Tak Ada Harapan yang Datang Terlambat
Oleh: Foggy FF

Gambar: Aku dan buku baruku di Toko Buku Gramedia
Sejak kecil, aku mencintai dunia tulis menulis, mencipta semestaku sendiri dari bangunan imajinasi yang aku rangkai. Menulis mewujudkan sebuah harapan baru, bahwa hari di depan akan berjalan baik-baik saja, dengan membangun cita-cita yang aku mau. Namun, ternyata hidup tak selalu berjalan linier dan sesuai mau kita.
Hari-hari yang aku jalani ketika remaja berlalu dalam keheningan, menandai waktu yang berlalu. Setiap kali menjelang malam menuju peraduan, aku merasakan kesepian yang amat sangat, kadang hatiku terasa kebas tak tahu harus merasa seperti apa. Bahkan saat duduk di meja tulis, menatap kertas yang masih putih kalis di depanku, kesunyian menyergap bak serangan nyamuk dari segala arah. Ketika jari-jari menari di atas keyboard, sebuah perjalanan panjang terlintas dalam ingatanku—perjalanan mimpi yang sering terhalang oleh kondisi mentalku sendiri. Apa aku sanggup untuk menjadi seorang penulis?
Saat itu, aku mulai menulis banyak karya, puisi, prosa, cerita, bahkan novel yang tak selesai-selesai. Tapi, mimpi tinggal mimpi, kondisi mentalku akhirnya menyebabkan setiap harapan itu pupus. Aku berhenti menulis, dan membiarkan mimpi yang satu itu ranggas perlahan-lahan. Menyerah pada kondisi mental yang tak stabil.
Di usia remaja menuju dewasa, saat seharusnya mimpi-mimpi menjelma dalam semangat dan keberanian, aku terjebak dalam gelombang emosi yang tak menentu, depresi merenggut hari-hariku. Rutinitas yang sibuk bisa dengan mudah berubah menjadi mendung dalam sekejap. Aku ingat bagaimana pikiranku sering kali menjadi labirin, membingungkan dan menyedihkan. Tak ada lagi keinginan untuk menjadi seorang penulis, sebuah impian yang kutemukan di antara halaman-halaman buku yang kucintai, sering kali harus mundur menjadi bayang-bayang yang tidak pasti cuma karena mood-ku naik turun.
Di dalam ruang hampa pikiranku ini, aku berusaha mencari suara yang aku butuhkan untuk dijadikan inspirasi dalam menulis, tapi kadang gagasan hilang begitu saja. Aku terpuruk, dan merasa sesak untuk melalui hari demi hari. Label pun mulai datang dari sana-sini, ‘aku si mental rapuh’.
Menulis adalah sebuah pelarian yang masih kulakukan saat-saat senggang, tetapi di saat-saat terburuk, kata-kata sering kali terasa begitu jauh, seolah meluncur dari jari-jariku, menyisakan hanya rasa kebas yang kadang mendera pikiran tak berhenti. Setiap kali aku mencoba untuk mengekspresikan diriku, ada suara di dalam yang berkata, “Tidak, kamu tidak bisa. Apa yang akan orang lain pikirkan?”
Masa remaja bukanlah waktu yang mudah, dan dengan berbagai tantangan mental yang harus kuhadapi, aku terpaksa menunda harapan tersebut. Aku terjebak dalam rutinitas yang monoton, di mana kata-kata yang kucari bersembunyi di balik tirai ketakutan dan keraguan. Tetapi di balik semua itu, keinginan untuk mewujudkan mimpi menjadi penulis tetap ada meskipun redup. Saat itu, untuk hidup ‘dianggap normal’ saja rasanya kok sulit.
Sekarang, di usia yang tidak lagi muda, aku menemukan diriku kembali pada panggilan yang pernah kuabaikan. Seiring dengan waktu yang berlalu, aku belajar menerima diri sendiri dengan segala ketidakstabilan yang pernah ada. Memahami bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali adalah pelajaran berharga. Dengan setiap kata yang kutulis sekarang, ada rasa lega, seolah setiap huruf yang terukir di kertas menghapus jejak ketidakpastian yang pernah membelenggu. Aku merangkai kembali harapan yang pernah pupus, perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit mulai berani.
Memilih beragam profesi, pernah menjadi salah satu jalan yang aku tempuh. Menjadi pedagang, bekerja pada orang lain, bahkan mengais rejeki pada hal-hal yang tidak memiliki kepastian, tapi saat itu aku tidak menyerah. Aku hidup hingga hari ini dari keinginan-keinginan yang terserak, mencoba bertahan meski tidak mudah.
Aku memulai berbagai tulisan, tentang diri sendiri sebagai cara untuk berbagi perjalanan yang panjang dan berliku. Setiap halaman adalah catatan tentang bagaimana aku belajar mencintai diri sendiri, meskipun dengan semua kekurangan. Mimpi ini mungkin datang terlambat, tetapi aku belajar untuk tidak menganggapnya sebagai sebuah kelemahan, melainkan sebagai sebuah daya juang dan persistensi.
Melalui tulisan ini, aku ingin mengingatkan semua yang membaca bahwa tidak ada batasan usia untuk mengejar mimpi. Setiap momen adalah kesempatan untuk belajar dan tumbuh, meskipun kita harus menghadapi kenyataan pahit tentang ketidakstabilan mental yang mungkin kita alami. Setiap langkah yang kuambil adalah perayaan, bukan hanya untuk keberhasilanku, tetapi juga untuk semua perjalanan yang telah kutempuh.
Mimpiku menjadi penulis adalah perjalanan seumur hidup, dan kini, aku merangkul setiap kata, setiap cerita, dan setiap momen untuk dijadikan sebuah karya berkelanjutan. Tidak ada lagi ketakutan, hanya keberanian untuk menulis dan merangkai kata-kata yang mungkin sudah lama hilang. Inilah saatnya untuk membuktikan bahwa mimpi, betapapun terlambatnya, tetap layak untuk diperjuangkan.
Proses perjalanan panjangku, meski terantuk beragam rintangan, pada akhirnya bermuara juga pada pertemuan dengan orang-orang yang memfasilitasi karyaku. Seperti juga diri ini yang belum menyerah, orang-orang di sekitarku tahu kalau aku punya harapan besar pada dunia kepenulisan.
Tahun 2012, sebuah permulaan penuh harapan membuka jalanku untuk mulai berharap lagi pada dunia menulis. Pada tahun-tahun itu, aku memulai perjalanan menulisku yang pertama, menautkan kata-kata yang terangkai sederhana untuk mereka yang berusia belia. Buku anak-anak dan buku pelajaran yang aku tulis seakan memiliki denyut kehidupan tersendiri, seperti embusan angin pagi yang ringan dan mengayomi, mengantarkan anak-anak pada pengetahuan baru, senyuman baru, mimpi-mimpi baru. Kala itu, aku kira segalanya berjalan mulus; ada tekad, ada semangat, dan ada keyakinan, dan pada akhirnya bisa berjalan selama beberapa tahun.
Namun, waktu adalah kawan yang selalu berjalan tanpa peduli pada rencana-rencana kita. Beberapa tahun berlalu, dan aku mulai merasakan sesuatu yang mengganjal lagi, sesuatu yang mengaburkan batas antara kenyataan dan perasaan. Pada saat itu, aku tak menyangka bahwa yang datang adalah tamu lama: kemurungan yang dalam, menggema di sudut-sudut sunyi yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Depresi datang lagi, mengetuk isi kepalaku hingga kembali gelap dan sepi, dan semuanya tentu tak dapat diabaikan. Rasanya seperti berjalan di labirin tanpa ujung, menulis kata-kata yang seolah kehilangan makna, tenggelam dalam keheningan yang membekap kembali.
Dalam setiap halaman yang kosong, aku mencoba mencari jalan keluar, mengurai pikiran-pikiran yang mengurung diri dalam kegetiran. Dunia anak-anak yang ceria dan riang yang pernah aku ciptakan saat itu tiba-tiba terasa asing, seperti pantulan masa lalu yang sulit aku raih. Tapi, di sanalah, aku tetap duduk, menulis—berharap, dalam setiap kata yang lahir, aku mencari setiap kepingan yang bisa membuat kepercayaan diriku pulih, dan mungkin, juga menemukan kembali cinta yang dulu aku miliki untuk untuk dunia literasi.
Seperti sebutir benih yang hampir kering, tubuhku terbaring kaku, tenggelam dalam bayang-bayang kesunyian. Ketika depresi merangkulku erat, rasanya tak ada lagi kekuatan untuk berpijak. Dunia seolah mengecil, mendekap terlalu dekat, menyesakkan—hingga sulit bernapas. Aku mengalami komorbid kondisi mental, selain depresi, kecemasan bahkan serangan panik nyaris membuat fisikku juga tak berfungsi. Banyak yang mengatakan, mungkin aku kurang bersyukur, mungkin aku kurang berdo’a. Stigma-stigma begitu membuatku semakin terpuruk, bahkan sering benci pada diri sendiri.
Saat terpuruk kembali setelah beberapa tahun mendapatkan kestabilan, keluargaku tak pernah lelah menyalakan obor kecil di tengah gelap yang kuhadapi. Seperti cahaya yang merayap pelan melalui celah-celah pintu, mereka tak henti mencoba untuk meraihku kembali, menyadarkanku dengan penuh kasih dan membangun rasa percaya diriku, kalau aku akan baik-baik saja. Begitu pun pasanganku, yang hadir tanpa kenal lelah dan memberikan keyakinan kalau aku bisa kembali membuahkan karya tanpa harus ragu, menuntunku dengan sabar pada langkah-langkah yang seakan-akan telah kulupakan. Aku diperkenalkan pada ragam pemahaman, bersama tenaga profesional kesehatan mental.
“Kita akan cari jalan,” pasanganku selalu mengatakan itu dengan yakin dan teguh. Ia menguatkan, tanpa perlu kata-kata berlebihan, dan aku tahu ia serius dengan keyakinannya. Langkah itu membawaku pada sosok-sosok profesional yang mendengarkan segala kebisuan yang aku pendam, segala duka yang mengendap di dasar.
Hari demi hari, kunjungan demi kunjungan, aku mulai menyadari, bukan mereka yang menyeretku keluar, tetapi mereka memanggilku pulang—kembali ke diri yang dulu pernah percaya, yang dulu pernah yakin bahwa menulis adalah jembatan harapan yang tak pernah benar-benar runtuh. Seiring waktu, benih itu kembali bersemi. Kata-kata yang lama terpendam di sudut pikiran, mulai merangkai dirinya sendiri, menjelma menjadi harapan baru—untuk menulis, untuk berbagi cerita. Dan mungkin, dari serpihan kecil itu, aku bisa menumbuhkan pohon kepercayaan lagi; untuk diriku sendiri, untuk dunia, untuk pembaca karya-karyaku.
Di dalam batin dan pikiran yang porak-poranda, ada benih harapan yang mulai menyala seperti suar, menanti untuk dinyalakan hingga berkobar dan membuatku mau berjuang. Setiap kali ingin menyerah, secercah suara kecil mengingatkan bahwa aku masih ada, aku masih di sini, dan dunia ini pun masih menyisakan ruang untuk segala ketidaksempurnaanku.
Ada masanya dalam hidup ketika rasa ingin sembuh berpendar begitu saja, bukan dari kata-kata orang, bukan pula dari nasihat yang diucap hati-hati. Di kedalaman kelam, ada setitik bara yang datangnya dari nurani, nyala suar kecil yang mengisyaratkan: “Aku harus bertahan dan berjuang.” Begitu jugalah dengan keinginan untuk berdamai dengan diri sendiri—lahir dari pergulatan yang tak terkatakan, dari luka-luka yang ingin dipeluk alih-alih dilupakan. Aku sadar, semangat itu tak serta-merta hadir di atas angin. Ia tumbuh di antara kekurangan, yang entah sejak kapan mulai kuanggap bukan sekadar cacat, melainkan bagian dari narasi hidup yang harus aku jalani.
Menulis, lama terasa sebagai mimpi yang beku. Pernah kusangka semangat itu telah terkubur, tetapi nyatanya, di sela-sela keterpurukan dan saat-saat paling gelap, semangatku menulis masih menyala, berpendar kecil, seperti cahaya lilin yang tak henti memanggil. Seolah berkata bahwa, meski jalan masih panjang, asa tak pernah benar-benar pudar. Di situ kutemukan harapan—harapan untuk menulis, untuk merangkai kata yang menyembuhkan, baik bagi diri maupun yang mungkin membaca karya-karyaku.
Di setiap ujung malam, ketika sepi merambat seperti kabut tipis yang menjebak aku untuk merasa tak berdaya, ada suara lirih dalam pikiran yang berbisik pelan—bahwa aku harus sembuh, bangkit dan merengkuh semua luka sebagai bagian dari diri. Aku mulai menantang diri, memberanikan langkah kecil: mengikuti lomba-lomba menulis. Kadang aku menang, kadang hanya juara harapan, tetapi kemenangan terbesar adalah berani mencoba. Setiap kata yang kutulis semakin mempertebal tekad untuk terus menggoreskan cerita. Beragam kompetisi menulis aku ikuti, sekarang aku sadar, sekecil apapun sebuah karya adalah benih perjuangan bagi jiwa yang tak mudah menyerah.
Momen ketika kesempatan itu akhirnya datang, layaknya harapan yang ternyata masih ada, menyusup ke ruang-ruang nyata kehidupanku. Tawaran untuk menulis novel pertama datang dengan rasa takjub, campur aduk dengan kebingungan—apakah aku benar-benar siap? Namun, di setiap lembar yang kutulis, aku menemukan kembali gairah yang dulu pernah pudar. Novel pertamaku lantas lahir.
Saat novel pertama itu tercipta dengan paripurna, diiringi oleh kehadiran novel kedua dan ketiga beberapa bulan kemudian, harapanku yang dulu hampir mati kini tumbuh lagi. Aku belajar menerima perjalanan yang berliku ini sebagai bagian dari proses yang indah—bahwa di balik setiap kesulitan, ada kerinduan yang pelan-pelan menemukan bentuknya kembali. Menulis tak lagi sekadar tuntutan; ia berubah menjadi pelarian, penawar, bahkan mungkin takdir yang harus aku jalani agar bisa bersuara. Bagi mereka yang membutuhkan pegangan tangan.
Dengan setiap halaman yang terbit, aku merasa semakin dekat pada mimpi yang selama ini hanya kurasakan samar-samar di balik keraguan. Kepercayaan itu kembali hadir, bahwa aku layak, bahwa kisah-kisah ini—meski sederhana—punya makna tersendiri.
Setiap novel yang kutulis adalah perjalananku melebur dengan waktu. Bukan sekadar cerita yang membentang dalam ribuan halaman, tetapi peluh dan air mata yang tercurah tanpa jeda. Di dalamnya, selalu ada bagian dari jiwaku yang berjuang untuk berdamai dengan kenyataan, seakan menari di antara desir angin masa lalu dan derasnya waktu yang bergulir.
Ketika menulis, aku tak hanya sekadar merangkai kata, tetapi juga menggali makna terdalam dari apa yang mungkin sulit diucapkan. Di sana, ada doa-doa yang tak terucapkan, dan luka yang perlahan menjelma menjadi kekuatan. Setiap tokoh yang kubangun membawa sepenggal kisahku, menghadapi badai dan hening dengan cara mereka sendiri. Terkadang, mereka memberiku cermin untuk menatap diriku yang kerap tersesat, dan terkadang mereka menjelma menjadi api yang menyala, menyulut semangat untuk tetap hidup, untuk membaginya pada pembaca.
Setiap buah karya bukan sekadar tulisan sepintas lalu; mereka adalah harapan yang terpahat, daya juang yang tak mengenal lelah, dan caraku memaknai hidup yang terus bergerak. Mengemas benih pikiran dengan idealisme yang tersirat pada karakter-karakter dalam novel bisa menciptakan kedalaman tersendiri, terlebih jika menggunakan bahasa yang aku suka. Aku bisa menampilkan idealisme itu melalui karakter-karakter yang berani menentang arus, tetap teguh pada nilai-nilai tertentu, atau memilih jalan hidup yang tidak biasa, namun mengisahkannya tanpa harus menjelaskan secara gamblang.
Dengan gaya bahasa sastra, idealismeku bisa hadir melalui metafora, simbolisme, atau deskripsi puitis, memberikan nuansa reflektif dan melankolis yang kuat pada perjalanan karakterku. Semua yang membuat aku gelisah hadir di sana, membongkar perjalanan panjang dan keresahan yang ada dalam pikiran, tentang beragam isu di sekitarku.
Saat mendeskripsikan karakter yang menghadapi dilema moral atau ketika tokohku bertindak dengan prinsip yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya, aku menggunakan simbol-simbol alam atau warna-warna tertentu yang menggambarkan perjalanan batin tokoh yang aku buat. Mereka seolah hidup, mewakili nilai yang aku using.
Menggabungkan riset dengan karya fiksi dan menekankan logika dalam membangun dunia imajiner, membuatku merasa bisa memberikan kedalaman dan kredibilitas pada cerita. Kekayaan diksi dan cantiknya kata-kata, juga menambah keindahan dan kekayaan dalam penyampaian cerita, itu yang membuat sastra seolah jadi candu buatku.
Ada satu waktu, ketika aku meraba-raba identitasku sebagai penulis, terkadang batinku dipenuhi keraguan. Mengapa aku memilih jalan ini? Mengapa aku merasa perlu menulis tentang isu-isu yang mungkin dianggap remeh oleh banyak orang? Isu lingkungan hidup, pemberdayaan perempuan, dan harapan bagi mereka yang berjuang dengan gangguan kesehatan mental—semua itu terasa seperti beban berat di pundakku. Namun, semakin aku tenggelam dalam rangkai kata yang cipta, semakin aku menyadari bahwa tulisan bukan sekadar untaian kalimat. Ia adalah suara, sebuah alat untuk menyuarakan apa yang tak terdengar.
Lingkungan hidup, misalnya. Dalam setiap cerita yang kutulis, kutanamkan rasa cinta pada alam. Melalui karakter-karakter yang aku ciptakan, aku ingin pembaca merasakan bagaimana air sungai yang jernih, udara segar yang berhembus, dan pepohonan yang tumbuh rimbun adalah hal yang harus diperjuangkan agar bisa hidup berkelanjutan. Mereka adalah bagian dari kita, dan kita adalah bagian dari mereka.
Saat bicara tentang isu perempuan, aku teringat akan sosok-sosok kuat di sekelilingku. Ibu, sahabat, dan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah yang sering kali terpinggirkan. Dalam setiap narasi, aku berusaha menampilkan kekuatan dan keberanian perempuan-perempuan ini. Sebuah pesan bahwa perempuan tidak hanya bisa menjadi inspirasi, tetapi juga agen perubahan. Dalam kisah fiksi yang aku ceritakan, mereka bangkit melawan berbagai rintangan, dan dari sana, aku berharap para pembaca dapat merasakan kekuatan untuk berdiri tegak, tidak peduli seberapa berat tantangan yang dihadapi.
Dan hal paling berat dan berkelok adalah ketika harus menceritakan tentang jiwa, satu tema yang selalu menggetarkan hatiku. Kesehatan mental, di sinilah, aku meletakkan harapan dalam setiap karya. Melalui karakter-karakter yang berjuang dengan kecemasan dan ketidakpastian, aku ingin membagikan pesan bahwa tidak ada yang salah dengan meminta bantuan. Dalam setiap kalimat yang kutulis, aku menyisipkan harapan bahwa di tengah kegelapan, masih ada cahaya. Kekuatan untuk bangkit, untuk percaya bahwa kita tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Semua tema yang diangkat dalam fiksi, adalah bagian dari diriku. Menggenggam pena, sama dengan menggenggam harapan. Sebuah mimpi untuk diri secara pribadi, dan bagi semua yang membaca karyaku. Semoga, di antara ribuan kata, ada satu yang bisa mengubah cara pandang seseorang. Ada satu yang bisa menyelamatkan seseorang dari keterpurukan. Di sinilah aku, berdiri di tepi samudera kata, siap melangkah lebih jauh. Dengan harapan besar mengarungi profesi kepenulisan, aku membangun sebuah jalan untuk melangkah tak hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain yang mengalami kegelapan yang sama sepertiku.
Harapan tak pernah datang terlambat. Di titik manapun kita siap untuk melangkah, dan menengok kembali apa yang pernah kita cita-citakan, di titik itu pulalah kita akan kembali pulang pada mimpi yang nyaris kita lupakan. Ini aku, penulis yang nyaris menyerah karena kondisi keterpurukan.
***
Foggy FF
Seorang novelis dan cerpenis, tiggal di Bandung. Telah melahirkan beberapa buah novel, antara lain: Novel Bodhi & Zaina Playlist, Novel Braga at Paris Van Java, Antologi Sepotong Kisah di Balik 98 sebagai pemenang Kompetisi Menulis Kwikku. Serta baru saja menerbitkan buku self-improvement “Melihat Lebih Jernih”, memoar penulis menghadapi Anxiety.
Instagram : @halamanhalimun