Resensi

Hidup Bahagia ala Stoa

Oleh Hannan Fuad Kholis*

 

Banyak cara agar hidup kita bisa bahagia. Salah satunya adalah dengan menerapkan pola hidup dari Stoikisme. Stoikisme atau Stoa adalah filosofi yang berkaitan dengan kebahagiaan serta bagaimana agar terhindar dari pikiran-pikiran stres dan jenuh. Stoikisme mengajarkan bagaimana kita bisa menjaga pikiran yang sunyi dan rasional tanpa memedulikan apa yang terjadi pada manusia.

Ludwig Edelstein menulis buku ini dengan judul “The Meaning of Stoicism”. Buku ini merupakan buku filsafat yang membahas tentang arti dari Stoikisme. Dalam buku ini, kita akan mengetahui tentang cendekiawan Stoa, sifat dalam konsep Stoa, kritik diri aliran Stoa, serta jalan hidup Stoa.

Stoikisme memiliki banyak sudut pandang. Dalam buku ini, Ludwig Edelstein mendefinisikan Stoikisme dengan memahami elemen umum yang sulit dipahami yang mengikat berbagai fraksi dalam sistem etika. Edelsten melakukan sebuah studi yang mengungkap esensi filsafat Stoa.

Edelstein memulai tulisan menarik ini dengan mendeskripsikan Zeno dan para pengikutnya dalam cendekiawan Stoa. Ia menjelaskan cita-cita yang ditunjukkan oleh Zeno dan para pengikutnya yang menetapkan karakteristik dasar filsafat. Cita-cita ini diterima oleh semua orang Stoa kemudian didefinisikan dengan cara yang sama. Berbagai macam pemikiran Stoa menyatu sebagai fokus dan memunculkan suatu gambaran di mana seseorang mampu melihat ciri-ciri esensial dan keunikan dari Stoikisme dengan mudah.

Konsekuensi pertama yang ditarik dari kaum Stoa adalah bahwa alasan praktis harus dikembangkan dengan penuh. Wajar bagi manusia untuk memiliki sebuah rencana, sebab pada dasarnya ia adalah rasional dan melestarikan sifatnya. Menjadi essentia partikularis affermativa, untuk membuka energi yang ada di dalam diri kita adalah hukum dari semua eksistensi partikular.

Konsekuensi kedua adalah sikap nalar praktis ini benar-benar wajar. Ia membentuk diri sejati seorang manusia. Hal ini merupakan bentuk bertahan dalam esensi seseorang adalah bagi manusia untuk menjadi makhluk yang bertindak rasional dan sesuai dengan konsep moral. Tindakan tersebut merupakan nama khusus manusia.

Kaum Stoa pada umumnya memiliki asumsi bahwa mereka yang memiliki uang tidak sepenuhnya untuk dirinya sendiri. Orang kaya hanyalah sebagai wali atas kekayaannya. Kaum Stoa memegang pendirian tersebut tanpa meragukan hak atas kepemilikan pribadi. Setiap manusia mempunyai hak yang berbeda karena perbedaan manusia itu sendiri. Orang-orang Stoa menentang sosialisme dan komunisme seperti yang diajarkan dalam utopia Hellenistik, tetapi tidak membenarkan teori laissez faire.

Kemudian, Edelstein melanjutkan ke pemeriksaan yang lebih mendetail. Ia membahas konsep stoik alam dan kehidupan yang sesuai dengan alam. Hal ini menunjukkan keterbatasan dan kemungkinan yang melekat dalam doktrin.

Menurut kaum Stoa, seseorang memuja Dewa bukan karena Dewa membutuhkan pemujaan, akan tetapi karena manusialah yang membutuhkannya. Apa yang dipercayai Stoa adalah teologi alam atau agama dalam batas-batas akal. Dengan kemungkinan pengecualian panaetius, semua filsuf Stoik membela kepercayaan pada ilmu pertanda yang mengungkapkan kepada manusia kepentingan ilahi dalam nasibnya, takdir.

Stoa tidak menganggap tugas politik itu mutlak. Orang bijak tak selalu berperan dalam politik, karena ia punya tugas lain yang sama pentingnya, yakni mencari kebenaran dan pengajaran filsafat. Preferensinya adalah untuk ikut dalam politik negara yang mengalami kemajuan dalam moralitas dan bisa saja ia dapat terlibat. Mungkin saja ia tidak melakukannya karena aktivitas politik yang buruk atau karena alasan pribadi. Namun dalam kasus konflik, di mana realitas politik berbenturan dengan hukum moral, maka kewajibannya bersifat mutlak.

Orang-orang Stoa percaya bahwa akal menuntun manusia menuju kebaikan, namun sebesar apapun pahala mereka dalam menekankan pentingnya nalar praktis sebagai tanda pembeda antara manusia dan hewan. Mereka menipu dirinya sendiri dengan mengidentifikasi secara mendalam semua penalaran dengan wawasan moral.

Buku ini dikemas secara menarik dengan menghadirkan makna dari sebuah Stoikisme. Kita bisa belajar untuk hidup tanpa overthinking. Namun dalam buku ini ada beberapa bagian yang memerlukan konsentrasi kita untuk memahami makna dari kalimatnya, karena ini adalah buku yang berbalut bahasa-bahasa filsafat.

 

 

Data buku

Judul Buku      : The Meaning of Stoicism, Belajar Hidup Tanpa Overthinking

Judul Asli        : The Meaning of Stoicism

Penulis            : Ludwig Edelstein

Penerjemah     : Berliana Suci Febrianti, Azzadewi Novita Sari, Putri Nur Aisyah, Fitriatus Sholiha, Safrina Meila, Febiana Kusumastuti, Ahmad Mujibur Rohman

Tebal buku      : xvii + 166 halaman

Penerbit           : CV. Diomedia

Tahun terbit    : Cetakan pertama, Juni 2022

Cetakan kedua, Agustus 2022

ISBN               : 978-623-5518-61-9

 

 

*Hannan Fuad Kholis, Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

 

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *