Memoar

Inspirasi Novel Sesepuh dan Sebuah Dukuh

Oleh Era Ari Astanto

Berawal dari rasa penasaran saya terhadap kelurahan saya (Kelurahan Kenteng, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali) yang bernama Kenteng, tapi tidak ada sebuah dukuh pun yang bernama Kenteng. Justru nama Kenteng  disematkan pada sebuah tempat yang dijadikan lapangan berlatih TNI AU. Rasa penasaran itu muncul kira-kira ketika saya masuk sekolah menengah atas. Saya mencoba bertanya kepada Bapak saya. Beliau bilang Dukuh Kenteng digusur Jepang, dan sebagian besar penduduknya pindah ke sini dan mendirikan dukuh baru bernama Ngradinan (tercatat di administrasi kelurahan sebagai Dukuh Gempol). Begitu polosnya saya sehingga merasa jawaban itu sudah cukup dan tidak bertanya lebih jauh, di samping merasa wajar hal itu dilakukan oleh colonial Jepang, hingga terpendam sekian lama.

Penasaran  itu muncul lagi ketika beberapa tahun sebelum pandemi Covid-19 musim hujan agak terlambat datang. Bapak saya berkata, dulu pernah terjadi kekeringan yang cukup lama di desa kita. Mengalirlah cerita tentang kakek buyut saya, Mbah Soma, ketika masa-masa Jepang. Singkatnya, Mbah Soma ini layaknya seorang pahlawan kecil bagi warga Dukuh Ngradinan waktu itu. Dia melakukan apa saja untuk menolong warga Ngradinan dari kelaparan. Lebih banyak cerita mistis dan magis yang dilakukan simbah saya itu, sehingga saya menjadi tidak percaya dengan cerita dari bapak saya.

Baru kemudian ketika pandemi Covid-19 merebak, sambil ronda, Mbah Kliwon (sekarang sudah almarhum) bercerita tentang kakek buyut saya. Yang dia ceritakan sama bahkan lebih rinci dari yang diceritakan bapak saya. Saya hampir tidak percaya lagi dengan kemampuan kakek buyut saya yang penuh mistis dan magis. Bayangkan saja, Mas, kakek saya itu mampu memutar tanduk sapi yang semula melengkung kebelakang menjadi melengkung ke depan. Sapinya dalam keadaan hidup. Itu dilakukan agar tidak dapat dikenali pemilik sapi. Rasa tidak percaya itu pudar ketika Mbah Kliwon menjelaskan bahwa dia waktu itu yang sudah dewasa ada di tempat kejadian dan menyaksikan kejadian itu.

Dari situ saya tertarik untuk menulis tentang kakek, tapi dalam versi yang ilmiah. Dipadu dengan masa kering yang panjang, berlatar masa Jepang, dan beberapa kejadian lain akan lebih manusiawi, pikir saya. Saya kemudian mengumpulkan bahan-bahan untuk menulis cerita.  Awalnya saya ingin menuliskannya sebagai cerita silat atau peperangan khas masa penjajahan Belanda atau Jepang. Namun, saya merasa itu sudah biasa kita jumpai. Lalu, terpikir oleh saya  untuk lebih focus pada kekeringan yang melanda. Sama-sama perjuangan mempertahankan hidup dan harapan, kenapa tidak menulis perjuangan seorang tokoh atau warga dukuh terpencil yang terdampak ulah kolonial Jepang? Bukankah tidak harus perang mengangkat senjata yang memunculkan pahlawan besar? Perang memperjuangkan harapan (saya ambil singgang sebagai simbol) melawan kelaparan dan kekeringan bukankah lebih realistis bahkan sampai zaman sekarang? Bedanya hanya pada musim kering, sedangkan sekarang terletak pada sulitnya mencari penghasilan untuk kebutuhan hidup dan kehidupan.  Sedangkan perjuangan demi memperoleh kesejahteraan saya kira sama, sama-sama perlu perjuangan dan semangat, seperti keuletan dan kegigihan Sesepuh dalam mempertahankan singgangnya bisa dipanen dengan hasil yang baik.

Lalu, alasan saya lebih menyorot satu tokoh, yaitu Sesepuh bersama anjingnya, adalah karena pertimbangan bahwa hal itu bisa sebagai gambaran bahwa setiap individu sejatinya memiliki harapan dan perlu perjuangan untuk meraihnya.

 

Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali, Jawa Tengah. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

 

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *