Resensi

Pengalaman yang Menginspirasi

Oleh Cintia Yuliani

 

Buku “Menulis Memoar Jiwaku Berpendar” ini adalah karya bersama atau antologi memoar dari orang-orang hebat yang pengalamannya bisa menjadi inspirasi bagi pembacanya. Dalam buku ini menyajikan dua pembahasan yang dibagi dalam dua bab. Bab yang pertama adalah tentang pengalaman penulis tertarik dengan dunia kepenulisan khususnya menulis buku memoar hingga bertemu dengan Penerbit Diomedia. Bab kedua membahas mengenai kegiatan Festival dan Memoaris Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 10 sampai 19 Desember 2021. Tentunya memori tentang pengalaman pribadi maupun tentang kegiatan Festival dan Memoaris Indonesia membuat pembaca dan penulis mendapatkan manfaat dan inspirasi.

Memoar-memoar dalam buku ini diantaranya adalah tentang Bersemi di Bawah Atap, Catatan Sepanjang Masa, I’M Proud with Diomedia, Jendela Dunia Jiwaku, Jiwaku Berpendar Luar Biasa, Membangkitkan Mimpi Lama yang Terkubur, Memoar yang Kurindukan, Menulis Memoar Membuat Jiwaku Berpendar, Menulis Memoar, Mengobati Luka-luka, Belajar dengan Memoar (Pembukaan Fesival Memoar dan Memoaris Indonesia 2021), Belajar Sejarah dari Buku Seperti Kapas Kenangan Mudah Melayang Saat Ditiup Angin Masa Depan, Berbincang-bincang tentang Memoar Bahagia Cucu Tercinta, Sentuhan Kasih, Inspiratif dari Memoar Messages From My Father, Memoar Kiaiku: Keteladanan Berakhlak, Ada Apa di Festival Memoar dan Memoaris, Bagaikan Lilin yang Menyala, Berbagi Kisah di Festival Memoar dan Memoaris Indonesia, Kutemui Menulis Memoar Jiwaku Berpendar, Memoargasme, Mengabadikan Kenangan dan Mensyukuri Anugerah, Refleksi Kisah Pada Festival Memoar dan Memoaris Indonesia, Terkesan dengan Festival Memoar dan Memoaris Indonesia.

Diomedia memberikan kesempatan bagi semua orang untuk menulis memoar. Diomedia tidak hanya memberikan kesempatan untuk penulis yang sudah berkompeten, namun juga memberikan peluang pagi penulis awam untuk ikut menulis memoar. Tidak ada batasan umur untuk bisa ikut berpartisipasi menulis sebuah memoar di Penerbit Diomedia. Hal ini memberikan peluang bagi Mimbar Bambang Saputra salah satu penulis buku ini, untuk ikut berpartisipasi dalam menulis memoar. Ia adalah seorang pensiunan yang dulunya sering mendapat telepon untuk diminta menulis, namun dengan perubahan zaman dan bertambahnya usia, Mimbar sudah tidak dipercaya lagi dalam hal menulis. Penerbit Diomedia ini mengubah itu semua, Diomedia mau menerima dan mempercayai Mimbar untuk bergabung menulis memoar. Itulah cerita dari salah satu penulis dalam buku ini yang bangkit dari rasa putus asa serta ketidakberdayaan dan Diomedia mengajak komunitasnya melakukan terapi ‘self healing’.

Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari menulis memoar maupun membaca buku memoar. Seperti yang sudah para penulis tulis dalam buku ini. Menulis memoar bisa menjadi alat untuk berkomunikasi dari masa lalu, sarana untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana cara mengatasi permasalahan hidup, merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hidup, memoar menjadi media untuk refleksi diri dan aktualisasi, memoar juga bisa membuat pembaca belajar dari pengalaman penulis yang sewaktu-waktu itu penting untuk dirinya. Kelebihan dari menulis memoar adalah kita tidak perlu memerlukan penelitian dan dana, cukup dengan menulis pengalaman yang berkesan bahkan menyedihkan bisa menjadi karya tulisan. Tidak hanya orang terkenal yang bisa menulis memoar, orang biasa pun bisa menulis pengalamannya melalui memoar ini.

Kisah inspiratif lainnya dari penulis buku ini adalah berkat tawaran untuk berkontribusi menulis memoar di Diomedia membuat perubahan bagi Melisa Yolivia. Ia ingin menonjolkan perubahan positif gaya hidupnya. Walaupun banyak rintangan yang menghadang ia bisa menyelesaikan tulisan dalam kurun waktu tiga hari. Instruksi dan ilmu yang diberikan oleh Mas Ngadiyo sebagai CEO sangat membantunya dalam menulis memoar. Perjuangan Melisa ternyata membuahkan hasil, tulisannya akhirnya bisa dibaca oleh khalayak umum.

Selain itu ada kisah dari Enny Istinarti yang menceritakan pengalamannya dalam hal menulis. Ia sedari SD selalu mendapatkan nilai 5 bahkan 4 pada mata pelajaran Menulis. Akan tetapi Enny mendapatkan tawaran untuk bergabung di Komunitas Penulis Memoar, yang itu sama sekali di luar harapannya. Walaupun keadaannya seperti itu, Enny tetap dipaksa dan disemangati oleh sahabatnya yang mengajak ia masuk dalam Komunitas Penulis Memoar. Sahabatnya tidak tanpa sebab mengajak Enny untuk bergabung di komunitasnya. Enny adalah seseorang yang dianggap tepat untuk menulis memoar, karena pengalamannya sangat pas untuk diceritakan. Berkat izin Allah SWT, Enny mulai menulis dan akhirnya tulisan perdananya yang berjudul Sabar dan Ikhlas diterima oleh pendiri Penerbit Diomedia. Tidak lupa berkat dukungan dan bimbingan sahabatnya dan Mas Dio (pendiri Penerbit Diomedia), Enny bisa menerbitkan tulisannya. Kita bisa belajar dari pengalaman Enny, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, asalkan kita mau untuk berusaha.

Poster tentang workshop menulis memoar membuat Winisudarwanti tertarik untuk mengikutinya. Diawali rasa bimbang yang menggebu dan tuntutan untuk mengingat kembali kisah hidupnya, ia berhasil menyelesaikan tulisannya. Dalam tulisannya ia menceritakan nenek yang sangat ia sayangi. Akan tetapi pada saat-saat terakhirnya ia tidak berada disampingnya. Neneknya meninggal terpeleset di kamar  mandi lalu beberapa hari kemudian beliau meninggal dunia. Saat menulis cerita itu, ia tidak henti-hentinya menangis.

Pengalaman-pengalaman yang membuat bahagia berpengaruh terhadap jiwa seseorang. Perilaku yang positif tentu saja dalam jiwa seseorang tersebut stabil dan bisa menjalani kehidupan dengan hal yang positif. Dampaknya itu sangatlah baik, seseorang yang mempunyai jiwa stabil maka orang tersebut akan percaya diri, selalu berpikir positif, menghargai orang lain, dan supel dalam pergaulan. Sebaliknya jika seseorang mempunyai pengalaman yang negatif maka seseorang tersebut akan labil. Seseorang yang labil, mereka akan minder, pemarah, dan penakut. Walaupun jiwa seseorang labil, seseorang tersebut bisa mencari solusi untuk mengatasi hal tersebut. kunci yang pertama pastinya adalah mempunyai kesadaran diri untuk berusaha mencari solusi.

Seperti yang diceritakan oleh Rudy Santoso, ia mengatasi kelabilannya dengan cara menyibukkan diri. Aktivitas yang ia lakukan adalah mendaki gunung dan mengikuti aktivitas sosial. Dari hal tersebut jiwanya perlahan mulai berubah menjadi stabil. Ia menjalani kegiatan yang positif seperti mulai gemar membaca buku. Diawali dengan membaca buku memoar teman sekolah. Ada ketertarikan dalam membaca buku memoar sehingga ia tertarik juga untuk membuat tulisan tentang memoar. Lalu ia memutuskan untuk menulis memoar di Penerbit Diomedia. Tulisannya masuk dalam kategori dan diterbitkan menjadi sebuah kumpulan.

Adapula yang bercerita tentang pengalaman masa kecil bersama teman-temannya. Ia bercerita tentang pohon bacang yang terkenal angker. Mereka senang bermain di bawah pohon itu. Mereka bermain petak umpet dan lompat tali. Jika pohon itu berbuah, maka mereka akan berebut untuk mengambilnya.

Lalu bercerita tentang didikan orang tua yang keras hingga apapun keputusan dari anaknya harus atas izin orang tua. Pengalaman tentang kehidupan bersama suami, menceritakan mengenai orang tuanya yang sudah meninggal, dan pengalaman pernikahan yang awalnya yakin suaminya adalah pasangan hidupnya ternyata mendua.

Pada bagian kedua atau bab dua menceritakan tentang pengalaman penulis pada Festival Memoar dan Memoaris Indonesia. Acara ini banyak membuat peserta maupun pengisi materi mendapatkan kesan yang tidak bisa terlupakan. Pada hari pertama pembukaan festival ini, tepatnya pada tanggal 10 desember 2021 banyak ilmu yang dapat diambil dari acara ini. Pembahasan yang pertama mengenai obrolan buku Bangga Menjadi Guru SMA 8 Jakarta, lalu selanjutnya obrolan buku Arundaya, obrolan buku Belajar dari Senja, peluncuran buku The Power Of Memoir Kisah Nyata Menulis Memoar yang Menyembuhkan Luka Hati, dan ada pula pertunjukan musik oleh Bugi Baghas.

Hari pertama juga memperkenalkan Komunitas Menulis Memoar. Dijelaskan secara rinci dari awal berdirinya hingga bisa menjadi wadah para penulis memoar untuk mencurahkan pengalamannya lewat tulisan.

Hari kedua membahas mengenai Life After Selamanya Cinta dalam Rumah Tangga, Izinkan Aku Mengolah Sampah, Kapas, Kenangan Mudah Melayang Saat Ditiup Angin Masa Depan, dan yang terakhir obrolan buku Memoar Bahagia Bersama Cucu Tercinta. Pada hari kedua ini penulis membahas mengenai kehidupan Komunitas Menulis Memoar.

Buku yang berjudul “Seperti Kapas Kenangan Mudah Melayang Saat Ditiup Angin Masa Depan” berisi mengenai essay. Essay yang dibahas adalah penelitian tentang soal-soal ekonomi politik.

Pada pembahasan Buku Memoar Bahagia Bersama Cucu Tercinta yang dipandu oleh Enny Dyah Ratnawati menceritakan anak zaman sekarang lebih berani mengemukakan pendapatnya, sedangkan pada zaman dahulu mereka hanya bisa mengikuti kata orang tua. Anak zaman sekarang harus dijelaskan mengapa suatu hal itu tidak diperbolehkan. Dari hal tersebut nenek dan kakek zaman sekarang harus mengikuti kondisi yang jauh berbeda dari zaman dahulu. Ia juga menceritakan pengalaman mengasuh cucunya. Obrolan tentang buku Memoar Bahagia Bersama Cucu Tercinta membuat banyak peserta yang mengikuti acara itu, berdiskusi dan menceritakan pengalamannya terkait dengan cucu mereka masing-masing.

Hari ketiga yang dibahas adalah tentang Memoar Mainan Masa Kecil, Sentuhan Kasih, dan peluncuran buku Memoar Hero Kisah Nyata Orang-Orang yang Berjasa dalam Hidupku. Buku Sentuhan Kasih yang ditulis oleh Lasla Perdana membahas mengenai bagaimana manusia saling berhubungan satu sama lain dengan rasa empati dan simpati.

Hari keempat membahas mengenai Kiaiku dan Hidupku. Berkisah tentang seorang kiai yang memberikan keteladanan berakhlak dan berilmu. Di dalamnya para penulis menuliskan tokoh-tokoh ulama yang menjadi panutan mereka. Memoar ini berisi pengalaman 19 Memoaris Indonesia. Masing-masing memoaris membahas mengenai keteladanan berakhlak dan berilmu berkat bimbingan dari Kai mereka.

Hari kelima membahas Messages From My Father yang ditulis oleh Sapta W. Memoar ini mengisahkan tentang seorang perempuan yang bisa meraih mimpinya karena pesan-pesan dari ayahnya.

Pada hari kesembilan membahas tentang Suami-Suami yang Didugat. Pasalnya sekarang kebanyakan istri yang menggugat suami. Kasus perceraian yang paling banyak adalah masalah ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga. Kedua alasan tersebut paling mudah disetujui oleh pengadilan agama. Ada pasangan suami istri yang menggugat cerai, masalahnya tidak terlalu berat. Mereka diberi dua lembar untuk menulis kebaikan-kebaikan dan keburukkan pasangannya. Dapat disimpulkan bahwa lebih banyak kebaikan yang diberikan oleh pasangannya dari pada keburukkannya. Ternyata masalah sebenarnya adalah kurangnya komunikasi. Komunikasi dalam kehidupan rumah tangga itu adalah hal yang paling terpenting.

How I Met Pets, Memoar Penyayang Binatang, mengisahkan tentang kecintaan terhadap binatang-binatang dan kebiasaan binatang-binatang tersebut bisa mencerminkan kecintaan mereka terhadap pemiliknya.

Memoar Menjadi Pribaadi Transformatif dan Inspiratif menceritakan perubahan memoaris menjadi pribadi yang membawa semangat perubahan dan pastinya penuh inspirasi ke dalam kehidupan mereka.

Izinkan Aku Mengolah Sampah membahas bahwa ternyata sampah bisa diolah sehingga memiliki nilai jual yang dapat dimanfaatkan.

Komunitas Menulis Memoar maupun Festival Memoar dan Memoaris Indonesia telah memberikan banyak pelajaran dan pengalaman yang tidak bisa ditemukan selain di Penerbit Diomedia. Ternyata pengalaman berharga kita, kesedihan, maupun pengalaman yang menyakitkan sekalipun bisa dijadikan tulisan yang membuat orang lain terinspirasi dan belajar dari pengalaman itu.

Para penulis memoar di dalam buku ini sudah membuktikan, bahwa Diomedia membimbing dan membantu kita untuk bisa menulis. Diomedia tidak melihat dari sudut pandang manapun, jika ada kemauan, maka Diomedia akan membantu kita. Bergabung di Komunitas Menulis Memoar memberikan banyak hal positif. Diomedia juga memberikan kesempatan untuk penulis yang bergabung dinaungan Penerbit Diomedia untuk mengembangan diri dengan cara menjadi pembicara, moderator, dan juga pelatihan untuk kepelatihan penulisan.

 

Data Buku:

Judul: Menulis Memoar Jiwaku Berpendar

Penulis: Melisa Yolivia, winisudarwanti, N. Wardaningsih, dkk.

Penerbit:  Diomedia

Cetakan  Pertama: Oktober 2022

Tebal: xvi+163 hal

ISBN : 978-623-5518-58-9

 

*Cintia Yuliani, Mahasiswa program studi Tadris Bahasa Indonesia, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *