Resensi

Perjalanan Penuh Kerinduan Menuju Cinta yang Abadi

 Oleh Petik Cinta Mawarni*

 

Novel “Layla Majnun” adalah salah satu novel populer di wilayah Timur dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Novel karya Syaikh Nizami mengisahkan dua sejoli yang saling jatuh cinta, yaitu Qays atau Majnun dan Layla. Qays adalah putra yang didamba-dambakan oleh seorang raja bernama Sayyid. Saat mengenyam pendidikan, Qays adalah anak yang rajin dan mampu menerima pelajaran dengan baik.

Pada suatu hari, bergabunglah seorang gadis yang sangat cantik bernama Layla. Qays jatuh cinta dengan Layla, begitu pula Layla. Mereka saling terpesona dengan perasaan yang tidak mereka kenali, mereka semakin dekat yang membuat mereka menjadi buta akan cintanya. Mereka tidak dapat mengendalikan diri, Qays dan Layla menemukan cinta pertamanya. Semakin lama, orang-orang tahu apa yang terjadi antara Qays dan Layla bahwa mereka sedang jatuh cinta. Desas-desus tentang mereka menyebar, dan mereka mulai sadar kalau mereka telah buta. Hingga pada saat itu juga, mereka mencoba untuk saling menyembunyikan perasaannya.

Sejak saat itu, Qays dan Layla mulai jauh, Qays begitu sedih untuk jauh dari Layla. Qays hanya bIsa berjalan kesana-kemari tanpa arah tujuan. Ia memuja kecantikan Layla untuk disampaikan kepada semua orang, dan tingkahnya yang semakin aneh membuatnya dijuluki “Majnun” atau gila. Namun,berbeda dengan Majnun, kesedihan Layla hanya bisa ia sembunyikan. Perpisahan anatara Majnun dan Layla menjauhkan keduanya dari orang tua, keluarga dan sahabatnya. Majnun berjalan entah kemana dan mulai berkelana, ia sudah kehilangan dirinya sendiri. Majnun menjadi pandai membuat syair dan sajak-sajak yang indah. Karena sudah tak tahan dengan kerinduannya kepada Layla, Majnun nekat menemui Layla. Mata mereka saling bertemu walaupun hanya sebentar, namun mengobati kerinduan keduanya. Ternyata kunjungan tersebut diketahui oleh suku Layla, hingga menjadikan suku Layla marah. Layla seperti menjadi tawanan, sementara Majnun melanjutkan pengembaraan di pegunungan dan gurun Najd dengan pakaian compang-camping berjalan tanpa tujuan.

Ayah Majnun memutuskan untuk mengadakan rapat untuk mencari solusi agar Majnun kembali menjadi Qays. Hingga diputuskan, bahwa mereka akan melamar Layla untuk Majnun. Sayangnya, lamaran tersebut ditolak oleh ayah Layla. Sang ayah mendapat bantuan dari teman-teman Majnun, mereka membantu untuk mengembalikan Majnun untuk sadar. Mereka menasehati Majnun bahwa masih banyak wanita selain Layla. Namun dengan hal itu, justru membuatnya semakin menggebu-gebu. Akhirnya ia tidak bisa tinggal ditengah orang banyak dan melarikan diri ke tengah padang pasir untuk memasrahkan diri pada Tuhan. Majnun terus menyuarakan syair-syairnya yang ditujukan kepada Layla yang tidak disadarinya. Kemudian, Majnun dibawa kembali ke rumahnya oleh orang-orang.

Usaha terakhir yang dilakukan ayah Majnun adalah membawanya ke Ka’bah untuk berhaji. Dengan mengharapkan kekuatan Tuhan untuk menyembuhkan anaknya. Majnun diangkut dengan tandu dibawa ke Makkah. Nasehat ayah Majnun kepada Majnun tak berhenti terucap dan meminta Majnun meminta Tuhan untuk membuka pintu kesedihan. Majnun melompat menuju Ka’bah, namun ia justru memukul kepalanya dengan tangan dan berteriak-teriak. Ayahnya begitu terkejut ketika Majnun berdoa pada Tuhan, usaha terakhirnya telah gagal. Kabar Majnun di Makkah diketahui oleh suku Layla, dan memutuskan untuk memburu Majnun. Ayah Majnun memberikan nasehat kepada Majnun berkali-kali, Majnun hanya diam mendengar nasehat ayahnya. Majnun memberikan jawaban kepada ayahnya dan memutuskan untuk pergi. Majnun kembali menjelajahi padang pasir, setelah kepergian Majnun, ayah Majnun kembali membawanya kerumah. Layla menyembunyikan penderitaannya dari orang lain, ia hanya merenung saat malam hari dengan kerindungan kepada kekasihnya. Yang ia dapatkan dari kerinduannya adalah syair-syair buatan oleh Majnun yang dilantunkan dari mulut orang-orang.

Dalam pengembaraan Majnun, ia bertemu dengan seorang pangeran bernama Naufal. Naufal yang melihat Majnun merasa iba, ia berkeinginan untuk menolong Majnun. Naufal mulai membujuk Majnun dengan syair-syair dan menjanjikan Layla untuk Majnun. Bersama dengan Naufal, Majnun sembuh dari kegilaannya dan tidak pantas dipanggil Majnun. Hingga Majnun mulai menagih janji Naufal dengan senandungnya yang berisi ancaman jika Naufal tidak segera menepati janjinya, ia akan mengakhiri hidupnya yang membuat Naufal segera melakukan sesuatu untuk memenuhi janjinya. Naufal memutuskan untuk berperang dengan suku Layla agar mendapatkan Layla untuk Majnun. Namun, Majnun meminta perang untuk dihentikan, namun tidak ada yang mendengarnya, Majnun merasa bersalah karena menyebabkan perang. Naufal kalah dalam perang, Majnun marah kepada Naufal, ia tidak ingin Naufal menolongnya dengan cara berperang. Naufal memutuskan untuk melakukan perang kedua yang dimenangkan olehnya. Sangat disayangkan, walaupun dalam keadaan kalah, ayah Layla tetap tidak memberikan Layla untuk Majnun. Naufalpun tidak bisa memaksa, Majnun semakin marah, ia memutuskan untuk pergi dari Naufal dan melanjutkan pengembaraan.

Majnun memiliki kasih sayang yang besar terhadap makhluk Tuan, saat pengembaraannya, ia menolong seekor rusa yang akan dibunuh oleh pemburu. Dalam perjalanannya juga bertemu dengan seorang janda tua yang merantai dan memukuli seorang pria. Majnun dengan kegilaannya menawarkan diri untuk menggantikan pria yang dirantai dan disetujui oleh janda tua. Baginya, pukulan itu bagaikan belaian dari kekasihnya. Saat berhenti disuatu tempat, ia melihat Layla. Dengan perasaan menggebu, ia melepas rantai janda tua entah dengan kekuatan apa ia bisa melepasnya.

Layla menikah dengan Ibn Salam, pernikahan mereka tidak diketahui oleh Majnun. Walaupun sudah menikah, Layla sama sekali tidak mencintai suaminya, bahkan suaminya tidak bisa menjamah Layla. Pada suatu malam, seseorang berjubah hitam datang kepada Majnun dan menyampaikan nasehat serta berita pernikahan Layla. Majnun begitu sedih mengetahui kabar tersebut. Ayah Majnun yang semakin tua tetap mencari Majnun, tibalah pertemuan terakhir antara Majnun dan ayahnya. Ayahnya kembali membujuknya, banyak nasehat terlontar, namun Majnun menolaknya. Ayahnya pulang dengan kecewa, setelah pertemuan itu ayah Majnun meninggal. Sepeninggalan ayahnya, ia mendatangi makam ayahnya dengan penuh penyesalan dan kesedihan.

Saat kembali ke gurun, Majnun berteman dengan hewan-hewan, Majnun bagaikan raja, hewan-hewan buas menjadi jinak bersamanya. Majnun hidup sendirian, seperti seorang pertapa. Pada suatu hari datanglah pria tua membawakan surat berisi kerinduan dari Layla untuk Majnun. Majnun memberikan balasan surat kepada Layla.. majnun juga sempat ditemui oleh pamannya, Salim. Majnun bahkan tidak mengenali pamannya saat ditemui. Salim menceritakan keadaan ibunya. Hingga hatinya tersentuh, bagaimana bisa ia tidak pernah memikirkan ibunya selama ini? Majnun meminta untuk membawakan ibunya kepadanya. Saat ibunya datang, ibunya ingin Majnun kembali, tetapi ditolak oleh Majnun. Setelah pertemuan itu, ibu Majnun meniggal dunia.

Di sisi lain, Layla masih mencintai Majnun. Ibn salam mencintai Layla hingga akhir hayatnya, tubuh Ibn Salam melemah dan wafat. Kerinduannya terhadap Majnun tidak kunjung sembuh. Menyimpan kerinduan begitu lama, hingga ia kembali kepangkuan Tuhan dengan rindu yang tak terbalaskan. Majnun yang mengetahui kepergian Layla, Majnun berlari menuju makam Layla, hatinya tersayat melihat makam Layla. Berhari-hari makam Layla menjadi tujuan Majnun, tubuhnya semakin lemah. Terakhir kalinya, ia membawa tubuhnya ke makam Layla, Majnun menyusul kekasihnya di alam kabadian.

Begitulah kisah cinta Layla dan Majnun yang berujung tragis. Rasa cinta Layla dan Majnun begitu abadi walaupun kerinduan terus mengantui keduanya saat di dunia. Cinta Layla dan Majnun begitu besar, tak ada yang bisa menggantikan. Perjalanan cinta dalam alegori cinta sufi kepada tuhan membawanya kepada cinta yang abadi.

 

Data Buku

Judul Buku: Layla Majnun

Penulis: Syaikh Nizami

Penerjemah: Gilang Bagus Panji Asmara

Penerbit: CV. Diomedia

Tahun Terbit: 2021

Tebal: 242 halaman

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-623-7880-80-6

 

*Petik Cinta Mawarni, Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *