Cerpen

Kamar Jenazah

Oleh: Ana Rahmawati Ningsih

 

Sebuah kabar yang aku terima setengah jam yang lalu, memaksaku untuk melangkahkan kaki ke dalam sebuah kamar. Kamar yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kamar jenazah.

Aku terdiam, mematung. Aku melihat sesosok tubuh yang terbujur kaku. Tubuh yang tertutup oleh kain putih. Aku melihat sosok itu dengan nanar. Kedua mata yang menahan amarah. Beberapa kali dering telepon berbunyi tanpa henti. Suara itu membuatku bertambah marah. Mengapa mereka berisik sekali?

Aku mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas kecilku dan meremas kuat-kuat. Ingin sekali kubanting, tetapi aku menahannya. Seorang petugas kamar jenazah membuatku terkesiap setelah menepuk bahuku beberapa kali. Dia menawariku untuk membersihkan tubuh jenazah itu atau tidak.

“Terserah!” kataku sembari melotot ke arah petugas itu.

Petugas itu menatapku dengan tatapan aneh. Namun, aku tak memedulikannya. Dia berlalu pergi, meninggalkanku dengan sesosok jenazah itu.

Entahlah, rasa amarah yang berkecamuk tak kunjung reda. Dering-dering telepon mulai terdengar kembali. Tapi, aku tak mengangkat maupun membalas semua pesan yang masuk.

Tak selang beberapa lama, suara-suara itu memenuhi kepalaku. Suara teriakan yang memanggil namaku berulang kali. Semakin lama, suara-suara itu benar-benar menggangguku.

“Diam!” teriakku seraya menutup kedua telingaku.

“Hei, siapa kalian? Pergi! Enyah dari kepalaku!” Aku berteriak seperti orang yang tidak waras.

Terdengar derit pintu kamar jenazah terbuka. Beberapa orang masuk dan menenangkanku.

“Tidak usah menggangguku! Pergi kalian semua!” teriakku.

Aku berusaha melepas genggaman mereka. Namun, cengkeraman tangan mereka begitu kuat. Aku menoleh. Sesosok jubah hitam menatapku tajam. Tak hanya satu, ada tiga makhluk lain. Mereka menggenggam erat kedua tangan dan kakiku.

“S-S-Siapa kalian?” tanyaku.

Tubuhku bergetar hebat. Aku sangat ketakutan. Beberapa pertanyaan menyeruak dalam benakku. Kenapa aku didatangi oleh makhluk-makluk itu?

“Anak Muda, kau tahu siapa jenazah yang ada di hadapanmu itu?” tanya sesosok jubah hitam dengan suara parau.

“I-I-Iya. Ayahku,” ucapku tanpa melihat makhluk itu.

“Anak durhaka!” teriak salah satu makhluk itu seraya mencengkeram erat rambut kepalaku.

“Apa katamu? Anak durhaka? Siapa? Aku?” tanyaku sambil memberanikan diri menatap makhluk itu.

“Siapa lagi? Tentu saja kau, Anak Muda!” katanya. Aku merasakan cengkeraman pada rambut kepalaku begitu erat.

Kepalaku terasa sangat sakit. Tarikan pada rambut kepalaku semakin kencang. Aku tak sanggup menahannya.

“Hentikan!” Itu kata terakhir yang aku ucapkan. Aku menyerah. Tubuhku terasa lemas. Pandanganku agak kabur. Remang-remang. Sesuatu dari dalam tubuhku mereka tarik dengan kuat. Aku melihat diriku melayang, meninggalkan tubuhku yang tergeletak pada lantai kamar jenazah.

Apakah ini akhir hidupku?

***

Suara kokok ayam membangunkanku. Aku menggaruk beberapa bagian tubuhku yang terasa gatal.

“Di mana ini?” tanyaku keheranan.

Aku melihat sekeliling. Aku seperti mengenal tempat itu. Sejenak aku berpikir. Aku berusaha mengingat tempat apa itu. Ranjang kayu jati yang kokoh. Sebuah lemari ukir. Rak besi yang berisi beberapa buku.

“Tunggu! Bukankah ini rumah ayah?” gumamku seraya terus mengingat.

Aku turun dari tempat tidur dan meraba beberapa benda yang terdapat dalam ruangan itu. Benar, benda-benda itu kepunyaanku. Tapi, aku sudah tidak menempati rumah itu sangat lama.

Suara tangis bayi membuatku terkesiap. Suara itu terdengar dari luar kamar. Aku membuka pintu kamar perlahan. Terlihat perempuan muda sedang menggendong bayi. Beberapa kali perempuan itu membelai halus punggung bayi dan mendendangkan sebuah lagu. Aku mengingat betul lagu yang sedang dia dendangkan. Lagu itu adalah lagu kesukaanku.

“I-I-Ibu?” Aku mendekati perempuan itu untuk meyakinkan bahwa dia benar ibuku.

“Anakku yang pintar. Jangan menangis lagi ya, Nak.”

Suara itu. Benar, aku mengenalnya. Suara ibu.

Pintu terbuka. Sesosok pria masuk. Pria itu tersenyum. Dia tampak bahagia seraya memberikan sebuah amplop putih kepada ibu.

“Ayah?” Kedua kakiku gemetar. Aku melihat sosok itu. Sosok ayah. Tak ada kerutan pada wajahnya. Ayah nampak muda. Badannya juga masih gagah.

“Ini untuk Hadiyata,” jelas ayah seraya mengelus kepala bayi itu.

Ibu menerimanya dengan isak tangis. “Dari mana kau mendapatkan uang ini, Mas?”

“Aku menjual motorku.”

“Tapi, ….” Tangan ibu gemetar. Wajahnya sayu. Terlihat kesedihan yang begitu mendalam.

“Tak apa. Asalkan Hadiyata segera dioperasi. Lihat, benjolan pada kedua kakinya semakin lama semakin membesar. Aku akan melakukan apa pun agar dia dapat berjalan nantinya. Aku berharap dia kan menjadi seorang pria yang kuat dan sehat. Aku tak sanggup jika dia tak bisa berjalan. Aku akan sangat berdosa.”

“Ayah!” teriakku. Aku bersimpuh pada kedua kaki ayahku. Aku menyesal selalu membantah apa pun perkataan dari ayah. Aku merasa aku yang paling benar. Dan ayahku yang paling salah.

“Maafkan aku, Ayah!” Aku berusaha memegang kedua kaki ayahku. Namun, kedua tanganku tak bisa menyentuhnya.

“Kenapa aku tak bisa menyentuhnya? A-A-Aku tak bisa ….” Sebelum aku habis berkata-kata, sesosok jubah hitam mendatangiku. Dia mencengkeram rambut kepalaku.

“Sakit!” Aku berteriak seraya melepaskan cengkeraman itu. Tapi, aku selalu gagal.

“Hei, Anak Durhaka. Kau sudah melihat perjuangan ayahmu, ‘kan? Kau puas!” Cengkeraman jubah hitam menyeretku menjauh dari rumah itu. Kepalaku terasa berat. Sesosok itu mengabaikanku ketika teriakan demi teriakan, aku lontarkan. Lagi-lagi, pandanganku mulai kabur. Semua menghitam dan gelap.

***

Suara riuh anak-anak menyadarkanku. Aku terbangun di tengah tanah lapang. Anak-anak berseragam biru berlarian. Saling mengejar satu sama lain. Kedua mataku tidak dapat melihat dengan jelas. Kilau sinar matahari menghalangi pandanganku.

“Hadiyata, kemarilah!”

Ada seseorang yang memanggilku. Setengah sempoyongan aku menghampiri pria itu.

“Ayah?” Kuperhatikan secara saksama. Benar, dia ayahku.

Seorang anak hampir menabrakku. Dia melewati dan mendekap ayah dengan erat. Mereka saling berpelukan. Anak itu tertawa riang. Begitu juga ayahku. Rona kebahagiaan terpancar dari dari roman mereka. Ya, aku sudah tak bisa merasakan apa yang anak kecil itu rasakan sejak kematian ibu. Aku selalu menyalahkan ayah atas kematian orang yang sangat kucintai. Andai waktu itu ayah tidak terlambat membawa ibu ke rumah sakit. Pasti, ibu masih mendampingiku hingga sekarang.

“Ayah, aku akan menjadi anak yang pintar. Aku akan membahagiakan ayah dan ibu kelak ketika aku dewasa nanti.”

Ayah tersenyum dan mencium anak itu. Lagi, tawa riang mereka tak pernah berhenti.

Aku memang berkali-kali menjanjikan ucapan-ucapan itu pada ayah. Tapi semua itu hanyalah janji. Janji yang tak bisa kutepati. Menyesal? Ya, aku sangat menyesal. Aku hanya bisa memandang mereka. Berharap bisa kembali ke masa itu dan memperbaiki semua. Namun, masa lalu tak bisa diulangi. Masa lalu adalah masa yang hanya bisa dikenang.

Sosok-sosok itu muncul kembali. Lengkap. Empat sosok. Mereka mendekat padaku. Kedua tangan dan kakiku dicengkeram erat. Aku pasrah. Tak ada yang bisa kulakukan.

***

Aku terhempas. Seluruh tubuhku terasa sangat sakit. Tulang-tulangku seperti terlepas. Aku berusaha membuka kedua mataku. Kudapati tubuhku terbaring pada lantai. Lantai kamar jenazah.

 

 

Profil Pengarang:

Ana Rahmawati Ningsih, S.Pd., M.Pd. Ia lahir di Grobogan, 29 Oktober 1982. Sekarang, ia mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Beberapa karya buku antologi memoar dan puisi telah terbit di Penerbit Diomedia. Selain menulis memoar dan puisi, ia merupakan penulis naskah dan sutradara film pendek. Karya-karya film pendek yang sudah tayang, antara lain film pendek fiksi  Iswari dan Jayanti, Sumpil, dan film pendek dokumenter Merajut Asa di Balik Awan. Penulis dapat dihubungi melalui email [email protected], media sosial fb: Ana Rahmawati Ningsih, ig @anarahma29, dan nomor kontak WhatsApp 081326588071.

 

 

 

Back to list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *