Memoar

Mengharapkan Pekerjaan Nyaman

 

Ngadiyo

CEO Penerbit Diomedia

            Apa yang saya bayangkan setelah lulus kuliah adalah langsung mendapatkan pekerjaan. Bahkan sebelum lulus pun sudah bekerja. Semoga tanpa melamar pekerjaan pun bisa kerja juga. Walaupun bingung mau kerja apa. Apakah kampusku akan bertanggung jawab terhadap lulusannya seperti saya sehingga saya tidak mencari pekerjaan? Lulus siap kerja. Sarjana tanpa harus menganggur. Selesai wisuda besok langsung kerja.

            Sebuah hari-hari yang penuh mimpi sewaktu kuliah. Ketika kuliah akan menjamin langsung bekerja? Oalah. Jika ingat masa kuliah akan bekerja setelah wisuda tanpa mendaftar, tentu senang banget. Kenyataannya tidak. Saya melamar pekerjaan sebanyak kurang lebih 20 lamaran. Hingga pada akhirnya ijazah asliku, tepatnya transkrip nilai asliku hilang entah di mana. Syarat mendapatkan duplikat transkrip nilai dengan membawa laporan kehilangan dari kantor polisi. Saya mengurusnya di Polsek Kartasura yang paling dekat dari indekos. Membutuhkan seminggu mengurus duplikat transkrip dari fakultas di mana saya kuliah. Transkrip nilai kuliah itu dwi bahasa. Sebelumnya hanya berbahasa Indonesia.

            Betapa girang ketika diwisuda. Berfoto sana-sini sambil bergaya sesuka hati, meluapkan kegembiraan setelah selesai menempuh kuliah. Seremonial yang jika saya ingat bangga sekaligus malu pada diri sendiri karena sampai sekarang pun masih berjuang. Berjuang meraih mimpi agar tercapai semua harapan, memiliki hal-hal seperti orang lain punya hanyalah segelintir dari sekian banyak ide-ide untuk diwujudkan. Walau belum semua bisa diwujudkan, tetapi berharap akan mendapatkannya menjadi optimisme positif.

            Hampir sama ketika saya harus keluar dari Kampus Amikom dan fokus mengelola Penerbit Diomedia. Keluar karena sengaja dan juga karena keadaan. Awal keluar dari dosen keadaan lebih buruk. Lama-lama membaik. Dosen swasta saya soalnya. Sudah jadi dosen tetapi gaji di bawah UMR dan sudah ber-NIDN. Ngajar mata kuliah umum bahasa Inggris. Hampir 3 bulan pertama harus irit. Hahaha. Mengandalkan honor menulis LKS SD. Per minggu menulis 1 LKS.  Sehari hanya makan Rp5000 buat beli sayur dan lauk. 2013 kejadiannya. Pada tahun tersebut 2 buku terbaru diomedia terbit. 1 tahun hanya nerbitin 2 judul. Zona Nyaman saya waktu itu tiap hari mengajar. Pagi hari menulis. Hari Minggu full membaca dan menulis.

Mengelola penerbit atau berbisnis bukan zona nyaman juga. Zona yang penuh tantangan. Jadi pindah kerjaan masuk kategorinya. Betul. Posisi saya menuju Growth Zone. Dulu mau nerbitin 1 buku saja berat. Gak mampu bayar desainer dll. Eh awalnya juga ada ketakutan kok. Takut gak laku. Takut gak bagus dll. Saya terus belajar (learning zone). Bagaimana mengemas buku menjadi bagus dan bagus banget. Bagaimana mengemas buku menjadi bagus dan bagus banget. Maka ada tema memoar You Are The Best.

***

            Saya mendapatkan cerita keluar dari zona nyaman da nada yang bertahan di zona nyaman tetapi analisanya sangat menarik perihal usaha pertokoan di desa selama 10 hari mudik lebaran 2022. Walau hari demi hari saya berusaha menuntaskan bacaan novel Susu dan Telur yang hampir 500 halaman tebalnya dan hanya bisa mencapai 160-an halaman, tetapi kecepatan membaca saya terus meningkat. Juga memahami konsep novel itu: Susu implan dan sel telur pada wanita yang dieksplorasi sedemikian di rumah pelacuran.

            2 tahun tidak mudik lebaran seperti dalam zona nyaman rebahan dan melalukan rutinitas di indekos. Ada rasa keharuan mendalam untuk bisa bercengkrama dengan keluarga khususnya bersama kedua orangtuaku yang masih sehat dan penuh optimistis menjalani kehidupan dan itu yang tidak bisa ditawar untuk alasan mudik. Apalagi masakan Biyung selezat surga. Saya selalu merindukan makanan apa pun yang dimasak Biyung. Entah mengapa selalu enak.

            Mas Agus, kakak ipar saya, yang tinggal serumah menjadi mitra bercakap menarik membahas toko-toko di beberapa titik desa. Mereka yang mau berkembang semakin besar tokonya. Ada beberapa toko lawas yang bertahan dengan zona nyamannya. Merasa cukup mengelola apa adanya tanpa ada inovasi barang baru yang dijual, pelayanan ala kadarnya, tempat toko yang kurang terawatt karena hasil dari warisan orangtua sehingga pembeli pun menurun.

            Berbeda dari toko-toko di desa saya yang semakin besar bangunannya. Barang-barang kebutuhan masyarakat semakin lengkap, palugada apa yang dibutuhkan selalu ada menjadi andalan agar pundi-pundi keuntungan semakin banyak. Mereka telah keluar dari zona nyaman. Dari mengelola toko kelontong biasa saja menjadi tantangan agar terus maju, ramai pembelinya, banyak labanya, dan pelayanan ramah adalah kuncinya.

            Kesimpulan obrolan dengan Mas Agus adalah beberapa toko kelontong maju pesat dan beberapa toko tetap nyaman apa adanya seperti masa jayanya, padahal sudah tertinggal jauh. Dulu bermula dari toko kecil semua. Sekarang toko-toko di desaku semakin besar seperti bangunan Indomaret. Lainnya sama bahkan sudah rapuh karena pengelolaan buruk.

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *