Resensi

Kesepian dalam Kesendirian

Oleh Farhan Fauzi*

Novela “ Tenggelam” ini menceritakan kisah seorang pelajar Tiongkok yang menuntut ilmu di Jepang. Di sana dia malu kerena orang Jepang memandang sebelah mata orang Tiongkok, pelajar itu menghindari teman-temannya dan lebih memilih mendekatkan dirinya dengan alam. Dalam kesendiriannya dia mulai memikirkan berbagai fantasi seksual dan memupuk dendam terhadap orang-orang di sekitar.

Akhir-akhir ini dia sedang merasa begitu kesepian. Cuaca mulai mendingin dari hari ke hari dan sudah hampir dua minggu semenjak sekolahnya dimulai. Dia terlihat berjalan-jalan sambil membawa buku puisi Wordsworth edisi saku. Dia menikmati alam sambil menghibur atau memotivasi diri. Dia memiliki kebiasaan membaca buku secara tidak berurutan. Terhadap buku-buku yang melebihi beberapa ratus halaman, karena dia jarang memiliki kesabaran untuk menyelesaikan mereka. Jika telah menyelesaikan buku tersebut tentu saja buku yang sudah begitu menyentuhnya beberapa jam atau hari yang lalu akan mulai dilupakan.

Baginya buku pelajaran sekolah terasa hambar seperti lilin membosankan dan tidak hidup. Pada hari yang cerah dia membawa sebuah karya sastra favorit dan melarikan diri ke tempat terpencil di gunung atau di tepi laut untuk menikmati dengan sepenuhnya kegembiraan dari kesendirian. Ketika berada di sekolah dia merasa tidak nyaman dan saat mendengarkan penjelasan guru hanya dirinya yang walaupun hadir secara fisik di kelas mengembara ke sana kemari dalam lamunannya.

Kampung halamannya berada di kota kecil dekat sungai Fuchun. Ketika berusia 3 tahun dia sudah kehilangan ayahnya. Pada saat itu dia sudah menyelesaikan sekolah dasar dan tengah bergonta-ganti sekolah menengah. Karena dalam pandangannya sendiri, dia merasa berbeda dari murid-murid lainnya dan tidak dapat mengikuti pelajaran dengan cara seperti mereka.

Dia mendapatkan surat dari Kakak laki-laki yang tertua, “aku akan pergi ke Jepang dengan alasan pekerjaan kali ini aku akan membawamu ikut ke Jepang, karena keputusan adik ketiga untuk tinggal di rumah bukanlah hal yang baik.” Sesampainya di Jepang, dia berhasil lulus ujian masuk SMA 1 Tokyo. SMA 1 Tokyo memiliki sebuah kelas persiapan yang disediakan secara khusus bagi murid Tiongkok. Di kelas ini murid Tiongkok harus belajar selama satu tahun terlebih dahulu. Setelah lulus murid baru bisa mengikuti pelajaran utama SMA, bersama-sama dengan murid Jepang.

 

Setelah lulus dari kelas persiapan, dia mengambil pelajaran kedokteran dan tertarik dengan sekolah menengah atas di Kota N yang merupakan sekolah paling baru, dan terlebih lagi Kota N adalah tempat dihasilkannya gadis-gadis Jepang yang cantik. Karena hal ini, dia meminta agar dikirim untuk belajar di sekolah menengah atas Kota N.

Dia menaiki kereta malam sendirian dari stasiun pusat Tokyo menuju Kota N. Sesampainya di stasiun Kota N, dia turun dari kereta. Dia melihat seorang pemuda Jepang dan mengenalinya sebagai siswa sekolah menengah. Dia menghampiri dan bertanya “Di manakah SMA X berada?”. Si murid menjawab, “Mari kita pergi bersama ke sana”. Mereka meninggalkan stasiun kereta, kemudian di depan stasiun itu mereka menaiki bus troli. Mereka turun di depan Taman Tsuruma dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dia mendatangi penginapan dekat sekolah, dan disambut ramah oleh keluarga pemilik penginapan yang sebelumnya pernah tinggal dengan murid asing dari Tiongkok. Penginapan di pedesaan Kota N ini, terlalu terpencil tanpa tetangga di semua sisinya.

Karena sekolah belum dimulai siswa belum kembali dan dengan demikian hanya dialah satu-satunya tamu di penginapan yang luas ini. Ketika sekolah dibuka temannya perlahan-lahan mulai bertambah. Sifat temperamennya yang berperasaan sangat sensitif pada saat itu mulai menyatu dengan langit, bumi, hutan, dan aliran air. Tidak sampai setengah tahun, dia berubah menjadi pecinta alam, tidak dapat lagi dipisahkan dari pesona pedesaan. ketertarikannya pada pedesaan kemungkinan besar tumbuh ketika dia melakukan idyllic wanderings tersebut.

Depresi yang dia warisi dari leluhurnya juga meningkat dari hari ke hari. Setiap pagi dosa yang diperbuat di bawah selimutnya juga bertambah lagi dan lagi. Khayalan yang sama muncul di hadapannya dengan jelas pada waktu yang sama keesokan paginya. Semua keturunan Hawa yang biasanya dia temui pada siang hari datang untuk merayunya dalam ketelanjangan, dan sosok wanita paruh baya tampak lebih menggoda daripada sosok gadis perawan. Tanpa bisa dihindari, setelah perjuangan keras, dia mengalah pada godaan. melakukan sekali dua kali dan tindakan ini pun menjadi kebiasaan. Dia mulai membenci buku teks sekolah dan beralih membaca novel naturalis Prancis serta beberapa novel cabul Tiongkok yang terkenal.

Di sekolah dia merasa kalau teman-teman sekelasnya yang orang Jepang berusaha menghindarinya. Ada rumor bahwa dia sakit jiwa yang disebarkan oleh teman Tiongkoknya, karena dia telah berbicara terlalu banyak dan berakhir mencela diri sendiri. Ketika desas-desus itu sampai padanya dia ingin membalas dendam pada beberapa temannya yang orang Tiongkok seperti pada teman sekelasnya yang orang Jepang.

Kesepian menjadi semakin tak tertahankan dia memutuskan segala hubungan sosial dengan dunia dunia luar untungnya Putri pemilik penginapan cukup memikat dirinya karena kalau tidak dia mungkin sudah melakukan bunuh diri. Di tengah kesunyian dia mendengar suara cipratan air. Dia menahan nafasnya dan mencoba mendengarkan dari mana suara itu berasal. Ternyata suara itu berasal dari dalam kamar mandi, tindakan cabul muncul. Dia pun mengintip seorang wanita yang telanjang. Tindakan cabul itu terulang saat dia merenung di kebun. Dia menguping suara dua orang yang sedang berhubungan, saat dia mendapati dirinya berdiri didekat sekumpulan alang-alang tinggi. Dia Menunggu sampai pasangan itu pergi, kemudian dia kembali ke kamar tidurnya.

Dia tidur sampai jam 4 sore. Buru-buru dia berlari tanpa tujuan dan menemukan semacam restoran yang kemungkinan besar ada pelacurnya. Di sana dia dirayu untuk masuk ke restoran tersebut. Dia memilih ruangan yang menghadap ke laut dan memesan beberapa hidangan dan minuman anggur. Di sana dia menikmati pemandangan sambil meneguk minuman anggur dan sesekali berbincang dengan pelayan. Dia juga membisikkan puisi disaat menikmati pemandangan hingga tertidur.

 

 

Data Buku

 

Judul: Tenggelam

Pengarang: Yu Dafu

Penerjemah: Miguel Angelo Jonathan

Penerbit: Diomedia

ISBN: 978-623-5518-57-2

Tebal Buku: 88 halaman

Cetakan: Cetakan pertama,  Bulan Juni 2022

 

*Farhan Fauzi, Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta. Tinggal di Sukoharjo.

 

 

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *