Serupa Dandelion
Rp 76.000,00 Original price was: Rp 76.000,00.Rp 66.000,00Current price is: Rp 66.000,00.
Takjub—barangkali itulah kata yang paling mendekati denyut pertama yang hadir saat menelusuri kumpulan puisi Noerlita. Dalam ingatan saya 5-6 tahun silam, Lita adalah sosok mahasiswi berprestasi, jenial dalam lanskap akademik pedagogi biologi, menamatkan studi dengan predikat cum laude, IPK tinggi. Ternyata, di luar lanskap rasional itu, tumbuh dengan subur suatu daya lain yang tak kalah menakjubkan: bakat menulis yang menjelma dalam puisi-puisi yang matang dan berdaya gugah ini.
Bait-baitnya mengalir sebagai hasil olah batin yang bernas berisi—sebuah artikulasi kegelisahan terhadap denyut kehidupan negeri, yang ditransformasikan menjadi gurat-gurat makna yang dalam. Di dalamnya, teranyam spektrum rasa: haru yang lirih, gemas yang hangat, getir yang jujur, hingga bahagia yang mengendap—semuanya berpadu dalam harmoni estetik yang memikat.
Selamat, Lita. Kumpulan ini kembali menegaskan bahwa ada insan-insan yang dianugerahi Illahi kepekaan imaji dan kehalusan narasi—kecakapan unik dalam merangkai kata menjadi ruang jernih kontemplasi.
Muhammad Luthfi Hidayat, Ph.D, Dosen Penasihat Akademik Noerlita, FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta, Program Studi Pendidikan Biologi
Sebagai guru Bahasa Indonesia, buku antalogi puisi “Serupa Dandelion” ini ringan dibaca tapi maknanya relevan dengan kondisi sekarang mengenai cinta, perjuangan, dan keresahan sosial. Bahasa sederhana dikemas diksi yang dekat dengan kehidupan. Saya yakin buku ini tidak hanya layak dibaca, tetapi juga layak dijadikan bahan diskusi di kelas agar siswa bisa belajar memahami makna kehidupan melalui puisi dengan cara yang lebih menyenangkan.
Nindy Kariska, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia, SMPN 19 Kota Surakarta
Aku cuma kenal dan berada di beberapa titik timeline kehidupan Lita, jadi pas baca antologi ini ya berasa menyelami pikiran-pikiran Lita dari biji yg bertumbuh sampe pappus-nya mulai beterbangan, berasa lebih utuh. Meski nebak-nebak, agaknya Lita remaja menemukan dirinya melampaui batas pencarian jati diri remaja. Lita menemukan dirinya marah dengan wakil-wakil korup dan pergulatan idealisme lainnya. Puisi favoritku sepertinya puisi dengan judul “Kejahatan”. Ahh, kejahatan, berasa begitu magis dan personal 😂
Zaini Lubis, Ketua KAMMI Tangerang Selatan 2024-2026
Puisi-puisi di dalam buku ini kerasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. bahasanya yang sederhana, tapi setelah selesai membacanya meninggalkan makna yang cukup mendalam. terimakasih sudah menghadirkan karya yang indah, semoga para pembaca turut merasakan apa yang dituangkan dalam buku ini.
Andini Susanti, Mahasiswi Manajemen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Saya tertarik dengan puisi-puisinya, ada rasa yang kuat yang penuh dengan harapan dan cinta kepada sosok yang selalu ada di hati, yang tidak selalu dapat digapai karena keterbatasan manusia. Saya juga senang sekali ketika melihat sisi dimana Lita berdiri sebagai rakyat yang berani menyampaikan kebenaran melalui karya-karya, tentang kondisi negeri yang didominasi oleh aktor-aktor yang berperan antagonis terhadap rakyat. Puisi-puisi ini sangat menginspirasi bagi pembaca dan membawa perubahan (progresif) bagi negeri tercinta.
Ardiansyah F.B. Lola, SE., M.Si., Kepala Sub Bagian Teknis Penyelenggara Pemilu, Partisipasi dan Hubungan Masyarakat, KPU Kabupaten Rote Ndao
