Memoar

Ilmu adalah Obat

Oleh Siti Nuzul

Dulu saya gagu kalau diajak bicara oleh siapa saja. Antara bingung dan tidak tahu mengungkapkan kebenaran atau mana yang benar. Aku tidak percaya diri. Sampai-sampai aku lupa tempat berpijak. Luar  biasanya padat isi otak yang bergulung-gulung  di situ-situ saja,  jalan buntu dalam hidupku.  Stressor.

Saya hobby menulis, tetapi saya nggak tahu penulisan yang benar. Tahun 2016 di beranda teman FB saya menceritakan ingin menuliskan kembali buku-buku karangan bapaknya yang almarhum dengan meng-tag  Penerbit buku Diomedia. Aku iseng-iseng buka buka profil Facebook Penerbit Diomedia. Aku mencoba add dan aku diterima. Postingan beliau menarik bagiku. Begitu yakin aku akan menemukan feel di sini.

Beliau bercerita tentang memoar. Sepenggal kisah atau kenangan tentang masa lalu yang riil.  Beliau mengajak  untuk bergabung di grup komunitas memoar, saya masuk, ternyata ada beberapa grup serupa, saya coba, mengikuti dan masuk ke semua  grup. Berusaha memahami satu persatu grup yang beliau tawarkan. Luar biasa ketua grup seorang yang energik, mengayomi, mampu memasuki semua lapisan status sosial, dan masuk di segala usia, bahkan beliau juga masuk di kalangan anak-anak yang kurang beruntung,  difabel, dan kekurangan yang lain. Mereka yang ingin menuliskan kembali kisahnya. Cara beliau merangkul banyak orang dengan bermacam status sosial sangat luar biasa.

Dari semua grup komunitas, hatiku terpaut pada satu komunitas. Komunitas menulis memoar Indonesia. Di sini sungguh luar biasa, anggota grup terdiri dari semua lapisan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga biasa, anak sekolah, mahasiswa, dan berbagai macam disiplin ilmu ada disini. Professor, dokter, psikolog ada di sini. Dari yang tidak tahu menulis, belajar selangkah demi selangkah sepertiku, sampai penulis andal ada di sini. Luar biasa. Inilah kesempatanku belajar.

Ternyata benar kata pepatah Minang, “Bak cando mamandian kudo, ketua grup benar-benar turun merunut satu persatu benang kusut. Beliau sanggup terjun langsung memulai dengan proses pengejaan. Aku secara pribadi merasa salut dan terpacu untuk membenahi diri. Bersamanya aku memulai tanpa merasa malu. Segala rasa rendah diri yang ada di kepala seperti, “Ah sudah tua. Ah sudahlah, ah apalah aku. No, beliau adalah orang yang membangkitkan semangatku untuk memulai menulis yang baik dan  benar  walau sampai sekarang aku belum begitu lancar dalam penempatan ejaan dan tanda baca yang benar.  Menepatkan titik koma,  aku bisa mengerti  makna yang terkandung dari tulisanku sendiri. Ini ternyata sangat berguna agar orang lain yang membacanya tidak terengah-engah, karena kepanjangan penulisannya, tanda tanda titik dan koma yang jelas. Dan aku mulai tidak lagi menyingkatkan  kata-kata atau tidak menempatkan tanda titik yang banyak tak beraturan. Kalau ingat ini aku malu sekali. Mas Dio mungkin marah, kesal, dan mugkin tertawa guling-guling membaca tulisanku waktu itu.

Mas Dio sampai bilang,

“Gimana membacanya ini Bu, sesak napas saya, titik ini apa Bu? kok banyak sekali, pusing saya.”

Masih terngiang kata kata Mas Dio. Aku berasumsi tentang menulis seperti di aplikasi WhatsApp, Facebook dan lain lain. Menulis suka suka. Aku yang tidak mengerti tentang penulisan bingung juga. Aku tidak tahu, apanya yang salah ya? Begitulah kesan pertama yang saya dapatkan dari Founder KMM, Owner Penerbit Diomedia dan Direktur Program Akademi Menulis Buku Pengembangan Diri. Beliau yang mengajarkan dengan sabar  dari nol besar sampai aku bisa sedikit-sedikit. Sampai hari inipun aku masih belajar dan beliau tak lelah memberikan ilmunya. Barakallah.

Lalu di grup, aku merasa “kecil”, karena di grup ini ada “orang-orang besar” yang membuat aku sungkan nimbrung setiap kali beliau beliau itu berbagi cerita tentang berbagai hal, karena mereka kalau dilihat lihat dari cara menuliskan, cara mengungkapkan mereka bukan orang sembarangan dan tidak kaleng -kaleng ilmunya. Mereka ada yang sudah keliling dunia, aku tahu karena mereka bercerita tentang itu. Sebut saja di antaranya,  ada Pak. Iswandi Anas Chaniago, Pak Anas Rachman, Pak Sugeng Hartono, Ki Asmoro  Jiwo atau Pak Kundarto. Kemduian ada Bu Enny  Dyah Ratnawati, Retty N Hakim, Ningrum, Min Adadiyah, Purwandaru, Farah Rahmat, dan banyak lagi ada ratusan.  Ah siapalah diri ini.

Di grup ini ternyata berkat kepiawaiaan ketua grup, entah memang ilmu pengetahuan dan kemampuan adab yang baik, sehingga ngobrol di grup ini begitu cair, bahkan aku lupa tentang “siapalah aku”. Saling menghargai, saling berbagi, dari berbagai kultur masyarakat gabung disini dari Sabang sampai Merauke. Begitu luwesnya mengeluarkan pendapat, bisa secair cairnya ngobrol tentang apa saja. Terlepas dari urusan politik  dan agama.  Karena terlihat d isini kita adalah satu kesatuan yang sama sama berjuang untuk kebersamaan, benar-benar kebersamaan. Keluarga besar. Sampai sekarang,  anggota grup ada yang sudah sepuh juga lho, umur di atas 80an tapi semangat nya luar biasa, ini yang membuatku salut dan terus belajar. Asal kalian tahu beberapa di antara anggota grup bahkan ada yang sudah meninggal dunia, karena memang sudah tua. Aku semakin terpacu.

Dia adalah  Ngadiyo, pendiri grup Komunitas Menulis Memoar Indonesia. Beliau adalah orang yang merangkul dan mengayomi anggota di grup ini. Masih muda dan mampu masuk ke semua umur sebagai leader, sebagai teman. Salut.

Aku adalah orang beruntung dapat masuk kedalam grup bersahaja ini, tak terasa dari 2017 aku  bergabung sampai sekarang 2023, 6 tahun sudah. Berkat bimbingan beliau di komunitas memoar ini, perlahan aku mulai menulis  dengan baik, sedikit demi sedikit, memulai dari nol, lalu berangsur, menulis ejaan yang benar sesuai KBBI, tidak pernah benar seratus persen, namun aku tetap terus belajar dan belajar, sampai aku bisa mengungkapkan kata yang bisa dimaknai oleh orang lain dengan baik. Sampai hari ini aku sudah punya beberapa buku  antologi terbitan Diomedia, lewat beberapa kali revisi.  Beliau guru terbaik saya”.

Fokus belajar di menulis memoar,  aku ingin menginspirasi orang lain tentang perjalanan hidupku.  Ada yang ingin aku ungkapkan tentang rahasia hidupku . Perjalanan hidup tidak membuat aku bisa melenggang dengan indahnya, namun penuh dengan liku-liku yang terjal, kadang naik kadang turun. Lalu bertemu dengan orang yang salah. Hantaman demi hantaman dalam perjalanan hidup, membuat otakku kaku, serasa mati dan hampir meyurutkan langkahku.  Pernah kehilangan semangat hidup dan aku yakin aku  tak sendiri mengalaminya.

Inilah awal kagum saya pada seorang motivator hidup

Berawal dari berteman di FB lalu tertarik dan masuk di grup komunitas menulis memoar.  Dengan judul memoar  yang ditentukan, memudahkan  aku untuk mulai menulis mengeluarkan satu persatu jenuh yang tersangkut   di otakku. Aku coba mengurai satu persatu, lalu aku belajar memahami sampai pada puncak mengikhlaskan apa yang sudah terjadi. Lalu aku mulai melangkahkan kaki dan kembali ke diri sendiri memahami dan memaknai hidup. Betapa berartinya hidup bagiku dan bermanfaatnya aku bagi orang lain sehingga aku mencoba melawan aura negatif dan rasa pesimistis. Betapa bermaknanya apa yang sudah saya tuliskan. Mengispirasi orang lain. Benar kata salah seorang teman digrup KMM, semakin ditulis semakin teringat kembali, semakin terasa teiris-iris batin ini. Uraian kata-kata yang tak sanggup kuucapkan namun mampu kutuliskan kembali. Menginspirasi orang lain menjadi bagian lain yang mampu kupersembahkan pada pembaca.

Lalu, apakah aku menjadi orang yang hebat? Tidak. Aku memulai memaknai hidup yang sebenarnya. Aku adalah orang yang terobati, melalui bimbingan seorang Mas Ngadiyo. Aku menulis dan merangkaikan kata-kata hingga bermakna bagi orang lain. Lalu bagian yang teriris berangsur memaknai sendiri, kuambil hikmah dari semua kejadian. Aku mengembalikan semuanya ke diri sendiri. Sebuah kata “belajar ikhlas”, menjadikan gejolak jiwa menjadi tenang. Yang punya diri adalah aku, maka aku harus belajar menguasai diriku sendiri, tidak menggantungkan dan tidak menyalahkan orang lain.

Hidup jadi penuh makna

Aku pernah beranggapan aku adalah orang yang malang. Aku dikhianati suami  karena aku tak bisa memberinya keturunan, lalu aku tak bisa mengambil harta yang menjadi hakku, lalu harta bersama  tersebut dimanipulasi dengan membuat catatan kecil,  dianggap  barang itu sejak dulu sudah terjual. Karena hidup di kampung orang,  aku tak berdaya, aku pulang ke kampung halaman dengan membawa luka dan badan sebatang. Aku hampir gila 2 tahun aku merasa tak menginjakkan kaki dibumi ini, badanku rasa melayang, aku takut bertemu dengan orang orang. Aku  menarik diri dari lingkunganku. Kalau pun aku terpaksa harus keluar rumah untuk bekerja  atau pergi menempuh perjalanan jauh, aku takut dengan  orang orang, ciut nyali.

Aku juga pernah  takut pada gedung gedung tinggi. “Aku merasa keciiiiil”. Menyadari hal ini, aku  berkonsultasi kejiwaan. Karena tidak ada psikolog di kotaku, aku berobat ke psikiater dan dokter jiwa di rumah sakit jiwa Jambi. Aku melakukannya diam-diam. Ketika ada yang melihat dan mengenal aku ada di sana, gosip sampai kekampungku, aku  dikatakan gila. Dulu belum se-modern ini pengetahuan orang (Jambi) terutama tentang fungsi Rumah Sakit Jiwa. Aku merasa memang setengah gila, sulitnya menerima kenyataan hidup. Lalu oleh teman-teman aku disaran kan pindah tempat kerja, aku pulang ke kampung halaman.

Pengalaman pahit yang kedua, karena tak bisa memiliki keturunan (padahal sebelum menikah aku sudah mengatakan bahwa aku adalah wanita mandul permanen dengan menunjukan surat keterangan bukti konsul ke obgyn). Aku dianggap manusia tak berguna oleh suamiku sendiri. Aku dimanfaatkan, aku dianggap  babu pengasuh anak-anaknya yang bisa dibayar. Tanpa aku bisa berharap apa-apa, apalagi harta bersama.  Semua harta benda ditumpuk untuk anak-anaknya atas nama anaknya (dengan alasan uangnya dari hasil pensiunan almarhumah istrinya). Sakit? Lebih sakit lagi. Kuakui aku lemah selalu dimanfaatkan orang lain. Kalau dirunut ke belakang setiap keputusan yang aku ambil,  aku konsekuen dengan janji.  Aku sadar diri bahwa anaknya lah tujuan  masa depan kami berumah tangga. Bukannya aku tak rela, aku rela dan ikhlas. tapi karena aku merasa dibohongi, mereka tidak jujur denganku. Mereka melakukan  itu di belakangku dan diam diam.  Yang namanya bangkai, kalau ditutupi daun keladi, lama-lama akan tercium juga busuknya. Pengorbananku dianggap tak ada artinya. Itu masalah besarnya.

Banyaklah nyinyiran di sekelilingku, ”Kalau aku jadi kamu aku tak mau begitu, begini dan begitu.” Bla, bla, bla, tentang kehidupan yang tidak adil. Tentang sang mantan yang pada akhir runtuhnya rumah tangga yang menuntut harta gono gini, padahal ia tak sepeserpun memberiku uang nafkah lahir selama pernikahan.  Dan segala macam tetek bengek. Aku ambil jalan  damai semua dibagi dua yang penting masa depan tak bermasalah lagi. Harta bisa dicari, inshaallah rezekiku selalu dimudahkan oleh Allah subhanahuwata’ala. Karena tak berhasil dalam menyatukan visi dan misi masa depan berdua, aku ambil jalan pisah. Nah ini malah tambah heboh di masyarakat. Bagi mereka yang tidak tahu masalahnya, aku dianggap hobby kawin cerai. Di mana mana boom cerita tentang aku yang menggugat cerai suami. Sehingga  aku dihalang-halangi dengan proses yang lama. Dua tahun lebih proses cerai baru kelar. Status baru membuat dunia semakin terbalik rasanya, di usia matang, aku menjadi lebih sensitif, di mana-mana orang menggossip tentang aku, dari yang dulunya berteman menjadi  tidak mau lagi, pintu-pintu terbuka biasanya, sekarang tertutup untukku. Belum lagi beban batin di tempat kerja, meski banyak yang support bagi mereka yang tahu cerita, tak sedikit yang membenciku karena diprovokatori dari pihak keluarga mantan. Luar biasa kan?

Menjadi janda

Di usia matang menjadi janda bukan hal yang mudah kujalan. Karena tak semua orang mau berteman dengan janda. Apa lagi tetangga. Aku pilih menyendiri. Kalau dipikir wajahku tidak mendukung, cantik tidak, seadanya saja, tapi aku punya pekerjaan tetap, mungkin ini salah satu daya tarikku. Karena hidup butuh biaya. He he, he. Hidup menjanda teramat berat kali ini. Banyak godaan karena kehidupan secara finansial aku termasuk mapan, punya rumah, punya kendaraan pribadi,  dan punya pekerjaan tetap. Ini ujian.

Ada bujangan yang mau denganku bahkan termasuk nekat dan berusaha nempel padaku. Sudah lama kenal dan satu kantor pula. Aku ingin tetap menganggapnya adik, karena usianya yang jauh lebih muda dari aku (oediphus komplek), beliau ganteng, baik dan ramah. Adabnya baik, sangat disayangkan kalau menikahi aku, aku perlahan dengan nada persahabatan aku menghindari dan aku membimbingnya  agar ia mendapatkan orang yang tepat karena ia juga sebatang kara, tidak punya saudara (beliau anak tunggal) dari seorang  ibu yang cacat (tuna wicara), sudah almarhumah.  Sambil bergurau saya katakan, cari istri yang bisa memperbanyak keturunan. Ha, ha, ha.

Akhirnya aku bertemu dengan duda beranak lagi (istrinya meninggal dunia karena Kanker.) Sekali ini 3 anak, aku tak tahu mengapa dari awal-awal anak anaknya sudah nempel akrab denganku, dari baru ketemu saja mereka sudah memanggilku mama. Kecuali anak keduanya, setelah dijalani merasa nyaman denganku, tiga tahun kemudian, katanya dengan memberanikan diri, sampai terloncat dari tempat ia berdiri, lalu memanggilku ”mama”. Aku berbahagia dong, karna tak ada paksaan bagiku.

Mau tidak mau ada yang harus aku ikhlaskan. Karena menjanda tak bagus bagiku. Aku menerima lamarannya. Karena awalnya baik aku berharap sampai akhir nanti akan baik baik saja dan aku  meninggal dalam keadaan baik baik juga.  Tidak meninggalkan “masalah lagi” seperti keterbukaan masalah keuangan dan harta dalam keluarga  yang membuatku berat menuju akhirat. Aku berharap anak-anak ini adalah jembatanku menuju syurga. Inshaallah.

Berkat guruku yang luar biasa, menuliskan kembali kenangan itu, menjadi mudah bagiku dan bisa di mengerti pembacanya. Aku yakin para pembaca  dan senasibku  bisa ambil kebijakan dari kejadian kejadian terhadap diri ku.

Semua kejadian  itu aku tuliskan di catatan memoarku . Terima kasih banyak kepada Mas Ngadiyo. Nama yang sederhana tapi bermakna luar biasa, founder komunitas menulis memoar Indonesia. Barakallah fii ilmi.

***

Siti Nuzul, lahir pada tanggal 2 April 1970. Belajar adalah proses sepanjang hidup. Buku adalah jendela ilmu, maka banyak banyaklah membaca. Di abad ini, ilmu penegtahuan bisa didapat dari mana saja selain dari buku, sebut saja sosial media salah satunya. Melalui perjalanan waktu, aku mendapatkan ilmu yang berharga tentang menulis. Dari seorang yang bersahaja, aku memulai proses belajar ini. Sehingga aku bisa menuliskan kembali  pengalaman-pengalaman hidup yang menginspirasi pembaca, tentang tulisanku selanjutnya. Kali ini aku memanfaatkan pelajaran dari  ilmu baruku tentang  menulis. Aku memilih buku sebagai media, karena yang tertulis akan menjadi Abadi. Barakallah.

Back to list

3 thoughts on “Ilmu adalah Obat

  1. dobry sklep says:

    Wow, marvelous weblog layout! How lengthy have you been running
    a blog for? you make blogging look easy. The overall look
    of your website is great, let alone the content material! You can see
    similar here sklep online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *