Resensi

Pengajaran Hidup dari Sang Kiai

Oleh Athina Prabawa*

Buku yang berjudul “Kiaiku & Hidupku” ini berisi tentang antologi cerita berbagai macam pengalaman hidup seorang yang berjihad di jalan Islam. Di dalamnya, terdapat 19 penulis dengan penyajian kisah yang berbeda-beda. Terdapat banyak sekali pengajaran yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini sangat menginspirasi umat muslim, terutama para santri dan santriwati karena banyak sekali pengalaman hidup yang dapat ditemui yang berasal dari para Kiai. Kisah-kisah dari para penulis berasal dari pengalaman yang dimiliki mereka. Banyak sekali pengajaran-pengajaran yang tertuang dalam buku ini. Buku ini berisi tentang pengajaran dari para Kiai berupa tindakan berilmu dan berakhlak. Seorang muslim harus selalu mengedepankan adab daripada ilmu.

Buku ini ditulis sebagai rasa penghormatan dari para penulis kepada Kiai mereka. Banyak sekali pengajaran-pengajaran yang akan didapatkan dari seorang Kiai yang bahkan kita belum pernah mengetahui tentang hal tersebut. Kiai merupakan seorang yang dapat mengarahkan kita ke dalam kehidupan yang lebih lurus. Ilmu-ilmu beliau sangat bermanfaat bagi kehidupan kita semua sebagai umat muslim. Pembawaan Kiai dalam memberikan suatu pengajaran terkesan lembut dan dapat dirasakan hingga lubuk hati yang paling dalam.

Dalam segi bersosial, tak sedikit dari Sang Kiai memperlihatkan bahwa beliau merupakan Kiai yang memiliki nama besar. Pola hidup yang sangat sederhana membuat para santrinya terinspirasi. Banyak Kiai yang memilih mengenakan pakaian yang sederhana, namun para santri tidak mengurangi rasa hormatnya kepada beliau. Dalam meberikan pengertian pun akan dengan mudah dapat direnungkan oleh para santrinya.

Kiai tidak pernah lupa mengingatkan kepada para santrinya betapa pentingnya memiliki akhlak yang mulia dan senantiasa beristiqomah di jalan Allah SWT. Keteladanan beliau dalam menerapkan sikap istiqomah membuat santrinya sangat mengagumi beliau. Akhlak beliau yang terkesan selembut sutera dapat menentramkan hati para santrinya. Bahkan, ketika ditimpa musibah sekalipun beliau tetap terlihat tenang dan ikhlas.

Kiai merupakan seorang yang hebat, yang diberi amanah untuk mengajarkan ilmu-ilmu kepada umat muslim. Beliau dapat memberikan berbagai pengajaran dengan cara apa saja. Kemampuan beliau dalam memberikan ilmu kepada para santri terkesan unik dan memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Ada yang memberikan pengajaran berupa penjelasan secara langsung, ada pula yang memberikan pengajaran dengan mengajak santrinya untuk ikut serta melakukan hal yang ingin diajarkan.

Seorang Kiai pasti memiliki sikap bijaksana ketika mengalami suatu permasalahan, baik dari rekan beliau maupun dari mana saja. Kiai akan memberikan penjelasan secara sederhana yang bertujuan supaya seorang yang mengritiknya itu akan berpikir kembali tentang apa yang telah diucapkannya. Beliau akan tetap tenang dan bersikap terbuka sekalipun hanya masalah yang kecil. Beliau tidak akan membesar-besarkan masalah yang dihadapinya.

Semua santri pasti mengharapkan berkah dari para Kiainya. Mereka berkeinginan untuk menjadi seorang yang memiliki tindak-tanduk seperti Kiainya. Bahkan, mereka juga berharap kalau anaknya juga akan mendapatkan berkah dari Kiainya tersebut. Para santri akan selalu mengikuti segala perbuatan Kiai karena sifat beliau yang mulia.

Menjadi seorang santri merupakan suatu keberuntungan. Kita dapat melihat keseharian para Kiai dan dapat mencontoh segala perbuatan mulia beliau. Hidup di penjara suci tidak semenyeramkan yang kita bayangkan. Bahkan, tidak sedikit dari santri yang tidak betah untuk tinggal di pesantren. Mereka merasa memperoleh banyak pengajaran selama hidup di pesantren bahkan berniat untuk mengabdi di sana.

Seorang santri tidak pernah merasa cukup atas ilmu yang didapatkannya. Mereka yang berjihad di jalan Allah SWT selalu merasa beruntung dapat memasuki kehidupan pondok pesantren. Mereka tidak hanya mendapatkan ilmu dari mengaji, tetapi juga dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh pondok pesantren. Maka, tidak heran jika para santri memilih untuk mengabdi di kehidupan pesantren.

Tidak hanya dari Kiai, ada pula ustaz dan ustazah yang dapat memberikan kita semua pengajaran. Bedanya, Kiai berdakwah melalui pondok pesantren, sedangkan ustaz dan ustazah berdakwah melalui pengajian-pengajian. Bagi seorang muslim yang tidak hidup di ponsok pesantren, mereka dapat mendapakan pengajaran melalui pengajian yang diberikan oleh ustaz ataupun ustazah. Pengajian tersebut dapat dijumpai secara langsung ataupun melalui siaran.

Pengajian yang diberikan oleh ustaz dan ustazah biasanya memiliki tema khusus sesuai permintaan jemaah. Para jemaah dapat mengikuti pengajian tersebut sesuai dengan kebutuhan mereka. Para jemaah dapat menyesuaikan ingin memperoleh pengajaran tentang apa yang dibutuhkannya. Biasanya, pengajian yang diadakan bertempat di mushala-mushala desa supaya masyarakat kaum awam yang kurang paham mengenai agama dapat memperoleh ilmu agama dengan baik.

Keinginan seseorang dalam mendapatkan ilmu tidak terlepas dari usaha yang dilakukannya. Salah satu cara yang ia lakukan adalah mendirikan majelis taklim. Majelis tersebut sangat memberikan manfaat bagi para kaum muslim yang hendak mempelajari agama dari awal. Kita dapat mengundang ustaz atau ustazah supaya bisa mengajarkan ilmu agama sesuai dengan kebutuhan yang kita inginkan.

Mempelajari agama tidak harus memasuki kehidupan di pondok pesantren. Belajar dapat melalui media apa saja dan di mana saja. Kunci menjadi seorang yang hebat ialah dia yang tak pernah cukup atas ilmu yang didapatkannya. Maka dari itu, sebagai seorang muslim yang hidup di zaman modern ini, kita harus dapat memanfaatkan berbagai akses teknologi yang ada untuk mendapatkan ilmu agama sebanyak-banyaknya.

 

*Athina Prabawa, Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.

 

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *