Suluk Gathak Gathuk Penggugah Jiwa yang Lelah dan Ngantuk
Rp 100.000,00 Original price was: Rp 100.000,00.Rp 90.000,00Current price is: Rp 90.000,00.
Suluk Gathak Gathuk
Penggugah Jiwa yang Lelah dan Ngantuk
Pengantar: Elizabeth D. Inandiak
Ali Azhar
Setelah sekian lama singgah di Panegaran, menimba ilmu di bawah payung kasih sayang Ki Kawiswara; sesepuh bijak yang menjadi kompas bagi jiwanya, Raden Jayengresmi akhirnya menerima titah untuk menyempurnakan pamahaman tentang hakikat hidup. Ia diutus mencari guru di lereng Gunung Slamet, sosok yang konon mampu mengijazahkan ilmu kasampurnan. Bersama dua pengiring setianya, Gathak dan Gathuk, dimulailah episode pengembaraan spiritual yang mendebarkan.
Dalam Serat Centhini jilid pertama, perjalanan mereka hanya terekam dalam satu bait tembang Asmaradana yang teramat ringkas, seringkas ungkapan cinta.
Iya kênang sun idèni
muga kinuwatna ing Hyang
rahadyan sampun lumèngsèr
linggar sangking Panêgaran
lajêng ing lampahira
Gathak Gathuk tansèng pungkur
wus ngancik sukuning arga
Bait itu mengunci kisah; seolah-olah mereka berangkat dari Panegaran, lalu tiba-tiba saja telah sampai di kaki gunung.
Mungkin, di balik ringkasnya bait tersebut, tersimpan jejak-jejak pengalaman luar biasa yang sengaja disamarkan. Melalui kreasi ini, penulis mencoba menyibak tirai tersebut; bukan sekadar merayakan sukses, melainkan meresapi setiap jengkal proses.
Perjalanan mereka adalah suluk yang penting untuk dikenang. Mereka menjumpai tamsil alam yang silih berganti; dari yang paling getir hingga yang terindah, dari yang menawarkan kenyamanan hingga yang menghadapkan mereka pada marabahaya, dari hal-hal yang logis hingga yang paling ganjil. Di tengah lika-liku perjalanan, humor Gathak dan Gathuk selalu hadir bagai pelicin yang tak pernah kering. Tingkah polah mereka selalu melancarkan langkah yang tersendat oleh marah dan lelah.
Begitu sampai di lereng Gunung Slamet, mereka disambut oleh sebuah pesantren yang eloknya laksana kembang yang sedang merekah, selaras dengan nama pengasuhnya: Syekh Sekardalima. Di tempat yang benderang oleh keindahan itulah, Raden Jayengresmi mulai dialiri ilmu kasampurnan hanya dalam waktu satu malam.
Namun, di saat yang sama, Gathak dan Gathuk justru sibuk dengan agenda besar yang tak terduga. Mereka melek semalam suntuk, melawan kantuk dengan cara-cara konyol, hingga saling usil demi memastikan rencana mereka tak berantakan.
Esoknya, fajar menyingkap tabir rahasia yang jauh lebih mencengangkan, menyeret Jayengresmi, Gathak dan Gathuk ke dalam pusaran takdir yang tak terduga.
***
