Memoar

Belajar dari yang Tau, Bukan yang Tua

In Memoriam (alm) Profesor Iswandi Anas Chaniago

Oleh Muhamad Kundarto

Grup WA Komunitas Menulis Memoar yang dibuat oleh Penerbit Diomedia sejak 19 Maret 2021 memiliki anggota lebih dari 150 orang dan kebanyakan masuk usia ‘super senior’. Salah satunya adalah Prof. Iswandi Anas Chaniago, Guru Besar Emeritus Bidang Ilmu Tanah IPB. Sosok beliau sangat mengagumkan. Walaupun gelarnya sudah mencapai puncak tertinggi, didukung penguasaan ilmu dan pengalaman sangat banyak, tetapi selalu tampil merendah, mau berkomunikasi dengan siapa saja, dan suka berbagi cerita.
Saya termasuk yang beruntung bisa kenal beliau karena berada pada grup yang sama, walaupun belum pernah ketemu langsung. Tak ada kesan ‘jaim’ (jaga image). Obrolannya pun spontan dan terbuka apa adanya. Pernah sudah waktu di akhir September 2021, sambil obrolan santai di grup, saya menyampaikan hobby setengah berbakat tentang kemampuan membaca karakter/sifat orang dan pikiran orang. Beberapa peserta bertanya dan saya pun menjawab sesuai kemampuan. Eh, Prof. Iswandi malah langsung inbox konsultasi beberapa foto minta ditebak apa karakternya. Alhamdulillah hasil analisis saya cocok dengan kesan beliau pada orang-orang dalam foto tersebut.
“Saya sering dikerjain orang,” kata beliau curhat.
“Mungkin karena Bapak terlalu baik dengan banyak orang, jadi suka dimanfaatkan,” komentarku saat itu.
Obrolan pun berlanjut dengan beliau minta kontak nomor WA dua dosen seniorku di Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta. Saya pun menawarkan ke beliau untuk masuk ke grup HITI, jawabnya :
“Jangan dulu, nanti deh,” kata beliau.
Namun beliau sangat rajin share ilmu, pengalaman dana makalah ilmiah. Khusus untuk materi ilmiah, beliau minta di-share ke beberapa grup akademisi biar lebih manfaat.
Beliau sangat senang ketika tulisan kisah perjalanan dibaca oleh cucunya. Sang cucu yang baru pulang sekolah langsung berteriak,
“Eyang hebat!, kawan-kawanku suka sekali membaca memoar Eyang. Eyang suka kerja keras ya? Aku dan kawan-kawanku jadi semangat. Tulis lagi ya Eyang,” pinta sang cucu Safira sambil mencium kening Eyangnya.
Perasaan beliau sangat berbunga-bunga. Tujuan menulis tercapai, yaitu agar orang-orang dekat, terutama cucu, tahu bahwa beliau “benar-benar berjuang”.
“Mudah-mudahan mereka bangga dan ikut bersemangat dalam menjalankan kehidupan ini,” kata beliau.

Beliau mengenang sejarah masa lalu. Nenek moyangnya terkenal sebagai pekerja keras. Apalagi beliau sebagai perantau, harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup. Sehingga keluarga besarnya punya banyak harta pusaka berupa sawah, tegalan, ternak kuda, kerbau dan sapi sampai ratusan ekor. Namun akibat perang PRRI, semua habis dirampas. Bahkan sampai lama tidak makan nasi.
Beliau pernah bercerita, sekitar tahun 1987, menemani 11 orang Perancis yang mengunjungi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Jawa Barat, serta lanjut tour ke Bali. Ada kenangan saat makan Dadiah (susu kerbau yang dibekukan) atau disebut Mozarella Minang. Setelah makan siang menikmati nasi kapau asli di Pasar Lereng Bukit Tinggi. Setelah makan siang, beliau iseng ke Pasar Bawah beliau Dadiah 10 buah. Para bule ini awalnya memandang sebelah mata (lock-down). Tapi saat Mr. Pierre Lambion mencoba dan teriak “enak”, baru yang lain ikut mencoba sampai berebut. Yang tidak kebagian ngajak beli lagi, tapi penjualnya keburu pulang karena barang dagangan sudah habis.
Bahagia membantu orang sukses menempuh pendidikan lebih baik, apalagi keluarga sendiri. Beliau bersyukur punya banyak kesempatan mencarikan beasiswa dan bantuan kepada mahasiswa. Ada kebahagiaan lebih ketika mereka wisuda. Tahun 1997-1998 beliau menyalurkan beasiswa dari teman-teman dari dalam dan dari luar negeri sebesar 200 ribu rupiah per bulan. Itu sudah cukup meringankan puluhan mahasiswa. Seleksi diambil dari informasi sesama mahasiswa, siapa yang kesulitan keuangan. Sekitar 40 mahasiswa bisa menyelesaikan studinya.
Kebiasaan ini rutin beliau lakukan. Bahkan pasca tsunami Aceh 2004, beliau banyak menyalurkan dana dari luar negeri. Ada yang langsung diberikan dari donatur ke para mahasiswa. Ada juga yang melalui beliau. Saking banyaknya sampai perlu satu asisten untuk membantu pendataan sampai penyaluran. Beliau juga koordinasi dengan kampus agar terdistribusi secara merata.
Banyak d iantara mahasiswa itu saat wisuda, bersama orangtuanya menemui beliau dan menangis bahagia.
Kadang beliau juga sangat bersemangat mengomentari fenomena perkebunan sawit yang dikatakan merusak hutan oleh propaganda Barat. Kata beliau,
“Jangan lengah dengan propaganda itu, karena sawit menghasilkan minyak nabati 20 ton/ha, sedangkan Barat (Eropa dan US) hanya menghasilkan 2 ton/ha dari minyak kedelai, bunga matahari dan ripe. Akibatnya mereka mati-matian menjelek-jelekkan sawit yang terbukti secara ilmiah tidak benar. Kalah bertarung secara ilmiah, Barat memakai alat embargo untuk memboikot minyak sawit.”
Beliau paling hobby berbagi informasi yang unik dan keren yang didapat dari pengalaman di berbagai tempat di dunia ini. Maklum daya jelajah dan pengalaman beliau luar biasa. Misalnya tentang “Skokomish River” yaitu nama sungai di Mason City, Washington State, USA. Pada saat air sungai penuh, melimpah sampai luber ke jalan raya, maka akan dijumpai pemandangan ikan-ikan salmon menyeberang jalan. Mereka mengambil jalan pintas agar sampai ke hulu sungai untuk bertelur. Maka jangan aneh jika ada papan pengumuman “Drive Slowly – Fish Crossing” dan batas kecepatan max 40 Km/jam. Lucunya beberapa ikan akan berbalik arah kalau ada kendaraan mendekat dan sebagian akan menunggu kendaraan lewat.
“Keren sekaligus ajaib, ikan yang volume otaknya kecil saja bisa menunggu mobil lewat baru menyeberang,” komentar beliau.

Tanaman Kantong Semar (Nephentes) juga diceritakan. Konon di dalam kantongnya terdapat banyak semut yang jatuh akibat daun kantongnya yang licin. Kantong Semar menjadikan bangkai semut sebagai sumber hara terutama Nitrogen.
Beliau juga cerita di Kazakhtan yang unik, yaitu daging, susu, dan keju utamanya berasal dari Kuda.
Sebagai ahli ilmu tanah, beliau mengatakan bahwa “72% tanah pertanian kita sakit”. Beliau keliling ke Sumatera Barat untuk membantu petani keluar dari kesulitan karena mahalnya pupuk sintetis NPK dan memberitahukan kesalahan yang selama ini dilakukan, karena hanya memakai pupuk NPK dan melupakan pupuk organik.
Beliau tak segan memuji tulisan-tulisan dalam grup memoar yang disebut “ISTIMEWA SEMUA”. Memang beliau suka merespon postingan teman-teman di grup memoar. Pernah beliau komentar pada postingan foto jeruk nagami. Katanya, sering memilih membeli jeruk untuk dimakan daripada memetik di halaman rumah sendiri. Tanaman buah di pekarangan dianggap sebagai kelangenan, dipandang saja sudah menyenangkan. Beliau pernah memelihara ikan lele sampai besar-besar. Jika jalan pelan ke kolam, lele-lele tersebut sudah respond minta makan. Pernah dicoba mau dipanen, sudah mau dipotong, timbul rasa kasihan. Akhirnya lele dikembalikan ke kolam.
Beliau suka memotivasi ke sesama menulis memoar, terutama yang berbagi ilmu melatih orang-orang untuk menulis.
“Amalan yang sangat berguna. Tetaplah terus berbagi selama masih dikasih umur yang barokah, nasihat beliau.
Suatu hari saya menulis artikel berjudul MENUANGKAN PENGALAMAN DALAM TULISAN. Beliau spontan memuji. “Mohon bimbingannya Prof,” responku. Tapi beliau malah mengatakan bahwa saya yang membimbing beliau dan ikut bimbingan menulis. Saya sangat kaget dan takut kualat.
“Aku belajar dari yang tahu, bukan dari yang tua,” jawabnya.
Beliau bercerita sering belajar ke anak, cucu, dan para mahasiswa.
“Ajarin Bapak mengerjakan ini sampai bisa,” katanya kepada para mahasiswa atau anak atau cucunya. Dengan demikian mereka spontan akan serius mengajari.
“Memang perlu latihan untuk membuang rasa sombong, angkuh dan tidak mau belajar dari yang muda!. Sesuau yang sangat berat dalam hidup ini adalah membuang ego dan rasa sombong. Tapi setelah kita bisa membuangnya, semua akan terasa ringan” kata beliau menjelaskan.
“Berjuanglah membuang ego, sombong, dan angkuh sekarang sekalipun kau sedang menuju puncak segalanya,” kata beliau lagi.
Beliau sangat suka kulineran dengan makanan khas lokal. Misalnya saat survey tanah masuk-keluar hutan rawa, beliau suka menu sayur pakis.
“Ditumis saja sudah enak dan sehat,” kata beliau.

Awal November 2022, beliau ke Payakumbuh. Beliau bercerita, sebagai Kepala Kaum Chaniago Manggih akan menggugat ke pengadilan terhadap orang yang men-sertifikat-kan tanah rumah pusako. Perjuangan butuh bekal ketenangan dan kesabaran. Sepertinya proses ini cukup menyita pikiran dan stamina beliau.
Postingan terakhir Selasa, 21 Februari 2023, beliau share video bersama cucu Yumna umur 4,5 tahun tapi sudah fasih berbahasa Inggris walau belum sekolah. Sambil membuat video, beliau berjalan mengikuti sang cucu. Terlihat ketika ada anak tangga, suara beliau sangat terengah-engah.
Setelah postingan video, beliau membuat kesimpulan bahwa “anak-anak belajar bahasa dengan meniru. Sedangkan orang dewasa belajar bahasa dengan berpikir dan takut salah, sehingga susah sekali serta lambat baru bisa!”.
Sabtu, 25 Februari 2023 pukul 05.45 WIB, tokoh panutan kita ini, Prof Iswandi Anas Chaniago telah berpulang karena sakit. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Semoga husnul khotimah.

Catatan:
Tulisan ini dirangkum dari obrolan pribadi (inbox) dan obroan di grup WA dalam kurun 1,5 tahun terakhir. Mohon maaf apabila ada kutipan yang kurang sesuai. Semoga tulisan ini menjadi kenangan dan memberikan hikmah buat kita.

Back to list

One thought on “Belajar dari yang Tau, Bukan yang Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *