saja, pada hari kedua di mata pelajaran matematika aku sangat kesulitan. Bahkan, sepulang ujian nasional matematika, aku mengayuh sepedaku sambil menangis sesenggukan karena mendengar dari guru dan teman-teman bahwa dua soal matematika adalah soal olimpiade. Aku sangat tertekan.
Keesokan harinya adalah ujian Bahasa Inggris, entah mengapa aku cukup mudah dalam mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris, mungkin juga dikarenakan aku menghafalkan kamus dan latihan membaca hampir setiap hari. Sementara itu, di hari terakhir aku bertemu mata pelajaran IPA yang terdiri dari biologi, fisika, kimia. Hari demi hari berlalu, minggu demi minggu berlalu hingga hari pengumuman kelulusan pun tiba, di sana aku terkejut sekaligus bersyukur, meskipun kesulitan matematika, aku tetap dinyatakan lulus dengan skor 87,5 yang artinya salah 5 soal dari 40 soal, sementara Bahasa Inggris memperoleh skor 96 yang artinya hanya salah dua dari 50 soal.
Satu minggu setelah ujian nasional adalah jadwal tes ke madrasah negeri terbaik di kota kami. Aku sangat bersyukur karena memperoleh rasa percaya diri lebih untuk mendaftar ke sana. Satu minggu itu kumanfaatkan untuk belajar tumpukan buku materi tes yang akan diujikan. Kukumpulkan tumpukan buku agama Islam dari kelas tujuh sampai kelas sembilan. Kutulis kata-kata penyemangat dan kutempel di dinding. Satu minggu ini aku hanya fokus belajar mata pelajaran agama Islam karena aku merasa sudah sangat cukup belajar pelajaran umum selama persiapan ujian nasional. Satu minggu kemudian, aku menjalani ujian dengan lancar meski dengan kendala kesulitan tidur, insomnia, kekurangan tidur. Setelah ujian, aku memutuskan untuk tidur seharian, memberikan apresiasi pada diri.
Keesokan harinya, tepat beberapa menit setelah shalat subuh, pengumuman kelulusan diumumkan di web sekolah. Aku bersama ayah dan ibuku melihat bersama dan lolos. Alhamdulillah, lolos di madrasah terbaik di kotaku tentu saja sangat membanggakan dan membuat lega. Kami berpelukan di pagi hari dan tangis haru pun kembali pecah. Hanya saja, kesenangan ini tentu saja masih menyulut cibiran orang-orang yang berpikir aku menggunakan ketenaran ayahku untuk masuk sekolah favorit, tapi aku hanya mengabaikan. Mereka tidak tahu, dan aku merasa tidak perlu menjelaskannya.
Saat SMA, kelas IPA terasa seperti labirin tanpa ujung. Setiap kali nilai turun, semangatku semakin pudar. Aku terjebak di urutan ketiga dari bawah, meskipun karya-karyaku mulai menghiasi halaman-halaman koran. Rasanya, ingin segera melepas seragam dan terjun sepenuhnya di dunia menulis. Namun, aku memilih untuk bertahan, berusaha agar prestasi di bidang akademik sejalan dengan mimpiku di dunia sastra.
Perjalanan di madrasah aliyah tentu saja tidak mudah, aku harus bersaing dengan anak-anak terbaik di sini. Aku bahkan masuk kelas IPA paling akhir yang sering disebut sebagai kelas semi IPS. Awalnya, aku yakin benar-benar bisa menghadapi karena aku pernah terpilih lolos olimpiade fisika, hanya saja, semua tentu saja di luar ekspektasiku. Aku sangat kesulitan berjuang di kelas ini, aku sangat kesusahan sampai akhirnya, aku yakin memutuskan untuk melepas pelajaranku di semester dua untuk fokus belajar persiapan tes perguruan tinggi. Aku telah melepas nilai rapotku terjun ke jurang paling bawah untuk fokus pada hobi passion menulis dan tes perguruan tinggi.
Meski orang tua merestuiku untuk mengubah fokus, tapi tentu saja tidak mudah. Setiap ibuku mengambil rapot, aku selalu minta maaf karena nilaiku selalu buruk, aku juga menjadi sangat terasing karena mengasingkan diri. Aku merasa diriku berbeda dan banyak orang tidak memahamiku, sehari-hari sering kuhabiskan waktu untuk menulis cerita-cerita pendek, mengungkapkan emosiku dan bercinta dengan kata-kata. Aku mengirimkan berbagai karyaku ke blog, lomba dan pada akhirnya orang tuaku mendukungku untuk menerbitkan buku pertamaku. Karya ini lantas menjadi viral di kalangan teman-teman sekolahku.
Beberapa dari mereka membeli karyaku, memujiku dan aku mendapat kesempatan wawancara bersama wartawan Radar dan didokumentasikan sebagai siswa berprestasi di kalender sekolah sebagai penulis novel serta beberapa cuplikan novelku dikutip guru di soal ujian. Ketika kita melihat hal yang menyenangkan pada diri orang lain, jangan lupa bahwa Tuhan telah mengambil suatu hal dari dirinya yang mungkin saja kita tidak tahu. Aku kehilangan banyak waktu bermain, bersosialisasi, menjadi terisolasi dan hidupku terlalu serius, aku bahkan pernah merengek pada orang tua untuk berhenti sekolah karena aku ingin fokus bekerja menulis. Meski hari-hari ini aku masih menyesali masa-masa itu, tapi aku tetap bersyukur, ada hal bermanfaat yang kuhasilkan.
Setahun berlalu, kelas 12 adalah salah satu dari masa paling berat dalam hidupku. Stres berat di awal kelas 12 membuatku terjangkit diare selama berhari-hari sampai aku tidak bisa berdiri, lebih banyak menghabiskan waktu di kasur. Hari-hari itu meski aku sedang kesakitan, aku masih membawa buku ke UKS. Tahun itu, kami diberi kesempatan untuk memilih pelajaran peminatan sebagai mata pelajaran ujian nasional dan aku memilikih kimia. Aku tidak terlalu berambisi memperoleh skor tinggi karena bagiku lulus sudah cukup. Aku sangat fokus mengejar tes perguruan tinggi.
Proses memilih perguruan tinggi tentu tidak mudah karena cukup membingungkan, banyak pertimbangan yang kupikirkan saat itu. Pada awalnya, aku memilih pendidikan fisika atau kimia, pendidikan Bahasa Indonesia. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, ketika aku bersimpuh setiap malam meminta petunjuk, tiba-tiba Allah mengaitkanku pada Kota Malang. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba aku justru mantab untuk memilih psikologi. Psikologi pada pilihan pertama dan kedua, sementara pilihan terakhir adalah pendidikan Bahasa Indonesia, sangat di luar dugaanku dan keluargaku.
Setelah mengerahkan seluruh tenaga untuk berikhtiar, aku memasrahkan hasil pada Allah dengan bertawakkal. Menurut prediksiku, aku akan sangat berpeluang lolos di UIN Malang karena hasil try out ku jauh di atas standar, dan sedikit sulit untuk lolos UM karena nilaiku agak sedikit kurang. Hanya saja, keajaiban itu tiba ketika melihat hasil pengumuman bersama orang tuaku, Allah mengabulkan doa-doaku, aku lolos pilihan pertama.
Saat kuliah S1 Psikologi, seperti menemukan bagian dari diriku yang hilang. Mata kuliahnya begitu menggugah, hingga aku tak jarang terjaga semalaman, terpesona pada konsep dan teori yang membuka cakrawala baru. Dalam perjalanannya, aku menemukan sebuah pencerahan lewat istikharah, sebuah doa yang tak pernah terbayang sebelumnya. Di sini, aku tidak hanya belajar tentang ilmu, tetapi juga tentang diriku sendiri.
Setelah lulus dari sarjana, aku sangat rindu dengan Malang. Hatiku terasa hampa ketika menatap jendela kamar. Selain Malang, aku rindu kenangannya. Rindu ruang kelas, buku perpustakaan, dosen, hari-hari berat selama kuliah dan hal-hal yang membuat dadaku sesak. Aku dihimpit rindu sepanjang 2021, sampai akhirnya kuputuskan untuk mengobati rindu dengan mengerahkan seluruh uang gajiku untuk kursus persiapan magister pada tahun 2022. Aku telah mengambil risiko besar. Aku harus mengobati rinduku yang tak kunjung padam.
Sepanjang 2022 aku bersikeras untuk belajar. Bukan keberhasilan yang kutemui, tapi kegagalan yang tak berujung. Aku benar-benar lelah, berkali-kali ikut tes, berkali-kali pula aku gagal. Aku berada di fase drained. Berminggu-minggu itu aku hanya berputus asa meratapi nasib sembari menonton drama korea setiap malam, aku merasa kehilangan asa.
Sampai dititik, aku telah jenuh. Aku bosan berhari-hari, berminggu-minggu menonton drama korea, pada awal tahun 2023 aku mencoba untuk memaafkan. Memaafkan diriku yang gagal dan mencoba membuka lembaran baru. Tahun 2023, aku mencoba membuat agenda konseling gratis ke panti asuhan, menemani dan membantu mereka mengarahkan masa depan mereka. Diriku perlahan merasa lebih bermakna.
Ketika akhir Maret 2023 ada pengumuman event pemuda pelopor aku mengikutinya, dan terpilih mewakili kota ke provinsi pada jenjang pendidikan. Sejak itulah aku mulai merefleksikan dan berpikir ulang tentang tujuan hidupku, aku merasa sedang berlomba dengan usia produktifku sebagai perempuan, jadi kuputuskan untuk kuliah di kotaku pada Mei 2023 di dua program studi sekaligus, S1 Pendidikan Bimbingan dan Konseling, S2 Manajemen.
Tahun ini menjadi tahun tersibuk bagiku, aku harus menjalani dua kuliah di hari Jum’at dan Sabtu. Meski berat, kujalani dengan sangat senang karena rasa rinduku telah kubayar tuntas. Masa kuliah magister membawaku pada rintangan baru. Tiap kali ujian tiba, aku adalah satu-satunya yang tak pernah menerima kartu ujian tepat waktu. Alasannya hanya satu: biaya kuliah yang tak mampu kubayar tepat waktu. Setiap kali masuk ruang ujian, aku merasa seperti seorang pejuang yang terluka, namun tetap berjalan dengan kepala tegak, menyembunyikan kelemahan di balik setiap langkah.
Sebagai anak pertama, aku sering dihadapkan pada kritik yang tak pernah habis. Ibuku selalu memandangku sebagai panutan, dan tanggung jawab itu berat bagiku. Harus mengalah pada adik, bahkan ketika dia salah, menjadi bagian dari hidupku yang tak bisa kuhindari. Keinginan untuk bebas kadang menyelinap di tengah malam, namun aku tahu, ada beban yang harus kupikul dengan tabah. Di dalam diam, aku berdoa, berharap ada cahaya yang akan membawaku keluar dari bayang-bayang yang membelenggu.
Meski begitu, ibu adalah perempuan tangguh yang menjadi cerminan hidupku. Beliau adalah wanita karier sekaligus ibu rumah tangga yang kuat. Dulu di awal kami merantau dari kota asal, kami menghadapi goncangan ekonomi luar biasa, ayah yang sakit berat, tapi ibu tegap berdiri menjadi tameng dan daya juangnya Bagai bara api yang tak pernah padam. Begitu pun, ayah. Sosok yang hangat, selalu percaya pada mimpi-mimpiku meski terkesan tidak mungkin. Beliau lah yang kehangatannya menyinari keluarga kami dan membuatku berani menembus empat dinding batas hidupku.
Ibu, memberiku banyak luka. Meski ibu selalu ingin aku bangkit, tapi kata-katanya selalu menyakitkan. Bahkan kata-katanya masih terngiang ketika aku menulis kisah ini. Kata-kata merendahkan, tidak memercayai kemampuanku, suaranya yang meninggi masih terngiang. Begitu pun ekspresi kecewa ayah yang menggetarkan hati sanubariku. Pengalaman negatif ini pada akhirnya mengantarku pada hari ini, seorang perempuan yang memiliki tekad dan kelentingan yang kuat, layaknya busur panah yang telah dilepaskan, enggan berbelok hingga tiba pada tujuan. Begitu kuat, kokoh dan tajam.
Kini, setiap langkahku adalah penghargaan untuk diriku yang dulu pernah diremehkan, dihina, bahkan diabaikan. Setiap pencapaian adalah pelita yang menuntunku keluar dari bayang-bayang masa lalu, menuju puncak yang selama ini kurindukan. Aku ingin kisah ini menjadi pesan bagi setiap jiwa yang pernah merasakan rendah diri, bahwa ada cahaya di ujung jalan, selama kita berani melangkah.
BIOGRAFI PENULIS
Kesulitan Farah dalam mengekspresikan perasaan, membuat Farah mengungkapkan rasa di dalam dirinya melalui menulis.rasa kesepiannya yang tidak memiliki banyak teman, membuatnya banyak mengungkapkan cerita yang ia lalui di berbagai platform dari blog, jurnal ilmiah sampai buku. Pada karya tulis tesisnya, ia mengekspresikan kegundahan hatinya melalui tulisan ilmiah.
Beberapa karya yang dihasilkan: (1) Cum Laude (2016)-Zukzes Express: novel pertamanya yang dimuat Radar Kediri karena menjadi remaja pertama Kediri yang menghasilkan novel di usia 16 tahun, (2) Jalan Dakwah Sparta Muslim Eropa (2018)-UKMP Publishing: kecintaanya terhadap sepak bola dan Islam membuat hatinya tergerak untuk menulis buku ini, (3) Everyday in My Life (2023)-Diva Press: membahas beberapa variabel psikologi yang diceritakan dengan bahasa informal, santai dan mengajak pembaca untuk melepas emosi negatif dengan menulis, (4) Buku Ajar Bimbingan dan Konseling (2023)-CSM Publishing: beberapa guidance bagi guru BK dalam menjalankan kurikulum merdeka, (5) Rejection (2024)-Dio Media: Menggugah rasa, luka, sakit hati dan obat dari penolakan yang telah ia rasakan bertahun-tahun, (6) Pewaris Jiwa (2023) pada aplikasi Karya Karsa yang menceritakan kisah seorang psikolog-konselor yang harus berjuang menyesuaikan diri antara profesi, kepribadian, ambisi dan kisah cinta.
Sejak 2021, Farah juga menulis beberapa prosiding ilmiah yang sudah publish dan jurnal ilmiah, buku yang masih menjadi proyek rahasia. Jika Anda ingin berdiskusi dan bekerjasama bisa menghubungi via Instagram @farahasyahidah atau e-mail [email protected].