Menelusuri Wajah Pendidikan Asia Tenggara: Potret Pendidikan Malaysia – Singapura
Rp 79.000,00 Original price was: Rp 79.000,00.Rp 71.100,00Current price is: Rp 71.100,00.
Menelusuri Wajah Pendidikan Asia Tenggara: Potret Pendidikan Malaysia – Singapura
Baeti Rohman & Dito Alif Pratama
Singapura terkenal sebagai salah satu negara terbersih di dunia. Larangan-larangan yang diterapkan, seperti larangan membuang sampah sembarangan atau makan di transportasi umum, memiliki tujuan yang jelas: menjaga kebersihan dan ketertiban. Hal ini sangat sejalan dengan ajaran Islam, yang menekankan pentingnya thaharah (kebersihan) dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman kami melihat orang-orang Singapura dengan disiplin menjaga kebersihan, mulai dari membuang sampah di tempatnya hingga tidak merokok di area terlarang, adalah cermin dari nilai-nilai yang kami pegang sebagai santri. Kebersihan adalah sebagian dari iman; ini adalah nilai penting yang perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai santri, kita tentu diajarkan untuk menghargai norma dan aturan yang berlaku. Konsep ini juga berlaku di Singapura. Walaupun larangan-larangan tersebut kadang terasa membatasi, penting bagi kita untuk memahami konteks di baliknya. Sebuah laporan dari Singapore Department of Statistics menunjukkan bahwa 80% penduduk Singapura merasa bahwa larangan-larangan tersebut memberikan dampak positif pada kualitas hidup mereka (Department of Statistics Singapore, 2022). Ini artinya, meskipun ada banyak larangan, masyarakat di sana merasakan manfaat yang nyata dari kepatuhan terhadap aturan tersebut.
Refleksi ini mengajak santri untuk melihat aturan sebagai jembatan menuju kebaikan dan harmoni sosial. Memahami nilai positif dari setiap aturan yang ada bisa membantu kami untuk menginternalisasi etos kepatuhan dan penghormatan terhadap peraturan, baik di negara asal maupun di negara lain. Singapura merupakan contoh konkret dari sebuah negara yang mampu membangun peradaban yang maju dan sejahtera. Dalam catatan sejarah, Islam pertama kali masuk ke wilayah ini melalui perdagangan pada abad ke-8, yang menunjukkan interaksi yang sudah terjalin antara budaya lokal dan Islam (Kompas.com, 2022).
Keberadaan komunitas Muslim yang beragam memberikan kontribusi terhadap perkembangan budaya dan peradaban Singapura yang multikultural. Dengan berbagai larangan yang ada, Singapura menunjukkan bahwa aturan dan disiplin bukan hanya sekadar pembatas, tetapi juga fondasi penting untuk menciptakan peradaban yang baik. Santri Indonesia harus mengambil pelajaran dari sini; bahwa keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari struktur aturan dan disiplin yang diterapkan dalam masyarakat. Meskipun julukan ”Negeri 1001 Larangan” mungkin tampak menakutkan, penting untuk dicatat bahwa banyak larangan tersebut bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, bersih, dan teratur. Data dari Insertlive menunjukkan bahwa Singapura memiliki populasi yang beragam dengan porsi umat Muslim mencapai 15% dari total populasi, menunjukkan bahwa meskipun terdapat banyak larangan, keberagaman dan toleransi tetap dijunjung tinggi (Insertlive, 2022). Bagi santri, refleksi ini merupakan pengingat untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan moral yang luhur. Menghargai aturan bukan berarti kehilangan identitas, melainkan justru memperkuat komitmen kami untuk berkontribusi positif terhadap masyarakat.

Relawan Sobat Mengajar Indonesia
Sekapur Sirih: Mus’ad Al-Habib
Kata Pengantar: Ali Santosa
Sobat Mengajar
Memoar Pendidikan Inspiratif dari Penggerak Pendidikan di Wilayah Terdalam