Esai

Guru Mengembangkan Nilai Karakter Siswa

Arini Hidayah

Belajar adalah usaha untuk menguasai sesuatu yang baru. Guru mengajar harus dapat memberikan hal yang baru bagi siswanya,baik berupa pengetahuan, pengamalaman, nilai atau skill yang baru. Hakikat belajar adalah memperoleh pemahaman yang baru tentang suatu hal. Pemahaman tentang pengetahuan, keterampilan atau sikap yang baik yang bisa diiimplementasikan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru dalam proses pembelajaran tidak hanya apa yamg mereka katakan, tetapi juga apa yang mereka lakukan.

Profesi guru memiliki beberapa keunggulan dari profesi lain. Guru sebagai tenaga profesional harus memenuhi berbagai persyaratan kompetensi dalam menjalankan tugas dan kewenangannya secara professional. Kompetensi guru merupakan seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerja secara tepat dan efektif dalam mencerdaskan sekaligus pembentukan karakter peserta didik. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Istilah Jawa mengatakan bahwa guru adalah seseorang yang digugu (dipercaya) dan ditiru (dicontoh), merupakan suatu profesi yang patut untuk dihargai dan dijunjung tinggi. Implementasi dari hal tersebut maka sepatutnya guru harus menjadi model untuk menjadikan dunia pendidikan yang berbasis karakter, bermoral dan tidak meninggalkan kearifan budaya lokal.

Guru adalah agen aktif yang ucapan dan tindakannya mengubah kehidupan membentuk masa depan, agar lebih baik atau lebih buruk. Seorang guru harus memiliki kepribadian yang dewasa, arif, bijaksana dan stabil. Hal ini sangat penting sebab banyak masalah pendidikan yang dikarenakan faktor kepribadian guru tersebut.

Kepribadian yang dewasa, arif, bijaksana, mantap dan stabil dari seorang guru akan memberikan keteladan yang sangat baik terhadap siswa/ peserta didiknya maupun masyarakat, sehingga guru dikenal sebagai pribadi yang pantas “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (dicontoh sikap dan perilakunya). Oleh sebab itu, sebagai seorang guru, sebaiknya selalu bertindak sesuai dengan norma sosial, konsisten dan bangga sebagai profesi guru.

Ada 9 peran guru dalam pembentukan karakter siswa yang harus diperhatikan dan diamalkan oleh seorang guru, yaitu :

  1. Guru sebagai pendidik; bertugas untuk mendidik peserta didik, ia merupakan tokoh penting dalam membentuk karakter seseorang dimasa depan. Guru menjadi tokoh yang menanamkan nilai-nilai terpuji bagi siswa, memperbaiki perilaku yang buruk menjadi benar dan menjelaskan apa yang harus dan tidak harus dilakukan.
  2. Guru sebagai pengajar; membuat peserta didik yang semula tidak tahu akan sesuatu menjadi tahu, guru adalah sumber pengetahuan bagi siswanya. Seorang guru harus mampu menumbuhkembangkan rasa ingin tahu pada siswa, jangan sampai melemahkan mental siswa dengan tidak menghargai atau mempermalukannya ketika bertanya tentang banyak hal.
  3. Guru sebagai motivator; seorang guru harus bisa menjadi motivator untuk siswa, menjadi sumber inspirasi, menjadi pendukung ketika peserta didik mendapat masalah dalam pembelajaran atau urusan lain. Guru harus membangun komunikasi yang baik dengan siswanya, sebab dengan demikianlah siswa akan merasa nyaman dan percaya diri untuk mengemukakan ide atau pendapatnya.
  4. Guru sebagai sumber belajar; berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran. Seorang guru harus menguasai materi ajarnya, sehingga dia dapat berperan dengan baik sebagai sumber belajar siswa.
  5. Guru sebagai Fasilitator; berperan sebagai pemberi layanan agar memudahkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga tujuan belajar dapat tercapai dengan maksimal.
  6. Guru sebagai Demonstater; peran untuk memperlihatkan/ mendemonstrasikan kepada siswa hal-hal yang berkaitan dengan materi ajar dan membuat siswa lebih tahu dan paham tentang pesan yang disampaikan.
  7. Guru sebagai Pembimbing; seorang guru harus tahu dan paham tentang keunikan/ perbedaan yang dimiliki setiap siswa sehingga guru dapat berperan dengan baik dalam konteks peran guru sebagai pembimbing.
  8. Guru sebagai Efaluator; yaitu seorang guru berperan dalam pengumpulan data keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Ini berfungsi untuk menentukan kemampuan siswa dalam menyerap materi ajar dan menentukan keberhasilan guru dalam proses kegiatan yang diprogramkan.
  9. Guru sebagai pengembangan nilai karakter siswa. Sebagai pendidik, guru lebih banyak menjadi sosok panutan yang mempunyai karakter atau kepribadian yang patut ditiru dan diteladani oleh siswa. Contoh keteladanan itu lebih mengarah kepada sikap dan perilaku seperti, bertanggung jawab, menghargai orang lain, tekun, rendah hati, jujur, dan sopan santun terhadap sesama. Sikap dan perilaku guru sehari-hari dapat diteladani oleh siswa, baik di dalam maupun di luar kelas, yang merupakan suatu alat pendidikan yang diharapkan akan membentuk karakter atau kepribadian siswa kelak jika dewasa. Oleh karena itu, guru dipandang sebagai role model yang akan digugu dan ditiru oleh peserta didiknya.

Untuk membangun pengembangan nilai karakter siswa sebagai sosok yang berkarakter, guru dapat melaksanakan empat hal yang harus dilakukan. Pertama, melalui keteladanan, artinya setiap langkah awal siapapun harus belajar moral dan karakter melalui percontohan, dan dalam mencontoh diperlukan sosok yang patut dicontoh, guru dituntut untuk menjadi panutan dan pribadi yang menampilkan nilai-nilai moral. Kedua, melalui pembiasaan, artinya perilaku baik perlu dibiasakan, bukan merupakan pilihan, tetapi menjadi suatu keharusan. Pembiasaan perbuatan baik harus terus menerus bukan situasional. Terjadinya inkonsistensi perbuatan moral, sering mendorong siswa untuk memilih tindakan immoral. Sehingga diperlukan adanya suasana yang kondusif di sekolah agar nilai moral dapat teramalkan dalam setiap tindakannya. Ketiga, melalui sosialisasi, artinya menyampaikan nilai moral pada publik, baik melalui pengajaran, ceramah, slogan, simbolisasi, berita, yang sifatnya selalu mengingatkan individu agar berbuat kebaikan. Dan yang keempat, membangun motivasi moral, artinya menghadapkan individu atau kelompok pada sejumlah pilihan yang sifatnya dilematis. Dilema moral inilah untuk mengokohkan prinsip moral yang telah ada pada diri individu, sehingga akan tetap konsisten untuk berlaku kebajikan.

Dalam mengembangkan karakter peserta didik, guru juga dituntut untuk memiliki peran sebagai motivator dalam kegiatan pembelajaran. Di mana guru bersikap terbuka, yakni guru harus melakukan tindakan yang mampu mendorong kemauan siswa untuk mengungkapkan pendapatnya, menerima siswa dengan segala kekurangan dan kelebihannya, menunjukkan perhatian terhadap permasalahan yang dihadapi siswa, dan juga menunjukkan sikap ramah serta pengertian terhadap siswa. Selain itu, guru membantu siswa agar mampu memahami dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya secara optimal, dalam arti guru harus mampu memberikan gambaran tentang kemampuan dan kelemahan para siswanya, membantu siswa agar memiliki rasa percaya diri dan memiliki keberanian dalam membuat keputusan. Sehingga, dalam proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa memiliki motivasi dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu menumbuhkan dan membangkitkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk karakter belajar siswa yang efektif.

Seorang guru di zaman modern ini hendaknya mampu memanfaatkan segala saluran dan media yang tersedia. Pendidikan hakikatnya tidak terlepas dari peran guru sebagai ujung tombak proses belajar mengajar serta proses penyelenggaraan pendidikan. Tantangan yang dihadapi guru yang profesional di abad 21 dibedakan menjadi dua yaitu yang bersifat internal dan kesternal. Tantangan intenal adalah merupakan tantangan yang dihadapi oleh seluruh komponen bangsa Indonesia, yakni pengembangan nilai-nilai demokrasi, pelaksanaan otonomi daerah, penguatan nilai kesatuan dan pembinaan moral bangsa, serta fenomena rendahnya mutu pendidikan. Tantangan eksternal adalah tantangan agar dapat menjadi guru profesional di abad 21 dan sebagai bagian dari masyarakat dunia di era globalisasi.

Beberapa tantangan globalisasi yang harus disikapi guru dengan mengedepankan profesionalisme adalah sebagai berikut:

  1. Perkembangan Iptek, yang begitu cepat sehingga guru harus bisa menyesuaikan diri dengan responsif, arif dan bijaksana.
  2. Krisis moral, yang melanda bangsa dan negara Indonesia yang berpengaruh pada perkembangan iptek dan globalisasi sehingga terjadi pergeseran nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat.
  3. Krisis sosial, seperti kriminalitas, kekerasan, pengangguran, dan kemiskinan yang terjadi di masyarakat.
  4. Krisis identitas, sebagai bangsa dan negara Indonesi saat ini ada kecenderungan menipisnya jiwa nasionalisme di kalangan generasi muda. Berdasarkan realitas yang terjadi saat ini guru sebagai ujung tombak penjaga nilai-nilai termasuk nilai nasionalisme harus dapat memberikan kesadaran kepada generasi muda tentang pentingnya jiwa nasionalisme pada kehidupan berbangsa dan bernegara.
  5. Perdagangan bebas, baik tingkat ASEAN, Asia Pasifik, maupun dunia, dibutuhkan SDM yang unggul dan kompetitif. Olehnya, dibutuhkan guru yang visioner, yang memiliki kompetensi, berdedikasi tinggi sehingga mampu membekali siswa dengan sejumlah kompetensi yang diperlukan dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat yang sedang dan terus berubah.

Guru bercahaya itu harus memiliki tugas dan tanggung jawab yang kompleks terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Guru tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu yang akan diajarkan, memiliki pengetahuan dan keterampilan mengajar, guru juga dituntut untuk memiliki akhlak, karakter dan kepribadian yang dapat dijadikan suri teladan bagi siswa.

 *** 

Arini Hidayah, S.S, M.A. Lahir di Sukoharjo tanggal 8 September 1989. Telah menyelesaikan studi Strata 1 Sastra Inggris di Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret tahun 2012. Kemudian menyelesaikan studi Strata 2 Ilmu Linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tahun 2015. Pada akhir tahun 2015 sampai saat ini mengajar di Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Surakarta. Telah mengikuti pelatihan Propell Workshop for TOEIC Listening and Reading pada tahun 2018. Pada tahun 2017 sampai 2020 sebagai Unit Penjaminan Mutu Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Surakarta.  Pada April 2020 sampai Februari 2023 sebagai Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Surakarta. Pada Februari 2023 mulai masuk menjadi mahasiswa S3 Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada.

 

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *